Lompat ke isi utama
Saya dan Pak Ali Afandi ketika berjalan di Garbarata menuju kabin pesawat

Ketika Low Vision dan Netra Mencoba Aksesibilitas Bandara YIA

Solider.id, Kulonprogo - Pertengahan Oktober lalu, 25 difabel asal Yogyakarta mencoba aksesibilitas bandara  Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Beberapa hari sebelumnya, saya dihubungi oleh bapak Suharto, direktur lembaga tempat saya bekerja.

Beliau memerintahkan saya atau kawan kontributor solider yang difabel netra untuk ikut kegiatan itu. Tentu saja saya bersedia mengikuti kegiatan ini. Kesempatan untuk bisa mencoba mengakses bandara Yogyakarta baru yang kontroversial itu.

Lagi pula lumayan untuk penyegaran sebelum akhir pecan dan sejenak meninggalkan  meja redaksi solider tercinta. Kegiatan ini diorganisir oleh beberapa komunitas difabel di Yogyakarta. Ada YAKKUM, UCPRUK, Nali Tari, dan Sigab  Indonesia tentunya.

Saya mengajak pula pak Ali Affandi, kolega saya yang sehari-hari bertugas di Unit Braille Sigab. Kebetulan hari itu ia tidak ada jadwal untuk menjadi khatib atau mu’adzin di Masjid. Saya ingin sekalian ngevlog di hari itu. Mumpung bisa sampai bandara baru dengan gratis dan nyobain aksesibilitasnya. Lagi pula, kami sedang coba mengembangkan channel Youtube untuk media kampanya kami.

Kami bersama beberapa kawan yang lain berkumpul di SPBU Ambarketawang. Pihak Angkasa Pura memfasilitasi kami dengan mobil jemputan. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih satu jam. Kami sangat menikmati perjalanan di pagi itu, meskipun pak Catur mengendalikan mobil dengan kecepatan tinggi.

Sesampai di Bandara NYIA kami berkumpul dan mendengarkan penjelasan. “teman-teman hari ini akan mencoba aksesibilitas bandara NYIA, dari mulai keberangkatan, hingga kedatangan. Jika ada yang belum akses, silakan disampaikan saja, jangan sungkan”, ujar May, salah satu assesor yang pada saat itu memimping pengarahan.

Rombongan dibagi kedalam empat kelompok besar berdasarkan ragam difabelnya. Ada kelompok difabel fisik, mental, intelektual dan sensorik. Kebetulan, saya, dan pak Ali masuk di kelompok difabel sensorik bersama kawan-kawan Tuli. Oh iya, perlu dicatat bahwa simulasi ini dilakukan sesuai dengan kondisi sehari-hari, tidak ada setingan ala-ala acara televisi yang kaleng-kaleng itu.

Kami mulai dari areal keberangkatan. Saya bersama pak Ali berjalan pelan-pelan dari areal tempat menurunkan penumpang dari mobil hingga pintu masuk. Di sana, tidak ada area khusus difabel dan tak ada petugas yang berjaga-jaga dan siap damping kami.

Saya membayangkan, betapa sulitnya mengakses bandara sebesar ini secara mandiri. Apalagi kalau seandainya tidak ada tempat drop khusus dan tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk yang membolehkan difabel bisa berjalan dengan nyaman.

Apalagi seandainya ojek online tetap dilarang mendekati area bandara. Kami terus berjalan menuju pintu masuk bandara. Tak ada petugas yang berjaga dan membantu kami. Kami berjalan secara mandiri, hanya mengandalkan tongkat putih dan sesekali mbak-mbak Costumer Service yang seharian menemani kami juga membantu mengarahkan.

Dari area keberangkatan sampai mbak CS yang memesona

Dimulai dari pintu masuk, hawa sejuk segera terasa saat kami mulai masuk ruangan area keberangkatan. Kami berjalan cukup jauh setelah kami masuk ke ruangan. “disebelah kiri bapak ada area Check in mandiri, coba kita kesana” seru Lupita, Costumer Service berkerudung cokelat itu.

Mesin Check In mandiri berlayar sentuh seperti ini tentu tidak ramah bagi kawan-kawan difabel netra. Mesin ini tidak memiliki pembaca layar yang mempermudah kawan-kawan netra mengaksesnya. Selain itu, ukuran huruf tulisan yang terdapat pada tampilan antarmuka mesin ini juga cukup kecil, menyulitkan bagi kawan-kawan low vision.

Layarnya tidak ada screen reader sehingga menyulitkan bagi netra. Selain itu dari sisi tingginya, menyulitkan untuk kawan-kawan pengguna kursi roda jika ingin mengaksesnya.

