Lompat ke isi utama
Para Guru sedang mendengarkan materi tentang menulis (Foto dari: Hedwigis)

Menulis Jadi Tuntutan Para Guru SLBN Pembina Yogyakarta

Solider.id,Yogyakarta- Menulis artikel tidak semudah menulis persiapan mengajar dan berbagai administrasi. Misalnya menulis rencana persiapan pembelajaran (RPP) atau menulis materi ajar hingga menulis laporan hasil belajar. Padahal, profesi guru identik dengan dunia tulis menulis. Itulah yang dialami sebagian guru SLB Negeri Pembina Yogyakarta, saat mengikuti lokakarya literasi dan jurnalistik dasar, Jumat (8/11) lalu.

Sebagai salah satu upaya memberi solusi atas permasalahan yang dihadapi para guru, Kepala SLB Negeri Pembina, Sarwiasih, memfasilitasi mereka dengan kegiatan literasi. Pada acara itu, selaku fasilitator adalah wartawan senior Agoes Widhartono. Acara diikuti 18 guru dengan berbagai latar belakang pengalaman dan kemampuan menulis. Tidak ketinggalan kepala sekolah hadir di tengah para guru.

“Menulis merupakan karya intelektual tertinggi seseorang. Karena menulis mengerahkan seluruh aktivitas otak. Menulis membutuhkan nalar. Dengan nalar yang baik maka akan dapat menyampaikan gagasan dengan tepat pada orang lain,” ujar Agoes Widhartono, peneliti media, penulis dan konsultan komunikasi itu.

Menurut Agoes sebenarnya menulis bukanlah suatu perkerjaan yang sulit. Menulis, membutuhkan kemauan besar, keterampilan dan latihan yang konsisten. “Menulis harus dipraktekkan, bukan hanya dibicarakan,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu disampaikan pula materi terkait delapan transformasi komunikasi yang terjadi di dunia. Materi ini sebagai paparan konsep yang mesti dikuasai sebagai dasar pemahaman berkomunikasi, terlebih dengan tulisan. Sejarah manusia dalam berkomunikasi sejak 15.000 tahun sebelum masehi, kemudian revolusi komunikasi yang ditandai dengan penemuan mesin cetak oleh Johannes Guttenburg pada abad 15 di Jerman, hingga era internet saat ini. 

Asesmen Kemampuan Para Guru

Di pengujung acara pelatihan itu, peserta pelatihan diberi kliping berita tanpa judul. Tugas pun diberikan dengan tujuan menilai kemampuan guru dalam hal penulisan, meliputi nalar dan bahasa. Guru diminta membaca, mengidentifikasi dan menganalisa berita. Selanjutnya, seluruh peserta harus menuliskan berdasar fakta yang sudah tersaji pada kliping, sekaligus memberikan judul tulisan.

Hasil lokakarya penulisan yang berlangsung singkat, kurang lebih tiga jam itu tidaklah sia-sia. Sejumlah guru berhasil menulis berdasar fakta yang telah dibaca, dianalisa, dengan penalaran yang baik.

“Berliterasi, dengan membaca dan menulis, sudah saatnya dikembangkan pada setiap orang tak terkecuali bagi guru. Literasi ini tidak saja berdampak positif pada guru, namun juga bagi lingkungan,  yakni para siswa. Berliterasi dengan menulis artikel, ini menjadi salah satu tanggung jawab guru, selain tanggung jawab pokok lainnya,” ujar Sarwiasih kepada Solider. Ia menyadari bahwa keterampilan menulis tidak begitu saja dengan mudah dikuasai oleh para guru. Untuk itulah dia mengaku butuh dukungan ahli untuk membekali para guru dalam berliterasi.

Sarwiawih berharap, keterampilam menulis dapat mengembangkan buletin sekolah yang sudah mulai diluncurkan medio 2019 ini bertajuk Bulpen (Buletin Pembina). Jika pada 2019 Bulpen hanya terbit satu kali dalam kurun waktu satu tahun (2019). Pada 2020, nanti diharapkan Bulpen terbit dua kali dalam satu tahun.

“Tidak cukup hanya mengelola Bulpen. Para guru juga diharapkan dapat menulis dengan dengan baik dan benar sehingga layak muat di media cetak. Hal ini akan berimplikasi pada mereka, untuk bisa naik pangkat, yang mempersyaratkan setiap profesi guru harus dapat menulis. Bisa penelitian tindakan kelas, artikel, jurnal atau bahkan menulis buku,” ujar Sarwiasih.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.