Lompat ke isi utama
Pertemuan Juru Bahasa Isyarat

Komunitas Tuli dan Juru Bahasa Isyarat Mulai Bangun Sinergi dengan Pelayanan Publik

FGD JBISolider.id, Yogyakarta - Keberadaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) menjadi prioritas utama bagi komunitas Tuli untuk mengakses informasi dan komunikasi dalam pelayanan publik. Ketimpangan jumlah JBI dibandingkan jumlah masyarakat Tuli di Yogyakarta menjadi salah satu kendala bagi masyarakat Tuli agar dapat menikmati pelayanan umum secara optimal. Selain itu, kosa isyarat dan kapasitas JBI yang terbatas juga menjadi hambatan terpenuhinya aksesibilitas bagi Tuli. PLJ (Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat) Yogyakarta didukung oleh Australia Global Alumni mengambil langkah untuk mendiskusikan rancangan koordinasi strategis ke depan dan peningkatan kapasitas JBI bersama dengan beberapa pihak terkait, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Kominfo, Dinas Pendidikan, Akademisi, Komunitas Tuli, dan relawan komunitas Tuli. Diskusi dengan tema Membangun Peluang Sinergitas Layanan JBI bagi Komunitas Tuli dalam Pelayanan Publik ini dilaksanakan pada 5 November 2019 bertempat di Hotel Cakra Kembang, Yogyakarta.

Diskusi yang dihadiri oleh 28 peserta ini bertujuan untuk menggali sumber-sumber yang dapat mendukung peningkatan kapasitas JBI serta mendapatkan rekomendasi peningkatan layanan publik yang ramah bagi Tuli. Arief Wicaksono perwakilan Gerkatin DIY menyampaikan bahwa hambatan terbesar yang ditemui oleh teman-teman Tuli dalam mengakses publik adalah komunikasi. “Ketika Tuli mengakses layanan di rumah sakit, samsat, apotik, mengurus dokumen di kantor dinas, atau di kampus, kami pasti menemui kendala karena banyak dari pelayanan publik tidak memahami bahasa isyarat. Pengalaman pribadi saya menempuh pendidikan di kampus, saya menemui banyak kendala komunikasi yang berdampak pada masa studi saya membutuhkan waktu yang lebih lama”, cerita Arief menggunakan bahasa isyarat.

Menanggapi hal tersebut, Ragil Ristiyanti perwakilan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan bahwa pihaknya dengan adanya Pusat Layanan Difabel memberikan layanan berupa notulen kepada mahasiswa Tuli pada proses belajar mengajar dan menyediakan JBI pada saat mahasiswa tersebut ujian atau presentasi makalah. Serupa dengan UIN, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan adanya Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus menyediakan notulen kepada mahasiswa yang Tuli. Beberapa staff dan pengajar di sana juga pernah membuka kelas bahasa isyarat.

Pelayanan tersebut bukan tanpa kendala. Minimnya jumlah relawan yang bisa berbahasa isyarat menjadi salah satu alasannya. Ahmad Imam perwakilan dari relawan komunitas Tuli pun mengakui bahwa banyak kegiatan seminar yang tidak dapat dinikmati oleh orang Tuli karena pihak penyelenggara tidak dapat memberikan akses JBI. “Kami sering mengadakan seminar-seminar di universitas-universitas, ada beberapa  teman Tuli yang berminat, karena kami tidak tahu untuk menghubungi JBI maka kami menolak kehadiran Tuli disitu”, ungkap Ahmad Imam.

Setelah memetakan kendala dan peluang, forum kemudian menghimpun beberapa usulan rencana tindak lanjut, diantaranya pihak akademisi berencana menghimpun kosa kata akademis di bidang tertentu dan mendokumentasikannya dalam bentuk kosa isyarat. Komunitas Tuli juga bersepakat untuk berjejaring dalam pendokumentasian kosa isyarat serta pihak pemerintah menghimbau agar PLJ Yogyakarta melakukan audiensi kepada pelayanan publik dan bisa dimulai dengan sosialisasi keberadaan layanan JBI sehingga pihak pemerintah tahu akan menghubungi siapa untuk meningkatkan pelayanan publik yang ramah bagi Tuli.[]

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.