Ada lagi catatan dari Cak Fu atau Bahrul Fuad yang saat makan siang sempat berbincang-bincang dengan saya. “Dari tempat menurunkan penumpang sampai ke area check in itu cukup jauh, makanya saya tadi mengusulkan agar setiap paling tidak 10 meter ada kursi prioritas untuk difabel dan lansia bisa beristirahat. Kalau teman-teman yang pakai protese dan kaki palsu tentu akan sangat kelelahan dan kaki menjadi sakit kalau kelamaan jalan,” jelas Cak Fu siang itu.

Kami juga mencoba simulasi di area check in manual. Petugas maskapai cukup ramah. Meja check in standar seperti halnya meja check ini pada umumnya. Jika mejanya tinggi juga menyulitkan bagi kawan little people untuk mengakses secara mandiri.

Sepanjang perjalanan kami dari luar hingga pintu masuk dan bahkan check in counter, tidak ada satupun jalur pemandu atau guiding block. Kami cukup kesulitan menentukan arah, jika tidak dibantu oleh costumer service yang menemani kami, tentu kami akan kebingungan.

Usai melewati area pemeriksaan barang, kami menuju lantai dua untuk menuju ke Gate Akses. Jalan menuju lantai dua kami lalui dengan menggunakan tangga berjalan. Menurut petugas yang temani kami, ada lift untuk menuju lantai dua sebagai alternatif bagi kawan-kawan berkursi roda. Ketika akan sampai di ujung escalator, saya tidak menemukan tanda tertentu sehingga saya merasa kesulitan untuk mengaksesnya.

Pengalaman waktu di Australia, jika hendak masuk ke eskalator, ada penandanya. Lantai menuju area eskalator dibuat bertekstur, sehingga cukup mudah untuk mengenali bahwa didepan ada eskalator atau ada sesuatu yang mengharuskan harus berhati-hati.

Setiba di lantai dua, suasana masih cukup sepi. “Disebelah kanan kita ada toilet difabel dan mushola, mari kita coba ke sana pak” ungkap Lupita kala itu. Kami menuju ke sebuah lorong. Di sana terdapat beberapa pintu yang menuju ke beberapa ruang seperti toilet pria, wanita, toilet difabel dan mushola.

Saya berinisiatif untuk mencoba toilet difabel. Secara desain, toilet ini sudah cukup aksesibel. Lebar ruangan, pintu geser, toilet duduk, handrail dan sejumlah elemen yang lumrah ada di tiap toilet aksesibel sudah ada di toilet yang saat itu saya coba. Bahkan, toilet ini juga cukup modern. Pintu geser yang berada di depan toilet ini menggunakan mekanisme elektrik. Pengguna tinggal menekan tombol untuk membuka dan menutup pintu toilet. Tak hanya itu, pada tombol juga tertulis huruf braille untuk simbol “open” dan “closed”. Pada tombol tersebut, juga terdapat lampu LED yang akan menyala jika tombol itu ditekan oleh seseorang.

Namun, dari segudang kemudahan yang terdapat dalam toilet tersebut, terdapat satu kekurangan. Pada saat pintu bergerak terbuka atau tertutup, tidak ada efek suara untuk mempermudah kawan difabel netra mengetahui posisi pintu.

Selain itu, ketika kamar mandi tersebut sedang ada yang menggunakan da nada kawan netra yang menekan tombol untuk membuka pintu, belum ada efek suara yang menunjukkan bahwa di dalam sedang ada orang. Penanda ini hanya berupa lampu yang tidak begitu terang yang sulit untuk dideteksi bagi kawan low vision sekalipun.

Puas mengeksplorasi area toilet difabel, kami segera menuju ke area mushola di terminal keberangkatan. Tempat ini tak luput daria catatan kami. Mushola ini belum memiliki tempat wudlu yang aksesibel. Tempat wudlu yang terdapat tempat duduk didepannya belum tersedia di sini. Selain itu, memasuki ruang shollat, belum ada tanda yang menunjukkan arah kiblat bagi kawan-kawan difabel netra. “Coba kalau saya berada di ruangan ini sendiri, saya tidak akan tahu arah kiblatnya” ujar saya kepada Lupita.

Beres menjelajahi area toilet dan mushola di terminal keberangkatan, kami segera menuju ke ruang tunggu dan gate keberangkatan. Di beberapa bandara, area ini adalah tempat yang paling saya sukai ketika mengakses sebuah bandara. Sebab, biasanya tempat ini secara pencahayaan cukup terang karena di samping kiri dan kanan ruangan terdapat kaca jendela yang cukup lebar dengan pemandangan berbagai pesawat yang sedang parkir menunggu jam keberangkatan.

