Lompat ke isi utama
Heru Sulistyo

Heru Sulistyo, Wujudkan Renjana jadi Ladang Laba

Solider.id, Malang – Musikku adalah hidupku. Mungkin kata itu yang cocok untuk menggambarkan perjalanan seorang Heru Sulistyo atau  lebih akrab dipanggil Mas Heru. Ia adalah sosok difabel netra yang mempunyai jiwa pengusaha. Pria kelahiran 39 tahun yang lalu tepatnya 3 Maret 1980 di Malang Jawa Timur ini juga mempunyai kegemaran dalam bidang musik. Ia mengaku kedua orangtuanya senang mendengar musik klasik pop, hampir setiap hari musik yang didengar olehnya beraliran klasik pop ataupun aliran musik rock.

 “sejak saya masih kecil, orangtua saya sangat sering memutar lagu. Genre musik yang selalu diperdengarkan kepada saya adalah musik klasik, pop, atau rock, baik lagu dalam negeri maupun luar negeri. Saya tidak pernah mendengar orangtua saya memutar musik dangdut, keroncong dan sejenisnya” tutur Heru.

Sejak kelas 4 SD jiwa bermusiknya mulai terbangun terlebih saat ia diajak seorang temannya untuk menonton sebuah video life konser salah satu band rock terkenal.  Sejak itu, ia benar-benar ingin bisa memainkan alat musik dan saat  duduk dibangku SMP, didorong oleh rasa penasarannya Heru mencoba pergi ke studio musik milik salah satu temannya. Alat musik pertama yang membuatnya tertarik untuk mencoba ialah drum. “waktu itu entah kenapa saya sangat tertarik dengan alat musik drum, kebetulan saat saya menonton video life konser yang tersorot kamera saat itu paling banyak pemain drumnya, dan saat saya pertama kali mencoba drum, letak susunan kaki serta tangan saya langsung benar padahal saya belum pernah belajar sebelumnya” ujar Heru sambil mengingat masa kecilnya.

Kegemaran bermusik Heru ternyata mendapat tanggapan yang kurang disetujui oleh orangtuanya sebab sejak mengenal pergaulan dengan anak-anak band, penampilan Heru saat itu berubah, oleh karenanya ia  sama sekali tidak dizinkan untuk bermusik. Namun untuk mendengar musik masih diperbolehkan, “saat itu kira-kira era 80-an musik rock sangat terkenal dikalangan anak-anak muda khususnya di Kota Malang.  Penampilan yang identik dengan musisi rock seperti rambut yang gondrong, menggunakan kalung yang banyak, menggunakan  gelang rantai, celana yang sengaja dilubangi dan masih banyak lainnya membuat saya terpengaruh ingin mengikuti gaya mereka.  Namun dibalik itu ada hal positif yang saya dapat.  Rata-rata lagu rock yang saya dengar berbahasa inggris dan saya sangat penasaran untuk mengerti apa artinya saya mencari tahu terjemahannya dalam bahasa indonesia, secara tidak langsung saya banyak belajar bahasa inggris dari lirik lagu hingga saya pernah beberapa kali mendapat penghargaan dalam bidang bahasa inggris waktu SMP”.

Sejak saat itu Heru mulai mendalami kegemarannya bermusik dengan diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya. Hal itu masih berlanjut hingga Heru duduk di bangku SMA. Saat berseragam putih abu-abu, Heru membentuk sebuah band beraliran metal bersama teman-temannya dan sangat sering mengikuti kejuaraan ataupun festival band khususnya di jawa timur. Band yang ia bentuk bersama kawan-kawannya  pernah menyabet juara. Selain aktif menjadi anak band, Heru juga mempunyai usaha kecil-kecilan yaitu jual beli kaset. Di era 80 hingga 90an, banyak orang masih mendengarkan lagu melalui kaset.  

Semua kegiatan bermusik yang dilakukan Heru tidak pernah diketahui oleh orang tuanya. Sampai pada  1998 Heru mengalami kecelakaan hingga membuatnya menjadi difabel netra. Hilangnya kemampuan untuk melihat menjadikan sosok Heru sangat depresi terlebih selama ini ia telah malang melintang menjadi musisi band metal dengan segala stylenya. “Hanya ada satu hal dipikiran saya waktu itu setelah saya kehilangan penglihatan yaitu bagaimana saya bisa bekerja dalam keadaan saya yang seperti ini agar saya bisa menghasilkan uang dengan mandiri” ceritanya sambil meraih secangkir kopi  yang ada di depannya.

