Lompat ke isi utama
ilustrasi logo hollywood

Melihat Representasi Difabel dalam Industri Film Hollywood

Solider.id Malang - Film menjadi media yang sangat efektif untuk mengedukasi, mengianspirasi, dan bahkan menyebarkan ide-ide ke publik luas. Muatan cerita yang terkandung dalam sebuah karya film dapat membentuk cara pikir manusia terhadap suatu isu yang berkembang di masyarakat. Isu difabilitas dalam konteks film pun tidak terkecuali. Bagi para penikmat film-film Hollywood mungkin tidak asing dengan tokoh Professor X dalam serial fantasi X-Men, ataupun, tokoh Forrest Gump dalam film berjudul serupa. Kedua sosok ini belum banyak diketahui.  Ke dua atokoh dalam film ini merupakan contoh karakter difabel dalam sebuah film, yang juga sukses memuncaki tangga Box Office dunia. Karakter Professor X sebagai difabel paraplegia, dan Forrest Gump sebagai difabel intelektual mampu merepresentasikan setidaknya butiran kecil dari konsep difabilitas kepada masyarakat umum yang masih awam soal hal tersebut. Namun pertanyaannya sekarang, apakah pengadopsian karakter difabel seperti ini mampu secara seutuhnya menggambarkan kehidupan para difabel? Serta tak lupa juga, apakah kelompok difabel sendiri telah terepresentasi secara optimal dalam film kontemporer saat ini? Khususnya bagi produksi film yang datang dari Hollywood.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita mulai dengan sedikit statistik terlebih dahulu. Berdasar pada laporan dari The University of Southern California’s Annenberg School for Communication and Journalism 2017, terdapat sekurangnya 2.7 persen karakter dalam 100 film terlaris sepanjang tahun 2016 yang merrepresentasikan karakter difabel. Dan mayoritas karakter-karakter difabel ini sendiri berperan sebagai supporting roll (54.3 persen), dan Inconsequential roll (32.4 persen) menurut data dari Media Diversity and Social Change Initiative pada tahun 2016. Sekilas, angka ini menunjukkan bahwa, karakter difabel tidak banyak mendapatkan porsi dalam film-film populer. Sekalinya karakter difabel tersebut mendapatkan peran, acapkali peran tersebut bersifat minor dan tidak signifikan.

Sebenarnya, tanpa kita berpatokan pada data penelitian di atas, kita seyogyanya telah dapat melihat bahwa produksi film-film belakangan ini memang tidak banyak yang memasukkan difabel dalam setting cerita. Sekalipun ada, jumlahnya masih sedikit dan kerap kali digambarkan secara keliru oleh para aktor. Minimnya ketertarikan industri film Hollywood untuk mengambil konsep film dengan jalan cerita difabel membuat eksistensi kelompok difabel menjadi kurang tersuarakan. Akibatnya, ide-ide tentang difabel yang berdaya, jauh dari objek belas kasihan, dan bagian aktif dari masyarakat sosial jarang tersampaikan ke khalayak luas. Selain itu, pada sebagian kecil film yang ada unsur difabelnya, penggambaran difabel juga sering dikonstruksikan sebagai sebuah tragedi, obyek air mata, dan secara kurang manusiawi di masyarakat.

Contohnya bisa kita lihat pada salah satu film box office Me Before You yang tayang tahun 2016. Film yang dibintangi oleh aktor papan atas Hollywood macam Emilia Clarke dan Sam Claflin ini cukup mendapatkan sorotan tajam pasca rilisnya oleh komunitas difabel global. Me Before You sendiri menceritakan tentang kisah Louisa (Emilia Clarke) yang dipekerjakan oleh sebuah keluarga kaya raya di Inggris untuk menjadi pengasuh anak mereka yang masih muda, Will (Sam Claflin), yang merupakan difabel fisik berat quadriplegia. Selain kisah romansa yang terkandung di dalamnya, film yang diangkat dari buku novel berjudul sama ini juga mengisahkan perjuangan Will untuk mengakhiri hidupnya melalui jalan utanasia akibat difabilitas yang ia miliki.

