Lompat ke isi utama
Para siswa sedang mendengarkan materi sosialisasi LUPUS

Sahabat Cempluk Sosialisasi LUPUS di SMK 5 Yogyakarta

Solider.id,Yogyakarta- Komunitas Orang dengan lupus (ODAPUS) dengan nama Sahabat Cempluk mengagendakan kunjungan ke SMK Negeri 5 Yogyakarta. Kunjungan bertajuk Sahabat Cempluk Goes to School, bertujuan untuk memahamkan lupus. Dengan harapan menumbuhkan empati para siswa terhadap ODAPUS. Sehingga dapat membangun dukungan yang menyeluruh. Semakin banyak orang paham lupus, semakin banyak dukungan dapat diberikan kepada ODAPUS.

Tak banyak orang tahu jika lupus merupakan penyakit yang tak bisa disembuhkan. Tidak banyak juga orang yang tahu akibat lupus ini orang akan kehilangan beberapa kemampuannya. Tidak banyak yang tahu bagaimana luar biasa sakitnya saat lupus menyerang. Tubuh panas, kejang, tremor, seluruh tubuh sakit dan sulit digerakkan, rasa kelelahan amat sangat, sariawan, ruam merah di wajah dan bagian tubuh lain, rambut rontok.

Lupus ini dapat terjadi dan menyerang pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Karenanya, ODAPUS harus sering kali mengunjungi dokter, atau bahkan rawat inap dalam waktu yang cukup lama. Harus mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya, dan bagian wajah menjadi gendut (cempluk) sebagai efek obat yang dikonsumsi. Kondisi demikian perlu pemahaman, penerimaan, bahkan dukungan dari banyak pihak. Terlebih ketika ODAPUS ini adalah mereka para pelajar.

Tumbuhkan empati

Selasa (12/11), berdiri jongkok, kedua tangan ke atas sambil goyang-goyang diiringi alunan musik, dilakukan oleh semua siswa kelas XII SMK Negeri 5 Yogyakarta. Beberapa siswa hanya bertahan sesaat. Beberapa lainnya bertahan lama, hingga kaki gemetaran, tangan kesemutan. Berlangsung lebih kurang 30 menit, awalnya semua siswa sangat menikmati sambil tertawa. Namun akhirnya mereka merasakan perubahan rasa pada kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya.

Di atas adalah salah satu bagian sesi sosialisasi yang dibawakan Founder Sahabat Cempluk, Ian Sofyan. Cara membuka kesadaran menumbuhkan pemahaman dan empati. “Bagaimana rasanya? Gemetaran? Kesemutan? Serasa darah berhenti? Yang teman-teman rasakan adalah bagian yang dirasakan oleh teman-teman ODAPUS saat kambuh. Mereka sepanjang sakit merasakan itu,” menyeruak tanya dan penjelasan Ian Sofyan.

Ian menjelaskan bagaimana dukungan dari lingkungan sangat dibutuhkan oleh ODAPUS. Dia juga menyampaikan betapa pentingnya menjadi teman yang dapat memberikan dukungan. Aisya dan Putri dua pelajar kali itu mengaku paham apa itu lupus. Keduanya juga menyadari beratnya penderitaan orang dengan lupus. Dan semakin tahu bagaimana memberikan dukungan terhadap kawannya ODAPUS.

“Membangun holistic support system bagi ODAPUS khususnya pelajar, merupakan misi penting. Dan di SMK 5 Yogyakarta seorang siswanya baru-baru saja sakit lupus. Siswa tersebut butuh support system dari lingkungan sekolah,” terang Ian pada Solider (12/11).

“Selain edukasi kepada orang tua dan anak-anak dengan lupus, di usia sekolah mereka akan bersama teman-temannya, bersama gurunya. Lalu mereka sering kali tidak masuk sekolah. Lantas begitu masuk akan terjadi perubahan fisik. Karena fisiknya yang berubah maka kemampuannya pun juga berubah. Mereka menjadi disability, menjadi terbatas kemampuannya, dibandingkan dengan teman-temannya,” lanjut Ian yang tak lain juga seorang survivor ODAPUS.

Ian juga menjelaskan bahwa rata-rata lupus ini 80% menyerang di usia produktif, 90% adalah perempuan. Dia sendiri mengalaminya. “Pada 21 tahun silam, pada saat lagi seneng-senengnya ini itu, tiba-tiba saya harus berhenti. Saya tidak bisa bayangin teman-teman di usia SD, SMP, SMA, atau yang masih kuliah. Ada pula yang baru menempuh pendidikan Ph.D, yang tidak memungkinkan bisa cuti,” ungkapnya.

Sadari diri

Menurut Ian, ketika hidup dengan lupus berarti ritme hidup perlu berubah. Namun, bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa pada saat sakit lupus, tapi harus menyesuaikan kondisi. “Dan teman-teman harus tetap produktif dengan lupus itu. Atinya kalau mereka tertinggal, mereka tidak perlu malu. Harus menyusulpun ya enggak apa-apa,” pesannya.

Rifky Eka Miftahhul Ullum (17), ODAPUS siswa kelas XII SMK Negeri 5 Yogyakarta. Dia didiagnosa ODAPUS pada Februari tahun ini. Saat itu dia harus izin tidak mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PPL) kurang lebih satu bulanan. Dia juga bercerita bahwa ibunya yang lebih syok ketimbang dirinya, saat didiagnosa lupus oleh dokter. “Saat dinyatakan lupus, ibu nangis. Aku malah tidak down dan stress. Ya sudah saya menerima, saya asakit ini,” kisahnya.

Eka juga mengaku bersyukur karena lupus yang dideritanya tergolong ringan. Dia masih bisa mengikuti upacara bendera rutin 45 menit. Masih sanggup terkena sinar matahari. Sedangkan untuk lupus berat, jika terkena sinar matahari apabila jatuh tulang retak, atau kulit melepuh.

“Lupus obatnya hanya semangat. Harus kontrol rutin, munum obat, manut dokter. Untuk teman yang merasa tidak enak badan, segeralah istirahat saja. Saya dulu ikut tonti, saya memaksakan diri sudah capai bilang tidak capaik,” pesan Eka.

Eka juga mengaku sempat tidak ingin sekolah karena malu. Efek obat membuat fisiknya berubah. Pipi tembem dan bruntusan. Ternyata dirinya mendapatkan support dari para teman dan gurunya. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.