Lompat ke isi utama
Kaca Pembesar untuk Low Vision

Low Vision, Difabel Tersembunyi yang Belum Banyak Dipahami

Solider.id, Bandung – Secara umum, jenis difabel yang dikenali oleh masyarakat luas adalah mereka yang memiliki hambatan pada fungsi penglihatan, pendengaran, konsdisi secara fisik, atau mental serta kemampuan secara intelektual. Sementara, ragam secara detil seringkali belum dipahami. Salah satu penyebabnya adalah masih minim pengetahuan dan arus informasi yang didapatkan.

Bentuk edukasi publik maupun cara mensosialisasikannya masih  belum maksimal, sehingga di lingkungan sosial masih saja terdapat ketidakpahaman  tentang kebutuhan dan aksesibilitas  bagi masyarakat difabel tertentu. Padahal, mereka memiliki karakteristik yang berbeda.

Bertepatan dengan Hari Penglihatan Sedunia dan Hari Tongkat Putih Internasional, secara khusus solider.id  akan mengulas  difabel Netra low vision. Tulisan ini diangkat tanpa bermaksud untuk menyekat atau menebalkan perbedaan antara totally blind dan low vision. Melainkan, untuk membuka wawasan masyarakat umum agar lebih mampu memahami  low vision.

Memahami Low Vision

Bila boleh meminjam statement Ariyani, Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia pada perayaan ulang tahun mereka beberapa waktu yang lalu,  ‘Low vision merupakan difabel yang tersembunyi atau tidak terlihat.’

Mengapa demikian?

Sebab mereka yang low vision, ada yang memiliki bola mata utuh dan tanpa menggunakan alat bantu semisal tongkat putih lazimnya totally blind. Para low vision lebih nyaman menggunakan kaca mata, layaknya orang yang memiliki gangguan mata minus dan sejenisnya. Namun, saat mereka berada di tempat umum banyak hambatan yang masih dirasakannya atau bahkan sulit untuk diakses.

Sebagian opini lain berpendapat, low vision dianggap difabel Netra yang angkuh karena masih memiliki sisa penglihatan. Padahal, mereka hanya ingin mengoptimalkan fungsi penglihatannya. Sehingga walaupun banyak menghadapi kesulitan, mereka memiliki alternatif kemudahan seperti saat membaca dan sebagainya. Selain itu, mereka pun akan memiliki banyak ruang dan kesempatan yang dapat diraih. Sebab, dalam kasus tertentu low vision sangat minim mengalami kebutaan maupun kemunduran pada fungsi penglihatannya. Bahkan diakui para low vision adanya prediksi terkait kemunduran sisa penglihatan bertahap meraka pun terbantahkan. Kawan-kawan low vision merasakannya tidak demikian dan prediksi tersebut dianggap mitos.

“Adanya anggapan kalau low vision akan mengalami penurunan pada penglihatannya bahkan kebutaan, itu mitos,” jelas Ajiwan Arief Hendradi, yang memiliki profesi sebagai editor media online di Yogyakarta.

Termasuk Ajiwan, dalam melakukan tugas pekerjaan sebagai tim editor yang bergelut dengan tulisan visual atau tulisan awas, mengaku lebih menyukai membaca tulisan dengan memaksimalkan penglihatannya ketimbang menggunakan bantuan aplikasi. 

Aksesibilitas dan Kebutuhan Low Vision

Pada umumnya setiap difabel Netra yang mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), baik totally blind maupun low vision diwajibkan untuk dapat mengakses braille sebagai media dasar baca, tulis, hitung. Braille dalam bentuk huruf maupun angka, membutuhkan teknik tersendiri untuk mempelajarinya.

Untuk membuat tulisan timbul braille (Huruf dan Angka) dibutuhkan alat bantu berupa reglet dan pen (stylus) khusus. Sementara, untuk membacanya dibutuhkan daya perabaan pada ujung jari yang peka.

Aksesibilitas tersebut yang dianggap kurang cocok diterapkan kepada  para low vision. Mereka yang masih memiliki  fungsi penglihatan, meski sangat terbatas. Low Vision cenderung lebih merasakan nyaman membaca dan menulis dalam huruf visual meski harus menggunakan alat bantu.

“Tidak semua low vision memiliki kemampuan indera raba yang peka, termasuk diri saya,” papar Ajiwan.

Senada dengan Ajiwan, Dudi N Rahimi, low vision asal Bandung yang aktif berorganisasi ini pun mengakui dirinya tidak bisa menggunakan braille. Indera raba pada ujung jari dirasakan tidak mampu mengakses titik-titik braille. Bahkan menurut pendapatnya, banyak  low vision yang tidak menguasai braille.

“Saya dari awal kesulitan belajar braille, sehingga tidak mempelajarinya, dan kebanyakan yang low vision tidak bisa braille. Jelasnya.

Kesetaraan mempelajari braille untuk difabel Netra totally blind maupun low vision di ranah pendidikan khusus, disinyalir untuk berjaga-jaga adanya prediksi penurunan fungsi penglihatannya. Padahal, bagi mereka para low vision ada yang merasa kesulitan menggunakan braille, karena mampu melihat dalam jarak pandang tertentu. Atau, mereka justru memiliki daya raba yang sangat kurang peka.