Penggambaran Will oleh Sam Claflin ini sontak mendapatkan banyak kritikan pedas dari komunitas difabel hampir di seluruh dunia. Selain karena Me Before You menjadi satu lagi film produksi Hollywood yang mengangkat tokoh difabel namun diperankan oleh aktor nondifabel, melainkan juga karena Me Before You pada saat yang bersamaan mengilustrasikan secara explisif usaha Will dalam mengakhiri hidupnya sebagai konsekuensi dari quadriplegia yang ia miliki. Banyak pihak yang mengkritisi pesan yang terkandung dalam film ini. Seolah-olah kemudian, kehidupan sebagai seorang difabel merupakan sebuah kehidupan yang tidak layak, musibah, dan satu-satunya jalan keluar adalah kematian. Pencitraan difabel seperti ini juga akan semakin mengukuhkan  stereotip difabel di masyarakat sebagai orang sakit yang butuh diperbaiki secara fisik, alih-alih diberdayakan secara sosial.

Disamping itu, kecenderungan yang muncul ialah, industri perfilman kerap kali juga menjadikan karakter difabel sebagai karakter antagonis, penjahat, atau individu yang konyol dalam setting cerita. Akibatnya, kelompok difabel sering diasosiasikan dengan olok-olokan, Bullying atau perundungan, dan sumber tawa. Lihat saja karakter Joker ddalam film The Dark Knight yang seorang difabel mental, musuh dari John Wick pada John Wick Chapter 2 yang merupakan difabel tuli, karakter konyol Forrest Gump yang memiliki gangguan kecerdasan, hingga karakter-karakter antagonis dalam serial James Bond yang kebanyakan memiliki bentuk kerusakan pada wajahnya. Hal-hal tersebut dapat menunjukkan bahwa secara implisit atau bahkan eksplisit, karakteristik difabel telah dieksploitasi sedemikian rupa untuk menyokong kepentingan dari alur cerita film, tanpa kemudian memikirkan konsekuensi tindakan tersebut secara sosial dan jangka panjang.

Oleh karena itu, adanya representasi difabel dalam karya-karya perfilman Hollywood yang memanusiakan, memberdayakan, serta mampu melepaskan stigma-stigma negatif difabel menjadi sangat penting. Bahkan kalaupun memungkinkan, sepatutnya juga kelompok difabel dilibatkan langsung sebagai pemeran dari diri mereka sendiri, ketimbang  meminta aktor nondifabel memainkan peran sebagai difabel. Dengan cara ini maka personifikasi difabel di layar kaca akan setidaknya mampu tergambarkan secara fair dan bertanggung jawab. Ini bukan tidak mungkin terjadi. Faktanya, salah satu film Hollywood bernama Breaking Bad yang dirilis tahun 2007 melakukan hal tersebut dengan memilih RJ Mitte, yang merupakan difabel Cerebral Palsy sebagai salah satu pemeran utama dengan aktor-aktor lainnya dalam film. Ini artinya apa? Bahwa partisipasi difabel dalam dunia perfilman Hollywood itu sangat mungkin terjadi. Kuncinya hanyalah untuk mulai memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil.

Sekarang tugas kita para difabel untuk mulai menyadarkan para produser, sutradara, aktor, serta stakeholder terkait agar mulai melihat potensi difabel sebagai subjek dari konten film yang diproduksi. Seandainya usaha ini belum dapat terrealisasi secara maksimal, kita juga dapat mengadvokasi industri hiburan film pada level global maupun lokal untuk mulai mengambil pendekatan yang lebih humanis terhadap penggambaran difabel dalam film. Dengan ini, harapannya tentu stigma negatif yang melekat dan selama ini terbentuk akibat adanya representasi keliru difabel oleh media film dapat teratasi. Sehingga, film tidak hanya  menjadi sumber hiburan semata, namun juga mampu menjadi corong informasi dan advokasi bagi kelompok difabel kepada masyarakat luas pada era milenial sekarang.

 

Penulis: Made Wikandana

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.