Lompat ke isi utama
Muhammad Luthfi koordinator pustakabilitas sedang berfoto di antara koleksi buku-buku Pustakabilitas

Buku dan Kegelapan yang Nyata

Ini adalah cerita para pemuda membangun literasi pengetahuan difabilitas di Makassar.

Solider.id, Makassar- “Kalau kata orang, buku adalah jendela dunia. Bagi saya, Kak, buku itu kegelapan yang nyata.”

30 menit sebelum mengucapkan kalimat itu, Yusuf buru-buru memesan jasa ojek daring melalui aplikasi yang ada di telepon genggamnya, setelah mendapati pesan singkat dari Luthfi, tentang tiga orang tamu rahasia dari Yogyakarta.

Tak sampai 10 menit, dia sampai di sekretariat Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan (PerDiK), dia segera menyalami saya, Ajiwan dan Joni yang tiba di PerDik pada Rabu malam (20/11).

Yusuf Pratama berperawakan tambun, rambut cepak dan kulit berwarna sawo matang. Malam itu, pemuda berusia 24 tahun ini membawa tas slempang kecil, mengenakan celana biru dan berkaos abu-abu. Dia salah satu mahasiswa difabel netra total di Universitas Negeri Makassar, jurusan Pendidikan Luar Biasa, fakultas Ilmu Pendidikan.

Di ruang tamu, Firdaus Abdul Rohim dan Muhammad Luthfi, dua kawan difabel low vision lebih dulu menyambut kami di ruang tamu.

“Apa buku yang suka kamu dengarkan?” Tanya Joni, usai berkenalan.

Pertanyaan itu mengarah tepat di mana Yusuf duduk. Bagi seorang netra, untuk mengetahui posisi lawan bicaranya, dia akan mendengar di mana posisi sumber suara berasal. Jika sumber suara terdengar dari sebelah kiri, kanan, atas atau bawah, mereka akan memalingkan pandangan ke arah sumber suara itu.

Yusuf yang menyadari pertanyaan itu ditujukan kepadanya, langsung menghentikan aktifitas menggunakan telepon genggamnya.

“Novel Tere Liye, Kak” jawabnya, dengan logat khas Makassar.

Novel itu dia unduh dari Pustaka Digital Mitra Netra dengan syarat pengguna tidak menyebarluaskannya. Pustaka Digital Mitra Netra merupakan penyedia buku berbentuk digital yang bisa diakses secara daring khusus difabel netra dan low vision. Sampai saat ini ada 1.034 koleksi, 1.4203 diunduh, 14.6785 pengunjung dan 1.100 pengguna. Koleksi yang terdapat di Pustaka Mitra Netra tidak melanggar hak cipta dengan mengacu pada UU Republik Indonesia No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, pada Pasal 44 ayat 2 yang berbunyi:

Fasilitasi akses atas suatu Ciptaan untuk penyandang tuna netra, penyandang kerusakan penglihatan atau keterbatasan dalam membaca, dan/atau pengguna huruf braille, buku audio, atau sarana lainnya, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap, kecuali bersifat komersial.

“Sayangnya, buku bagus itu yang komersil Kak,” sambung Yusuf.

Meski begitu, Yusuf menyadari bagaimana para penerbit buku-buku tentu mempertimbangkan memproduksi buku-buku yang akses bagi netra dengan kebutuhan pasar untuk menghasilkan keuntungan dan modal bagi manajemen penerbitan itu sendiri. Para penerbit akan membutuhkan biaya lebih besar jika buku-buku yang diproduksi menggunakan braille.

“Selain itu, buku apa?” Joni kembali bertanya.

“Belum ada. Buku menarik tidak banyak dikoleksi Mitra Netra. Selain itu, buku lainnya hanya berisi gelap Kak,” timpalnya.

Ruangan dipenuhi dengan tawa setelah mendengar jawaban Yusuf. Baginya, di situasi tertentu, tawa sesekali menjadi sangat penting ketika mendapati kenyataan bahwa buku-buku yang diproduksi sekian banyaknya di luar sana, sama sekali tidak akses bagi mereka.

“Kalau kata orang, buku adalah jendela dunia. Bagi saya, Kak, buku itu kegelapan yang nyata. Saya akan menunjukkannya. Ini bukan sihir,” lanjutnya, terkekeh.

Yusuf meminta saya mengambilkan satu buah buku tentang apapun yang berada di rak perpustakaan PerDik dan menyerahkannya ke tangan Firdaus. Saya mengambil satu buku berjudul Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta yang ditulis Puthut EA. Dia menyuruh Firdaus untuk membuka halaman demi halaman buku yang dipegangnya.