Mulai saat itu Heru diusianya yang masih 18 tahun dan baru lulus dari tingkat SMA perlahan tapi pasti menemukan jati dirinya kembali “saya sangat beruntung dalam keadaan saya yang tidak bisa melihat lagi. Teman-teman band saya ternyata masih menerima saya, hal itu pulalah yang membuat saya bisa bangkit dari keadaan saya sebelumnya. Orangtua saya pun yang sebelumnya sangat kuat menekan saya untuk tidak bermain musik, setelah keadaan saya yang tidak bisa melihat menjadi berbeda, saya tidak lagi ditekan untuk tidak bermain musik lagi tetapi saya diberi kelonggaran untuk memilih apa yang telah menjadi hobi saya”.

Didorong oleh jiwa pengusahanya pada sekitar tahun 1999 Heru mencoba membuka bisnis Wartel (warung telepon). Penghasilan dari membuka wartel cukup lumayan. Ia bisa menabung untuk membeli satu set drum untuk mengasah kemampuannya. Bisnis wartel di tahun-tahun tersebut seperti diujung tanduk. Ia tergerus oleh perkembangan zaman, saat orang-orang mulai gemar menggunakan ponsel untuk berkomunikasi. Selain wartel Heru juga sempat membuka rental Play Satation yang pada akhirnya harus mengalami kebangkrutan. Kegagalan dalam membangun usaha tidak membuatnya takut untuk memulai bisnis yang baru, perlahan tapi pasti Heru terus menambah koleksi alat musiknya dari mulai drum, gitar, bass dan sound mixer. Heru membuka studio musik walau dengan alat dan tempat yang seadanya. Namun Heru berani mencoba. Dengan dibantu orang-orang kepercayaannya Heru berhasil menjalankan bisnis barunya tersebut yang diberi nama Aria Musik Studio 621.

Seiring berjalannya waktu bisnis studio musik yang dibangun Heru bukan tanpa kendala, bahkan menginjak tahun 2007-2008 studio musiknya mengalami kemunduran dan sangat sepi pengunjung, “alat musik yang ada di studio saya waktu itu sudah menua termakan usia dan sudah kurang layak untuk disewakan, dampaknya satu persatu karyawan saya mengundurkan diri” ujar heru mengenang masa itu. Rasa khawatir sempat menyelinap di dalam hatinya bagaimana ia bisa mengelola studionya seorang diri dengan keadaannya  sebagai difabel netra. Namun justru saat itulah ia berhasil menikahi seorang perempuan bernama Ken Nindya Parinusa yang ia kenal melalui acara musik di salah satu radio, dan saat ini ia telah mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Adrian Adha Adithama dari hasil pernikahannya  dengan seorang yang sangat dicintainya. Setelah melewati beberapa fase akhirnya Heru berhasil membangun serta mengelola studionya secara mandiri, justru saat dikelola olehnya sendiri studio musik Aria 621 meningkat pesat. Kini omzet penghasilannya menembus angka tidak kurang dari 8 sampai 9  juta perbulannya bahkan bisa lebih. “Saya tidak pernah menyangka kalau akhirnya hobi saya dalam bidang musik sangat berperan dalam perjalanan hidup saya karena melalui musik saya banyak bertemu orang-orang yang membangkitkan saya dari pasang surutnya kehidupan, melalui musik juga saya bisa bertemu dengan jodoh yang diberi Tuhan kepada saya. Andai dulu saya berhenti bermusik, mungkin saya tidak pernah sampai di detik ini setidak-tidaknya untuk diri saya pribadi” tuturnya mengakhiri sisi wawancara.

Heru Sulistyo merupakan contoh seseorang yang bisa menjadikan renjana (passion) dan hobinya  menghasilkan dan bahkan dapat menjadi tulang punggung menghidupi keluarga kecilnya. Ketekunan, kegigihan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya mampu mengantarkannya menjadi pengusaha sukses di bidang musik. Tidak banyak orang yang mampu menjadikan hobi dan renjananya menjadi pundi-pundi rupiah. Menganali diri dan mencari peluang adalah sebuah keniscayaan.

 

Reporter: Harisandy

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.