Lompat ke isi utama
Hermanto, salah satu peserta pelatihan sedang mengisi form RTL

PMI Boyolali Mensinergikan Difabel di dalam Program Kerja

Solider.id, Boyolali– Palang Merah Indonesia (PMI) Boyolali juga tengah mensinergikan difabel ke dalam program kerja dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan. Hal ini diungkapkan oleh Slamet Haryanto di sela-sela pelatihan bagi Difabel pada Jumat (8/11).

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diselenggarakan di Markas PMI di Kompleks Randu Asri Jalan Kates, Ngebong, Siswodipuran, Boyolali. “Selain memiliki program bagi Difabel, saat ini PMI sendiri juga sedang berupaya untuk membuat program yang inklusi, seperti mendorong klinik untuk ramah Difabel, kalau bikin shelter ya memikirkan aksesibilitasnya,” papar Petugas di Bagian Pelayanan dan SDM ini.

Sambil memberi pemaparan Slamet juga menunjukkan beberapa fasilitas klinik PMI yang sudah dibuat ramah Difabel. Beberapa fasilitas diantaranya ada kursi prioritas di ruang tunggu, ramp yang dilengkapi hand rail juga toilet akses.

Dari pengamatan Solider, kontur tanah yang menjadi markas PMI yang tidak rata menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi penyediaan fasilitas yang akses. Berlokasi di wilayah yang miring dan tidak rata membuat dua bangunan utama markas ini tidak sejajar. Bangunan di sebelah barat jauh lebih tinggi dibanding bangunan lainnya.

Mendorong Inklusivitas

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, PMI memiliki peran strategis dalam memberikan bantuan sosial kesehatan. PMI Boyolali bekerja untuk melayani seluruh masyarakat di tingkat kabupaten. Oleh karena itu mendorong program kerja yang inklusi menjadi salah satu strateginya.

Khusus bagi Difabel, PMI sudah memiliki beberapa program diantaranya adalah penyediaan kursi roda dan pelatihan bengkel kursi roda. Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan UCPRUK yang berbasis di Yogyakarta. Selain itu PMI juga pernah memfasilitasi pembagian kacamata bagi anak-anak.

Diakuinya program khusus ini masih terbatas dan tidak berkesinambungan, program pembagian kacamata misalnya belum bisa dilaksanakan lagi karena belum ada penyedia dana.

Oleh karena itu mendorong program kerja yang inklusi menjadi salah satu upaya untuk melibatkan semua kalangan termasuk Difabel.

Diakuinya dalam rangka membuat program yang inklusi, prioritas PMI adalah memperkuat internalnya sendiri. Dia menjelaskan dengan mengedepankan misi kemanusiaan petugas ditekankan untuk tidak membeda-bedakan dalam memberikan layanan, juga tidak canggung ketika berhadapan dengan Difabel serta membuang pandangan karitatif. Selain itu juga ketika di lapangan melibatkan masyarakat serta orang-orang terdekat Difabel sesuai code of conduct PMI.

“Jadi yang kita layani di sini kan kurang lebih satu juta masyarakat Boyolali, bukan hanya Difabel saja. Namun setiap tahun kita ada kegiatan bagi kelompok rentan terkait dalam peningkatan kapasitasnya,” tambahnya lagi.

Meskipun sudah memiliki beberapa program untuk Difabel, dia mengakui bahwa PMI masih memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah belum semua jenis Difabel terangkul dalam program. Diakuinya selama ini pihaknya lebih banyak melibatkan Difabel mobilitas. Jenis Difabel lain seperti Tuli, netra, mental intelektual masih belum terjamah.

Pelatihan di Garasi

Selama dua hari pada Kamis-Jumat, 7-8 November 2019 PMI menyelenggarakan pelatihan “Managemen Bencana Bagi Kelompok Difabel”. Kegiatan ini diikuti oleh 28 Difabel mobilitas yang berasal sari seluruh wilayah Kabupaten Boyolali.

Slamet menuturkan bahwa pelatihan ini merupakan pelatihan kedua yang digagas oleh PMI bagi kelompok Difabel. Tahun lalu PMI sudah menyelenggarakan pelatihan first aid.

Dalam pelatihan ini Difabel diberikan pengetahuan dasar mengenai jenis-jenis bencana, penanganan saat terjadi, pengantar manajemen bencana dan kepalangmerahan, perubahan iklim juga peran stakeholder dan Difabel dalam manajemen bencana.

Menariknya pelatihan ini digelar di garasi. Ini dikarenakan aula PMI terletak di lantai dua yang belum dilengkapi sarana pendukung aksesibilitas, sehingga akan menyulitkan bagi para Difabel.

“Kita mengadakan pelatihan ini di markas karena pengurus di sini tidak ingin membeda-bedakan Difabel. Kalau dibuat di hotel kan fasilitasnya sudah komplit tapi bukan itu tujuan kami. Karena aula di lantai dua maka akhirnya ya kita di garasi, yang lebih akses,” paparnya lagi.

Pelatihan yang melibatkan berbagai unsur seperti Dinas Sosial dan BPBD ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Difabel terkait dengan kebencanaan. Dengan pelatihan semacam ini diharapkan Difabel memiliki pengetahuan memadai ketika terjadi bencana, dan lebih jauh bisa menularkan pengetahuannya kepada Difabel lain.

Sementara itu Dwi Karsono, salah satu peserta pelatihan menuturkan bahwa pelatihan manajemen bencana ini diperlukan bagi Difabel. Menurutnya di Indonesia sering terjadi bencana, namun meskipun yang sudah aktif berorganisasi maupun berkegiatan di masyarakat, selama ini belum pernah mendapatkan pengetahuan mengenai kebencanaan.

“Selama ini saya kan sering mendengar ada bencana, ya dari televisi ya di sekitar kita. Tapi kok belum pernah mendapat informasi mengenai ilmu bencana. Jadi pelatihan ini menurut saya penting karena sebagai Difabel kita tahu manajemen bencana, apa saja yang dibutuhkan saat terjadi bencana,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia menganggap bahwa pelatihan semacam ini sangat perlu dilakukan dan terus dilanjutkan. Ke depannya dia berharap bahwa pelatihan bukan hanya sebatas konsep saja, tapi ada lebih banyak praktek dan simulasi. Sehingga peserta lebih memahami ilmunya dan mampu menerapkannya baik terhadap dirinya sendiri maupun Difabel lain di sekitarnya.[]

 

Reporter: Ida Putri

Editor: Robandi

The subscriber's email address.