“Apa yang kamu dapati dari buku bagus itu?” Tanya Yusuf kepada Firdaus.

“Ini bukan braille, tentu gelap mi,” jawab Firdaus.

“Hanya ada apa?” Yusuf kembali bertanya untuk memastikan jawaban Firdaus.

“Gelap.”

Kami semua tertawa. Wajah Yusuf nampak berseri setelah mendapati jawaban yang sesuai dengannya. Dia menyeruput sarabbah, minuman khas Makassar terbuat dari jahe, telur, susu dan santan yang sedari tadi sudah disuguhkan tepat di arah jam 12 di mana dia duduk. Dia menyantap satu gulung ubi goreng yang sudah disajikan di atas meja bermotif koleksi foto aktifitas PerDiK. Satu dua hisapan sebatang rokok sebelum dia melanjutkan ceritanya.

“Jadi begini Kak..”

Goa itu Bernama Pustak@bilitas

Rabu malam, saya, Ajiwan dan Joni menyempatkan berkunjung ke sekretariat PerDiK usai pertemuan dengan kawan-kawan organisasi difabel dan media di Makassar. Pukul 19.00 WIT, Ishak Salim salah satu pendirinya, mangantar kami menggunakan mobil menyusuri jalanan dan segala hiruk-pikuk kota, sebelum akhirnya tiba di sebuah rumah di kawasan perumahan Griya Aliyah. Di depan halaman rumah, tepat di bawah pohon mangga terdapat sebuah plang bertuliskan Sekretariat PerDiK beserta logonya.

Kami disambut Luthfi dan Firdaus, dua pengurus PerDIK yang sedari tadi sudah menunggu.

“Tidak macet Kak?”

“Tidak. Tadi kami mengantar Rahman dulu ke Yasmib,” jawab Ishak.

Saya menyempatkan berkeliling ruangan. Di salah satu ruangan ada sekira ratusan lebih koleksi buku dengan beragam judul yang tersusun rapih di atas rak besi bercat biru. Mulai dari buku-buku teori seperti Antropologi struktural Claude Levi Straus, novel Chronicle of a Death Foretold milik Gabriel Garcia Marquez, sampai koleksi tetralogi Pramudia Ananta Toer.

Selain buku-buku umum, juga ada buku-buku kajian difabilitas, seperti Model Pembelajaran Kampus Inklusi yang ditulis Andayani dkk, Pembangunan Inklusif yang diterbitkan LP3ES, jurnal dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indoensia serta puluhan Al-Quran berbentuk braille.

“Ini buku-buku Pustakabilitas, Luthfi?” tanya saya.

“Iya benar Kak. Tapi masih berantakan, belum semua dikatalogkan,” jawab Luthfi.

Luthfi merupakan koordinator pustakabilitas di bawah Gerakan Mahasiswa dan Pelajar untuk Kesetaraan (Gemparkan). Dia berencana, tumpukan buku-buku itu akan diubah kedalam format yang mudah diakses bagi kawan-kawan netra setelah proses katalog selesai. Semua proses melibatkan pengurus PerDIK dan relawan yang notabene merupakan mahasiswa dari ragam Universitas di Makassar.

Hasil dari katalog dan bentuk buku dengan format baru akan menjadi bahan diskusi rutin dan riset kecil-kecilan terkait dengan ragam topik. Hasil riset kemudian dimanefestasikan dengan bentuk konten tulisan dan disebarluaskan melalui portal daring Ekspedisi Difabel dan media lainnya seperti solider.id.

“Pustakabilitas tidak hanya bicara isu-isu difabel saja Kak. Kita juga menanggapi dan memperbicangkan isu-isu lainnya,” kata Luthfi.

Saya teringat dua tahun lalu, tepatnya Desember 2017, Ishak pernah mengutarakan rencananya membuat perpustakaan di PerDIK. Dia ingin membuat satu ruang yang dapat mewadahi hasrat berpengetahuan para pengurus dan anggota PerDIK dan memberikan sumbangsih berupa produk pengetahuan bagi literasi difabel di Indonesia.

Baginya, literasi kedifabilitasan di Indonesia masih jauh jika dibandingkan dengan negara yang lebih dulu menggaungkan narasi isu difabel, seperti Inggris. Menurutnya, di Indonesia masih jarang akses berpengetahuan bagi difabel, khususnya netra. Belum banyak pula perbincangan assistive technology atau teknologi bantu di kalangan pemerintah ataupun para produsen buku-buku di Indonesia.

