Lompat ke isi utama
Foto Novita Dwi Susanti saat wisuda, lokasi di depan gedung Rektorat ITB (Sumber foto : Dokumentasi ITB)

Perjuangan Novita Dwi Susanti Meraih Gelar S2 di ITB

Solider.id, Bandung- Novita Dwi Susanti, difabel netra baru-baru ini menjadi trending di media sosial Instagram. Wanita berhijab yang akrab disapa Santi ini sedikit pun tak terlihat sebagai seorang difabel. Mahasiswi yang baru saja menyelesaikan studi S2 Teknik Elektro di Intstitut Teknologi Bandung (ITB).

Hambatan penglihatan menjadi tantangan terbesar bagi Santi, terutama sebagai mahasiswi Fakultas Teknik. Dia mengaku, mata sebelah kirinya tidak dapat melihat sama sekali. Sedang yang sebelah kanan low vision dengan sisa pandang kurang dari 10 meter. “Pembuluh darahnya pecah, dan retinanya sudah tidak ada,” tutur wanita yang berprofesi sebagai salah satu peneliti LIPI ini kepada Solider.id (3/11).

Lebih lanjut, Santi mengatakan bahwa hal tersebut merupakan dampak dari penyakit diabetes yang dideritanya sejak tahun 2010 lalu. Sehingga mengakibatkan dia mengalami ablasi retina, lepasnya retina dari jaringan penopangnya bila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. Pada tahun 2015 lalu dia melakukan operasi untuk menyelamatkan penglihatan mata kanannya.

Santi mengaku awal masa perkuliahan, semuanya baik-baik saja. Namun, seiring berjalannya waktu, penglihatan yang tersisa terus menerus mengalami degenerasi.

Pada fase ini Santi mulai mengalami kesulitan, terutama dalam mengikuti kegiatan perkuliahan. Dia tak mampu lagi melihat catatan di papan tulis, sehingga ia terbiasa memotret atau merekam matrikulasi yang dipaparkan dosennya, serta meminjam catatan milik temannya.

Tak hanya itu saja, Santi pun mulai mengalami fase disorientasi posisi, sehingga berdampak pada mobilitasnya. Kondisi infrastruktur tempat ia berkuliah yang merupakan gedung lama, terlebih kegiatan perkuliahan pun sering dilakukan di ruangan yang terletak di basement bangunan sehingga ketika petang hari membuat pencahayaan menjadi temaram, acapkali membuatnya terjatuh atau sekedar pulang dengan kaki keseleo.

“Aku gak tahu harus bagaimana karena aku pikir selama ada hp (baca: gawai), ya aku fine-fine saja. Dosen pun kaget ketika mengetahui kondisi ku,  khawatir aku gak bisa ngikutin. Tapi, aku berhasil meyakinkan bahwa aku bisa mengikuti perkuliahan, dan akhirnya aku bisa lulus juga”, ujar salah satu peraih beasiswa pendidikan dari Kemenristekdikti ini.

Menutup perbincangan, Santi mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika ITB yang telah banyak membantunya selama menempuh studi di sana. Dia berharap, kelak ITB dapat menyediakan aksesibilitas fisik yang aksesibel bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, diantaranya dengan menyediakan jalur pemandu, memberikan floor-essence pada setiap tepi anak tangga, menambahkan notifikasi suara pada lift, memberikan pencahayaan yang ramah low vision, serta memperbaiki lift di labtek 8 yang sering rusak.

Menurut Santi, selain dari awareness civitas akademika, keberadaan sarana prasarana tersebut menjadi salah satu kebutuhan yang seyogyanya dapat disediakan agar difabel penglihatan dapat beraktivitas secara mandiri. []

 

Reporter: Maya Aimee

Editor: Robandi

The subscriber's email address.