Bagi low vision yang masih cenderung dapat mengakses tulisan visual atau membacanya menggunakan tulisan awas, potensi mereka belum tentu di aksesibilitas braille. Kondisi tersebut lah, yang masih sangat minim dipahami oleh tenaga didik di ranah pendidikan khusus. Model pembelajaran untuk mereka yang low vision belum tentu mampu di braille. Dan hal ini akan menjadi sangat berpengaruh terhadap nilai akademis mereka.

Mereka low vision dan mampu mengakses seluruh aksesibilitas layaknya difabel Netra totally blind seperti; menggunakan tongkat putih, aplikasi yang memudahkan untuk menggunakan alat kerja misalnya leptop, smartphone dan lainnya, memiliki nilai tambah tersendiri.

Kelebihan mereka sebenarnya masih dapat memiliki kesempatan lain, seperti mengakses komputer atau leptop biasa dengan pencahayaan kontras tertentu. Selain itu, mereka mampu baca tulis visual. Sehingga, diakui mereka yang low vision umumnya tidak bisa braille, bahkan ada pula yang tidak mempelajari braille karena mereka mengenyam pendidikan di sekolah reguler.

Alat bantu yang sering digunakan low vision adalah; kaca pembesar dengan tambahan lampu atau magnifier, luv biasa, telescope untuk melihat tulisan berjarak, atau periscope yang merupakan aplikasi steaming vidio langsung untuk android, dan alat optik lainnya.

“Untuk melakukan baca tulis huruf awas bisa menggunakan alat bantu seperti luv atau kaca pembesar,” tutur Dudi.

Adanya pergeseran media literasi di dunia difabel Netra, dari analog atau braille ke digital, memberi ruang lebih terhadap para low vision. Mereka yang sudah bisa braille pun mulai beralih ke media digital seperti; talkback, JAWS, NVDA.

Low vision dalam membaca lebih suka dengan ukuran tulisan besar. Saat menggunakan alat kerja berupa leptop atau komputer biasanya setingan meja harus pas, sehingga tidak terlalu rendah sampai menunduk. Arah wajah dan posisi duduk harus diperhatikan juga. Dan mereka lebih menyukai dan merasa nyaman dengan dibaca secara manual ketimbang mendengarkan teks yang dibacakan menggunakan aplikasi digital. “saya kalau kerja mengedit tulisan misalnya, lebih nyaman menggunakan tulisan yang dibaca secara manual. Dengan cara ini, saya akan mengatahui secara detail tentang tanda baca dan struktur kalimat yang dibuat oleh penulis” tambah Ajiwan.  

Untuk aksesibilitas di tempat umum atau di ruangan, mereka yang low vision menyukai tempat terang. Seperti pencahayaan baik alami maupun lampu, warna dinding yang cerah, hingga plafon dalam ruangan yang cerah, dan lantai putih dirasakan lebih aksesibel. Pencahayaan ruangan yang cukup dianggap lebih mudah untuk beraktivitas kawan-kawan low vision.

Diakui mereka yang low vision, berjalan di lantai yang beberapa meter memiliki perbedaan warna lantai akan terasa aneh dan membingungkan, mereka sulit mendeteksikannya. Sehingga disiasati dengan memperlambat langkah. Pun demikian saat mengakses anak tangga manual, low vision butuh tanda khusus di ujung tangga agar bisa nyaman turun naik. Begitu pula saat mereka mengakses toilet umum, sebaiknya tulisan atau gambar yang menunjukan keterangan gender dibuat lebih besar dan kontras.

“Saya menggunakan kaca mata minus yang tebal untuk membantu jarak penglihatan,” kata Dudi.

Bila selintas berpapasan dengan Dudi mungkin akan tampak seperti bukan difabel low vision, karena memiliki bola mata utuh dan kaca mata lensa bening seperti pada umum. namun, tetap saja sangat membutuhkan pencahayaan yang tinggi untuk membantu penglihatannya.

Belum banyak orang yang mengetahui antara totally blind maupun low vision. Padalah, mereka memiliki kebutuhan dan rasa nyaman yang berbeda dalam aksesibilitas yang diperlukan.

Sebagai informasi tambahan yang masih jarang diketahui masyarakat luas, Ajiwan menuturkan, dengan terus tetap mengoptimalkan sisa fungsi penglihatannya untuk ragam aktivitas rutinnya, pada low vision memang harus dilatih. Karena dengan demikian, penglihatan mereka akan lebih sehat dan berfungsi secara optimal.

Sangat disayangkan, mereka yang low vision dan memiliki jarak pandang masih jauh, namun mereka tidak memiliki kemampuan membaca menulis huruf visual atau tulisan awas. Padahal, mereka mampu dalam mengakses kendaraan seperti mengendarai motor atau sepeda. Mereka yang mungkin tidak dikanalkan huruf visual, mengalami jenjang pendidikan yang belum maksimal. Atau jarang yang melanjutkan hingga bangku kuliah. Hal tersebut menjadi salah satu dampak dari penyamarataan pendidikan dikalangan difabel Netra, baik totally blind maupun low vision.  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.