“Kita perlu memperkaya literasi kedifabilitasan dengan banyak diskusi-diskusi pengetahuan dan aktornya difabel sendiri,” jelasnya.

Ishak mengawalinya dengan mengumpulkan koleksi buku-buku miliknya. Setelah itu, dia membuka gerakan donasi buku apapun untuk menambah koleksi perpustakaan. Dia berharap perpustakaan kelak juga menjadi daya tarik bagi masyarakat luas yang memiliki keinginan untuk mendalami kajian difabilitas, seperti relawan, mahasiswa, peneliti dan dosen.

“Kunamai Pusta@kabilitas,” kata Ishak, suatu sore di salah satu ruangan SIGAB.

Difabel netra sebagai aktor langsung pegiat literasi terkungkung oleh sistem lingkungan yang tidak adaptif terhadap mereka. Menurut Ishak, difabel netra seperti halnya tinggal di sebuah goa yang gelap. Ia terkungkung bukan oleh kegelapannya, tapi tidak adanya daya dan cara menyalakan lilin di dalam goa.

“Dari sanalah pustakabilitas lahir dan melahirkan. Habis gelap terbitlah pengetahuan,” pungkas Ishak.

 

Antara Braille dan Teknologi Bantu

“Jadi begini Kak. Saya resah dengan kebijakan kampus soal tidak boleh mengerjakan tugas menggunakan braille. Padahal braille adalah identitas kami,” sambung Yusuf, setelah beberapa tegukan sarabbah yang masih panas.

Dia bercerita tentang advokasi penggunaan braille yang sedang berjalan terhadap sistem kampusnya. Menurutnya, kampus semestinya mengakomodir braille sebagai model alternatif di dalam setiap kurikulum dan pembelajarannya, termasuk mengerjakan tugas dengan bentuk braille. Braille baginya, menjadi model pembelajaran yang mudah diakses dalam mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.

Selain di lingkup jurusan PLB yang dipilih Yusuf, menurutnya braille juga harus berlaku di dalam pembelajaran jurusan lainnya. Braille harus tetap ada dan eksis sebagai model belajar bagi netra. Dia merasa sanksi, ketika kenyataan menunjukkan bahwa mahasiswa netra juga lebih dekat dengan gawai dan melupakan braille dalam setiap aktifitas perkuliahannya.

“Jika begitu, hilanglah budaya braille toh,” tandasnya.

“Tapi eh Suf, braille itu membutuhkan banyak kertas dan perlu kita juga memikirkan itu karena berkait dengan kepedulian kita terhadap isu lingkungan toh,” sahut Luthfi.

Ruangan menjadi hening sebentar, sebelum Joni mecairkannya dengan satu cerita pengalamannya menulis surat cinta menggunakan braille. Tawa menggelagak seketika di ruangan itu.

Menurut Joni, akses berpengetahuan dimanapun memerlukan beragam model alternatif, selama model tersebut dapat diakses dan mempermudah bagi semua kalangan. Braille baginya, tidak menjadi satu-satunya model belajar bagi difabel netra. Di situasi tertentu braille memang tidak dapat tergantikan. Dia mencontohkan pada produk Al-Quran Braille yang tidak bisa digantikan dengan teknologi bantu seperti pembaca layar Jaws.

“Al-Quran braille, itu kita bukan membaca, tapi mendengarkan. Braille tetap dibutuhkan, tapi di situasi tertentu.”

Joni melanjutkan, pengetahuan-pengetahuan baru dan model-model pembelajarannya senantiasa lahir dari dialektika manusia dengan situasi kehidupan yang sedang dihadapi. Termasuk hasrat berpengetahuan teman-teman netra, yang semestinya terus-menerus menyesuaikan dengan kondisi yang ada dengan menyediakan ruang dan gagasan baru.

“Di sini ruang itu sudah diwadahi pustakabilitas. Bayangkan kalau buku-buku di pustakabilitas semua pakai format braille, butuh berapa lama kita, sudah ketinggalan,” imbuh Joni.

Yusuf terlihat lebih kencang menghisap rokok di tangan kirinya. Ajiwan mulai menyandarkan kepalanya di bahu kursi. Firdaus dan Luthfi nampak sedang merenung.

Sarabbah tinggal setengah gelas dan ubi goreng sudah habis. Malam itu, obrolan ditutup dengan tawa dan meninggalkan ganjalan di masing-masing kepala.

“Apa itu?” Tanya saya dalam hati.[]

 

Reporter: Robandi

Editor: Robandi

 

The subscriber's email address.