Lompat ke isi utama
Ilustrasi Buku Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus

Memahami Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus

Solider.id, Yogyakarta- Anak dengan kebutuhan khusus (ABK) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat atau mangalami gangguan yang tidak akan pernah berhasil di sekolah, sebagaimana anak-anak pada umumnya. Hal ini mengemuka dalam sebuah buku ajar Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus yang diterbitkan Universitas Muhammadiyah Purwokerto Press pada tahun 2017.

Menurut Nur’aeni, penulis buku tersebut, ABK berbeda dengan konsep yang melekat pada perspektif sosial budaya. Bahwa kondisi kedisabilitasan seseorang tidak serta merta dihakimi sebagai bentuk gangguan yang menghalanginya meraih keberhasilan di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Nur’aeni merupakan seorang staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Mata kuliah yang diampunya adalah Pengantar Tes Psikologi, Tes Intilegensi, Kesukaran Belajar, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.

Menurut Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata terkuat yang bisa digunakan untuk mengubah dunia. Pendidikan juga menjadi salah satu bidang yang sangat diperhatikan di Indonesia. Seperti yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 bahwa Pendidikan adalah hak seluruh warga negara tanpa membedakan asal-usul, status sosial ekonomi, maupun keadaan fisik seseorang, termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan.

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hak anak untuk memperoleh pendidikan dijamin penuh tanpa adanya diskriminasi termasuk anak-anak difabel atau anak yang berkebutuhan khusus.

Pengalaman dan pengetahuan tentu memberikan pengaruh bagi seseorang dalam memahami suatu persoalan baik itu praktik maupun konsep tentang anak berkebutuhan khusus. Seperti yang dikutip dalam buku ajar dengan ketebalan buku 166 halaman ini, Nur’aeni mengatakan bahwa masih banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap. Menurut World Health Organization (WHO), masing-masing definisi istilah tersebut adalah;

Disability, keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu.

Impairment, kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.

Handicap, ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.

Adapun pembahasan ABK dalam buku tersebut antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, autis, tuna ganda, kesulitan belajar, gifted dan talented, juga ada pembahasan khusus tentang pendidikan inklusi. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat.

Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki, anak berkebutuhan khusus memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka. Contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Nur’aeni juga menyebutkan bahwa anak berkebutuhan khusus ada yang bersifat temporer di antaranya adalah anak penyandang post traumatic syndrome disorder (PTSD) akibat bencana alam, perang, atau kerusuhan, anak anak yang kurang gizi, lahir prematur, anak yang lahir dari keluarga miskin, anak-anak yang mengalami depresi karena perlakukan kasar, anak-anak korban kekerasan, anak yang kesulitan konsentrasi karena sering diperlakukan dengan kasar, anak yang tidak bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar, anak berpenyakit kronis, dan sebagainya.

Dalam buku tersebut menjelaskan Anak berkebutuhan khusus berproses dan tumbuh, tidak dengan modal fisik yang wajar, karenanya sangat wajar jika mereka terkadang cenderung memiliki sikap defensif (menghindar), rendah diri, atau mungkin agresif, dan memiliki semangat belajar yang lemah.

Nur’aeni juga menjelaskan beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan anak berkebutuhan khusus. Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan, dan merupakan terjemahan dari children with special needs yang telah digunakan secara luas di dunia internasional.

Ada beberapa istilah lain yang pernah digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, dan anak luar biasa, dan ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan kependekan dari diference ability.

Perubahan istilah anak berkebutuhan khusus dari istilah anak luar biasa tidak lepas dari dinamika perubahan kehidupan masyarakat yang berkembang saat ini, yang melihat persoalan pendidikan anak penyandang cacat dari sudut pandang yang lebih bersifat humanis dan holistik, dengan penghargaan tinggi terhadap perbedaan individu dan penempatan kebutuhan anak sebagai pusat perhatian, yang kemudian telah mendorong lahirnya paradigma baru dalam dunia pendidikan anak penyandang cacat dari special education ke special needs education.

Implikasinya, perubahan tersebut juga harus diikuti dengan perubahan dalam cara pandang terhadap anak penyandang cacat yang tidak lagi menempatkan kecacatan sebagai fokus perhatian tetapi kepada kebutuhan khusus yang harus dipenuhinya dalam rangka mencapai perkembangan optimal. Dengan demikian, layanan pendidikan tidak lagi didasarkan atas label kecacatan anak, akan tetapi harus didasarkan pada hambatan belajar dan kebutuhan setiap individu anak atau lebih menonjolkan anak sebagai individu yang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Anak berkebutuhan khusus merupakan satu istilah umum yang menyatukan berbagai jenis kekhususan atau kelainan. Seorang guru sekolah khusus (SLB), merasakan kesulitan dalam menghadapi anak didiknya yaitu anak berkebutuhan khusus yang begitu heterogin, sehingga dia perlu mengelompokkan anak didiknya berdasar jenis kelainannya agar lebih homogin sehingga dapat memberikan pembelajaran yang lebih optimal.

Konsep anak berkebutuhan khusus (children with special needs) memiliki makna dan spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan konsep anak luar biasa (exceptional children). Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barrier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak.[]

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.