Lompat ke isi utama
foto Aplikasi Bimma

Aplikasi Pencari Kerja Bandung, Antara Kesempatan dan Pemanfaatnnya bagi Difabel

Solider.id, Bandung – Memperoleh pekerjaan yang layak merupakan hak asasi setiap warga negara. Setiap tahun, seiring dengan adanya kelulusan para pengeyam pendidikan, baik dari tingkat sekolah luar biasa (SLB), sekolah menengah umum (SMU) sederajat, lulusan Ahli Madya, maupun Sarjana, dan seterusnya, menunjukan angka pencari kerja yang cenderung berkesinambungan bahkan bertambah.

Arus informasi terkait adanya peluang kerja yang ditawarkan perusahaan milik pemerintah, swasta, atau kesempatan menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tentu akan sangat dibutuhkan untuk mempermudah para pencari kerja. Selain itu, pihak yang membutuhkan tenaga kerja pun memerlukan sarana dan media promosi untuk menginformasikan peluang pekerjaan yang ada.

Kehadiran aplikasi Bandung Integrated Manpower Management Aplikasi (BIMMA), sebuah aplikasi yang digaungkan pemerintah setempat sebagai layanan pusat informasi dua arus yaitu pihak pencari kerja dan pihak pengusaha  yang membuka kesempatan kerja. Aplikasi ini diluncurkan di tahun 2016 silam. Dan hadir dalam dua versi yaitu; website di http://disnaker.bandung.go.id/disnaker-bursakerja dan versi android google playstore BIMMA -  Bursa Kerja.

Arief Syaifudin mengatakan, dalam pameran bursa kerja pertengahan 2019, berbagai posisi lowongan kerja dari yang menerima lulusan SMU hingga perguruan tinggi dan posisi untuk masyarakat difabel juga tersedia. Ia meminta agar masyarakat bisa memanfaatkan aplikasi dari Disnaker Kota Bandung sebagai kanal informasi khusus lowongan kerja.

Membuka kembali Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, hak mendapatkan kesempatan kerja di lingkungan swasta maupun pemerintahan sudah ada kuota tersendiri untuk masyarakat difabel. Namun, kendala yang masih dihadapi oleh para difabel yang mencari pekerjaan adalah informasi yang masih sulit didapatkan, serta persyaratan yang masih sulit dipenuhi. Belum banyak perusahaan yang dengan terbuka memberikan informasi menerima calon tenaga kerja dari masyarakat difabel.  Seperti halnya info lewongan kerja pada umumnya.

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, tertuliskan lengkap kuota yang wajib disediakan untuk difabel serta intensif pemerintah terhadap perusahaan swasta yang mempekerjakan tenaga difabel.

Pasal 53 ‘(1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. (2) Perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.’

Pasal 54 ‘(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan intensif kepada perusahaan swasta yang mempekerjakan Penyandang Disabilitas.’

Melalui sarana aplikasi bursa kerja, diharapkan semakin mudah masyarakat difabel untuk mengetahui adanya peluang dan kesempatan bagi mereka dalam mengakses dunia pekerjaan.

Sangat disayangkan, apabila masyarakat difabel masih banyak yang belum mengetahui adanya aplikasi bursa kerja dikarenakan sosialisasinya yang masih minim. Atau sebaliknya, untuk masyarakat difabel yang mengetahui adanya aplikasi bursa kerja, akan tetapi, saat diakses justru informasi yang dicari sulit didapatkan.  

Padahal, bagi perusahaan swasta yang memberikan peluang kerja pada difabel selain mereka menjalankan amanat undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, mereka mendapatkan intensif dari pemerintah.

Dari beberapa responden masyarakat difabel yang diberikan pertanyaan terkait keberadaan aplikasi bursa kerja, yaitu aplikasi yang dapat diakses untuk mengetahui adanya informasi beragam lowongan pekerjaan, masyarakat difabel ada yang belum mengetahuinya.

Seperti yang diungkapkan Dini Setiawati, difabel Daksa yang mengaku belum pernah mengetahuinya. Pun demikian dengan Fanny Dwi Putri difabel Netra yang mengatakan baru mendengar terkait adanya aplikasi bursa kerja. Senada dengan mereka Hadi difabel Nerta pun menuturkan yang serupa dan langsung mencari untuk membuka aplikasi bursa kerja.

Menurut Hadi, aplikasi bursa kerja tersebut dapat akses oleh difabel Nerta seperti dirinya, langkah dari mulai menginstal, mencari tombol register, mengisi biodata, user name, pasword, nomor KTP, nama lengkap, tempat lahir, tanggal lahir, nomor Hp, email dan jenis kelamin, semuanya mudah diakses. Begitu pula langkah selanjutnya, setelah ada keterangan register berhasil, tinggal mencari tombol login. Mengisi kembali user name dan pasword yang telah dibuat sebelumnya kemudian login.

“Mudah diakses untuk login aplikasinya,” tutur Hadi yang langsung mencoba aplikasi bursa kerja melalui smartphone nya.

Dari beberapa contoh perusahan yang membuka info lowongan kerja, rata-rata untuk umum. Atau belum menemukan informasi lowongan kerja untuk masyarakat difabel. Hadi juga menyayangkan, sistem lamarannya offline atau mendatangi langsung perusahaannya. Hanya beberapa yang menggunakan sistem lamaran online.

“Rata-rata informasi lowongan kerja nya untuk umum, tinggal dicari perusahaan mana yang membuka buat difabel,” Hadi menerangkan lebih lanjut.

Selain masih dibutuhkan sosialisasi terkait adanya aplikasi bursa kerja kepada masyarakat difabel, para pihak pencari tenaga kerja pun dapat lebih tegas lagi mencantumkan informasi lowongan kerja untuk masyarakat difabel. Agar para difabel pencari kerja dan perusahaan yang menerima tenaga kerja difabel dapat lebih mudah terkoneksikan melalui adanya aplikasi bursa kerja tadi.

Aplikasi busra kerja yang dapat membangun koneksi antara masyarakat difabel pencari kerja dan perusahaan yang membuka kesempatan kerja masih perlu lebih dimaksimalkan lagi. Agar kuota penempatan kerja bagi masyarakat difabel dapat terpenuhi, dan memudahkan  difabel pencari kerja untuk mengaksesnya.  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.