Lompat ke isi utama
Seorang pekerja sedang membenahi jalan

Sarana Publik Kota Solo Belum Ramah Kelompok Rentan

Solider.id, Surakarta- Forum Muda Visioner menghimpun sejumlah tokoh termasuk orang muda, menghelat Foccus Group Discussion (FGD) tentang transportasi massal yang berkeadilan sosial di Omah Sinten, Kamis (8/11). Forum tersebut menilai pembangunan di Kota Solo belum ramah terhadap kelompok rentan.

Diskusi ini lahir dari keresahan-keresahan warga yang muncul atas kebijakan Pemerintah Kota seperti dibangunnya lahan parkir di sebelah selatan, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Lahan tersebut memotong pedestrian dan area pejalan kaki. Belum lagi banyak pohon ditebang untuk penyesuaian lahan.

Salah satu contoh kebijakan lain, Pemkot Solo terkait pembangunan paving di sepanjang Jl. Jenderal Sudirman, tepatnya di depan balai kota-patung Slamet Riyadi. Paving tersebut memberatkan bagi pengguna kursi roda saat mengaksesnya.

Septina Setyaningrum, seorang peneliti transportasi Kota Surakarta mengatakan, semakin digerusnya lahan pedestrian dan ruang bagi pejalan kaki serta perilaku pengguna jalan yang tidak menghormati penyeberang jalan, membuktikan bahwa kota Solo abai akan keselamatan para penyeberang jalan.

Kegagalan pembangunan yang tidak berpihak kepada kelompok rentan ini meruntuhkan anggapan bahwa Solo Kota Ramah Difabel dan Kota Layak Anak. “Mereka riskan, dan sungguh berbahaya ketika hendak menyeberang,” terang Septina, sembari menunjukkan sebuah foto anak-anak yang sedang menyeberang di depan kantor DPRD.

Fuad Jamil dari lembaga kotakita.org mengingatkan kepada penyediaan fasilitas publik tersebut mestinya ada hak yang harus dipenuhi Pemkot kepada kelompok rentan yakni difabel, lansia, anak-anak, serta perempuan. Semestinya pembangunan mengacu pada konsep Universal Desaign.

Menurut Fuad, gerak dan tata ruang ditunjang kondisi alam kota Solo yang datar, dan kecenderungan pemukiman ada di pinggir kota. Idealnya transportasi umum di Kota Solo adalah non motor.

“Kebijakan yang janggal menyangkut pendidikan yakni sekolah berdasar zonasi namun yang dipakai adalah google map, padahal google map mengacu kepada rute kendaraan bermotor. Ini menafikan siswa yang bersekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda,” terang Fuad.

Jika merunut pada sarana transportasi publik seperti adanya ojek online, hal ini juga dikeluhkan salah seorang difabel. Ditemui di tempat lain, Misbahul Arifin menjawab pertanyaan solider tentang pilihan transportasinya yakni menggunakan ojek online. “Tapi sayangnya untuk google map-nya selalu nggak pas,” terang Misbahul Arifin, difabel netra yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.