Lompat ke isi utama
Salah satu trotoar di kawasan Malioboro

Trotoar untuk Siapa?

Solider.id,Yogyakarta- Fakta di lapangan, sebuah trotoar hingga saat ini masih tidak dapat dinikmati oleh para pejalan kaki. Ruas-ruas trotoar disalahgunakan oleh para pedagang kaki lima (PKL) hingga parkir liar.

Trotoar yang merupakan salah satu akses pejalan kaki, kini fungsinya tidak lagi sederhana. Karena tak hanya pejalan kaki yang bisa menikmati fasilitas ini. Namun jalur trotoar juga dimanfaatkan oleh para pengendara sepeda motor, mencari celah melintas dan menghindari jalan raya macet. Trotoar juga dimanfaatkan sebagai tempat parkir oleh para pemilik mobil yang tinggal di area trotoar.

Yang terkini, fasilitas trotoar ini justru dinikmati oleh pengemudi ojek online untuk parkir dan menunggu penumpang. Bahkan trotoar sempit dengan lebar tidak sampai 1,5 meter di sepanjang Jalan Piere Tendean, Wirobrajan, Yogyakarta pun demikian adanya.

“Tidak ada tempat lagi sih, terus di mana lagi markirnya? Sebelum diusir ya tetap di sini. Tapi kalau diusir ya pindah,” ungkap Widi, salah seorang pengemudi ojek daring.

Nyata di depan mata pula, trotoar di area sebuah rumah sakit di Jalan KHA Dahlan yang dipadati oleh kendaraan pengunjung rumah sakit tersebut. Kepentingan ekonomi telah mengalahkan kemaslahatan pemilik hak atas trotoar.

Nasib pejalan kaki

Para pejalan kaki tetap saja menjadi pengguna jalan yang diabaikan kenyamanan dan keamanannya mengakses jalan raya. Mereka tidak dapat menikmati hak berjalan dengan tenang di trotoar.

Sementara, pada dasarnya trotoar dibangun dengan fungsi sebagai layanan bagi para pejalan kaki. Pejalan kaki ini juga termasuk mereka para pengguna alat bantu berjalan kursi roda, pengguna krug (tongkat penyangga tubuh), brace (kaki palsu), juga pengguna tongkat putih. Demikian pula orang dengan keterbatasan penglihatan (low vision).

Fungsi trotoar yang tak sesuai, dan mengganggu hak pejalan kaki dikeluhkan oleh beberapa pejalan kaki. Demikian pula dengan pejalan kaki dengan alat bantu tongkat.

“Sebenarnya mengganggu ya. Aktivitas pejalan kaki terus jadi sempit. Jadi ya membahayakan untuk kami pejalan kaki. Apalagi bagi saya yang jalan dengan krug ini. Masalah trotoar itu kan fungsinya untuk pejalan kaki. Mestinya ya hanya pejalan kaki yang boleh menggunakannya. Bukan untuk motorlah, pedaganglah,” keluh Reka, pengguna krug karena amputasi kaki kiri.

Lantas sebuah pertanyaan pun muncul. Sesungguhnya trotoar itu untuk siapa? Penyalahgunaan trotoar terjadi di depan mata. Berlangsung lama, dan sama dari waktu ke waktu. Tidak ada perubahan, karena tidak ada himbauan, teguran, juga tindakan. Bahkan trotoar dengan zona merah atau zona terlarang untuk kegiatan ekonomi pun tetap saja terjadi pelanggaran. Salah satu contoh trotoar di Jalan Katamso (sekitar Purawisata), tetap saja bercokol para pedagang kaki lima di sana.

“Saya sudah mendapat izin dari kantor Kecamatan kog. Dan sudah membayar iuran rutin. Jadi kalau tidak boleh berjualan di sini, harus diberi tempat lain dong,” ujar anak pedagang, seorang perempuan berinisial  ‘OW’ dalam sebuah perbincangan dengan Solider terkait trotoar.

Jangan biarkan pelanggaran

Revitalisasi trotoar, dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta. Tiga ruas trotoar di jantung kota Yogyakarta telah ditata ulang, dengan berbagai furnitur yang melengkapinya. Revitalisasi trotoar di area Malioboro telah usai. Demikian pula dengan ruas trotoar di Jalan Suroto, Kotabaru. Berlanjut revitalisasi trotoar di Jalan Jendral Sudirman, saat ini masih dalam proses finishing, pemasangan teraso dan street furniture.

Upaya menciptakan suasana kota yang nyaman dengan konsep pedestrian telah dilakukan. Bahkan, kajian potensi tambahan kawasan pedestrian di Yogyakarta bagian selatan pun direncanakan.

"Sudah ada beberapa kawasan dengan pedestrian yang nyaman. Tentunya, kami akan terus berusaha menambah jalur untuk pejalan kaki di kawasan lain, yaitu di Yogyakarta bagian selatan," ujar Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kota Yogyakarta Hari Setya Wacana, beberapa waktu lalu.

Dengan adanya trotoar diharapkan dapat meningkatkan kelancaran, keamanan dan kenyamanan para pejalan kaki. Sehingga pembangunan trotoar betul-betul dapat memperlancar lalu lintas jalan utama (jalan raya), karena tidak terganggu oleh pejalan kaki.

Harapan pejalan kaki yang resah karena haknya terampas, di antaranya ialah adanya tindakan tegas oleh yang berwenang atas malfungsi trotoar. Apakah itu PKL, parkir liar, ojek online. Harapan sederhana, jangan biarkan pelanggaran atas trotoar terus terjadi. Selasa (12/11/2019).[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.