Lompat ke isi utama
tanagn anak difabel (Kredit foto: Google)

Perkins dan Pentingnya Memahami Anak Difabel Ganda

Solider.id, Surakarta- Yusuf namanya. Ia salah seorang anak di Panti Sayap Ibu. Ia pengguna kursi roda dan memiliki hambatan sosial dan lingkungan. Namun, sekarang ia telah dapat berbisnis pulsa dan bisa berkarya dengan membatik. Suatu waktu Yusuf juga mengatakan keinginannya bisa bekerja di kafe.

Yusuf yang dahulu belum seperti sekarang, setelah menjalani penanganan khusus dari pendampingnya. “Kalau orang-orang di sekitar dia tidak merencanakan tentang hari ini, maka tidak akan ada Yusuf yang sekarang,” terang Weningsih dari Perkins. Yusuf dan kawan-kawannya bisa mengadvokasi dirinya sendiri bahwa dia bukan anak-anak lagi dan bisa hidup mandiri.

Yang diperlukan oleh orang-orang di sekitar Yusuf adalah target waktu ke depan. Ia akan tinggal sendiri di dalam rumah dan beraktivitas keluar rumah. Dimulai dari luar pintu rumah, mengakses jalan, mengakses alat transportasi umum, mengakses gedung perkantoran dan sarana publik lainnya dalam 3 tahun sampai 5 tahun kedepan.

“Saya menyukai sebuah kutipan terkenal bahwa “memulai dengan membayangkan hasil akhir,” ujar Weningsih memotivasi 20 peserta pelatihan holistik bagi anak disabilitas ganda dalam program NLR. Acara tersebut bekerjasama dengan PPRBM Solo dan SLB YPCM Boyolali di Hotel Loji pada akhir September 2019.

Lilis, ibunda Brian (16), seorang cerebral palsy dan global delay mengikuti pelatihan selama empat hari tersebut. Menurut Lilis, pengalaman pelatihan yang mampu melahirkan semangat dan tekad untuk melatih kemandirian brian.

“Saya akan ajak untuk gabung di usaha loundry saya. Saya ingin dia membantu saya dan dari sekarang sudah saya ingin perkenalkan,” terang Lilis. Saat ini Brian bersekolah di SLB Negeri Karanganyar.

Pengalaman lain didapatkan oleh Solider.id saat mengunjungi SLB dan menemukan murid difabel ganda. Arkan (11), Tuli dan autis sudah lebih dari lima tahun bersekolah di SLB Autis Harmony. Sedari kecil pula ia memakai alat bantu dengar. Menurut salah seorang guru pengajarnya, karena autis cenderung cuek, komunikasi, sosialisasi kurang dan juga berkurang berfungsi telinga, maka alat peraga yang digunakan untuk mengajar Arkan adalah visual.

“Dulu itu Arkan masih suka jalan-jalan, dan kalau diajar tidak mau. Kepatuhannya sekarang sudah lumayan bagus. Dia menulis bagus, motoriknya bagus. Dia menyalin juga bisa. Masih pakai contoh gambar dan di bawahnya ada tulisannya,”jelas guru sekolah Arkan.

Di sela-sela pelatihan holistik bagi anak difabel ganda, solider.id berkesempatan untuk mewawancarai Weningsih dari Perkins. Paparan dan tuturannya terkait pengalaman selama bersentuhan dengan anak-anak difabel ganda bersama Perkins, sulit untuk dilewatkan begitu saja.

Apa misi Perkins?

Misi kami secara internasional adalah untuk memaksimalkan atau untuk memastikan anak-anak Multiple Disability Visual Impairment (MDVI), yakni hambatan penglihatan dengan difabilitas tambahan. Kita fokus kesitu. Cuma di Indonesia tidak hanya anak-anak yang MDVI itu tetapi anak-anak yang difabel majemuk itu belum maksimal menjangkau pendidikan. Misi kami adalah anak-anak itu bisa menjangkau pendidikan, apapun bentuk pendidikannya mau formal, informal, itu misi kami.

Apakah Perkins juga menangani anak secara langsung?

Saya tidak menangani anak secara langsung. Saya lebih pada membangun partnership, membangun kerja sama dengan pemerintah dengan stakeholder-stakeholder yang ada di negeri ini supaya bisa dalam kebijakan nasional maupun juga di tataran praktisi, sekolah, di tenaga-tenaga yang lain.

Kami tidak hanya untuk sesuatu yang sifatnya pasif, makanya kami mendatangi sekolah-sekolah, kelompok orangtua, juga universitas. Makanya dulu pernah kerja sama.

Kenapa anak-anak itu dianggap penting?

Kita mempercayai, ketika melihat segala macam hak, semua mengatakan bahwa satu dari UNCRPD yang sudah diratifikasi bahkan di Undang-Undang kita sendiri bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan. Semuanya nggak ada yang boleh tertinggal.

Terus dari jumlah, sebenarnya sangat banyak tidak didata, atau mereka sudah ada di sekolah tetapi tidak mendapatkan layanan. Kalau yang Indonesia lakukan? Di Kementerian, Penddidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK), sebelum mengetahui adanya MDVI.

Waktu Perkins datang ke Indonesia 25 tahun yang lalu, anak-anak ini yang jelas tidak dikenal. Tidak ada program, waktu itu hanya ada satu program di Indonesia yakni di Jakarta, selebihnya tidak ada program lain untuk anak ini walaupun sekarang bukan berarti banyak banget program selama kami di sini.

Sekarang banyak orang yang tahu bahwa anak-anak ini secara dalam policy kita, belum ada statemen tentang anak-anak dengan multiple disability. Masih single-single disabilitas.

Bagaimana dengan para terapis?

Terapis-terapis yang lain juga belum untuk anak-anak yang ada sejak lahir. Juga yang menjadi konsen kami adalah setiap bagian itu bekerja sendiri-sendiri. Dari dulu sampai sekarang belum terjadi. Dari program-program yang kami datangi mereka yang tidak punya latar belakang pendidikan atau pelatihan khsusus sebelumnya. Karena banyak hal yang sebenarnya common sense untuk membantu modifikasi alat-alat tertentu. Cuma dibutuhkan pengamatan.

Seorang guru mesti punya penuh kesadaran dan mesti memikirkan untuk memungkinkan anak bisa, enable, untuk memastikan anak itu mampu.

Bagaimana kemudian tertarik berkecimpung di Perkins?

Saya lebih pada country representatif di Indonesia walaupun kita udah punya banyak staf di Asia sendiri. Di Asia ini kami ada kantor di India. Di sana ada dua atau tiga orang, tapi itu tidak mendukung program yang di Indonesia. Tapi ada dua orang di Asia yang kita saling bantu-membantu. Direktur kami untuk Asia pasti dia berkantor di Boston, Amerika Serikat. Sebenarnya kalau di Asia ini kami hanya berdua. Satu di India dan satu saya.

Apa yang kemudian didapatkan di lapangan?

Di perkuliahan dapatnya ya gitu-gitu aja, antara training dan aplikasi berbeda. Dan itulah yang membuat tantangan untuk bisa melakukan sesuatu ketika aplikasi kepada anak dan memberitahu kepada mereka apa itu benar dan salah.

Kita evaluasi untuk diri kita. Saya juga tidak mengerti bahwa apakah ibu-ibu berpikir bahwa ini sesuatu yang membosankan atau sesuatu yang nggak mungkin atau sesuatu yang baru dan menantang yang mengubah mereka.

Karena kadang-kadang keika kita berteori banyak banget, kita terblok kemudian kita lupa pada hal-hal yang simple. Saya selalu belajar dari mentor saya yang dia selalu bilang, keep it simple, jadi just keep its simple, jangan berpikir terlalu tinggi. Berpikir dari sesuatu yang dianggapnya ideal tetapi akhirnya tidak menginjak bumi, nggak sesuai.

Apa yang dilakukan oleh Perkins dalam pelatihan-pelatihannya? Dan bisa kasih contoh anak yang boleh dikatakan berhasil dalam pelatihan?

Pelatihan, kita ada empat level di Indonesia. Dari enam kelompok sampai kemudian terakhir satu kelompok. Sistemnya eleminasi.

Bella adalah anak cerebral palsy. Dia membaca pertanyaannya dan menjawab dengan menulis dengan querty di pertemuan kedua. Sekarang dia sudah di level kalimat. Dari assesment itu, dia mempunyai kesulitan untuk menggerakkan dan kesulitan memakai komputer.

 

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.