Selain itu, ruangan tunggu dan gate akses adalah ruang terakhir yang biasanya kita akses sebelum memasuki pesawat. Namun tidak demikian dengan desain ruang tunggu di Bandara NYIA. Ruangan di tempat ini tidak terlalu terang dan agak minim pencahayaan. Jendela luar hanya terdapat pada satu sisi ruangan. Pun jendela tersebut tidak teralu luas.

Hal ini mengakibatkan efek pencahayaan yang dihasilkan di dalam ruangan juga tidak maksimal. Mungkin hal itu berpengaruh dari tidak tingginya plafon yang ada di ruangan tersebut. Plafon ruang tunggu sebuah bandara besar biasanya didesain tinggi seperti Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta, dan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar.

Dengan demikian ambiance dan pencahayaan di ruangan pada siang hari juga semakin luas dan semakin terang. Faktor pencahayaan ini tentu sangat berpengaruh pada lowvision yang berjalan secara mandiri areal tersebut.

Cukup jauh kami berjalan menuju gate 3, tempat kami melakukan simulaasi untuk masuk kepesawat. Agar tidak merasa lelah, Lupita mengajak saya berjalan di atas elevator, semacam escalator datar yang umumnya ada di bandara-bandara besar.

Namun di ujung menuju elevator, lagi-lagi saya tidak menemukan tanda khusus yang memudahkan tongkat putih saya untuk mendeteksi jalan. Hal ini juga menjadi catatan penting kami hari itu. Beberapa meter sebelum memasuki gate 3, kami diminta untuk mengikuti alur untuk mengantre.

Alur untuk menuju ke gate tidak ada penanda khusus atau guiding block, kami sedikit kebingungan, alur hanya dibatasi dan dipisahkan oleh sehelai pita yang dibentangkan seperti halnya jalur pemisah untuk mengantre pada ceck in counter. Alur antrian yang sedikit berliku dan membingungkan telah kami lewati, kini saatnya kami menuju ke tempat petugas pemeriksa boarding pass.

Petugas cukup ramah, ia menjalankan tugasnya sesuai umumnya prosedur, tak ada perlakuan khusus pada kami, penumpang simulasi. Berjalan ke dataran yang akan menurun dan sediit berbelok dan akhirnya masuk ke garbarata kami lalui tanpa hambatan sedikitpun. Tempat ini cukup terang dan datar, bola pada ujung tongkat putih yang saya gunakan menggelinding dengan lincahnya.

Hingga kami memasuki garbarata, lorong yang menghubungkan terminal keberangkatan dan badan pesawat. Sebuah kemewahan memang bandara Yogyakarta kini punya alat seperti ini. seperti umumnya garbarata. Lorong ini cukup terang. Di sisi kiri dan kanan terdapat kaca yang cukup luas yang memungkinkan penumpang dpaat melihat areal luar ruangan yang cukup luas.

Selain itu garbarata ini juga dilengkapi dengan lampu-lampu yang cukup terang pada sisi kiri dan kanan plafonnya. Setiba di kabin pesawat, kami mendapatkan asistensi dari pramugari pesawat dan mengantarkan kami ke tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada boarding pass.

Area kedatangan, lift tidak akses dan area outdoor yang berisik

Setelah beres mengakses area keberangkatan, kami beranjak mencoba mengakses area kedatangan. “Kali ini kita akan mencoba mengakses area kedatangan, mulai dari turun pesawat, hingga turun menuju area pemesanan taksi” ungkap May. Tim kecil kami segera menuju pesawat yang sedang terparkir.

Kami melewati area keberangkatan dan menyempatkan untuk mencoba lift. Saat mengantre di depan lift, terdapat beberapa tombol yang sudah ada tanda braille untuk kawan difabel netra. Pak Ali mencobanya dengan merabakan tangan ke tombol lift.

“Wah beberapa tombol ini masih salah ketik, jumlah konfigurasi titik-titik pada huruf-hurufnya masih salah, ada yang kelebihan titik, ada yang kurang titik. Ada pula yang memang salah ketik dan tidak punya makna”. Ujar Ali Affandi.

Saat pintu lift terbuka, tidak terdapat bunyi penanda bagi difabel netra. Sementara itu, beberapa tombol braille yang terdapat dalam kabin lift juga masih banyak yang salah, seperti halnya yang terdapat di depan lift. Pada saat naik atau turun ke lantai yang berbeda. Tidak ada tanda yang dapat diakses oleh difabel netra.

Padahal di tempat lain sudah ada lift yang jika sampai di lantai tertentu, makan akan ada bunyi “lantai dua”, atau “lantai dasar”. “Wah, kami tidak bisa secara mandiri mengakses lift ini, tidak ada tanda-tanda yang mudah diakss oleh kawan netra dan low vision, tidak ada efek bunyi pada saat pintu terbuka, tertutup, atau menunjukkan lift telah sampai di lantai tertentu” ujar saya pada assessor yang saat itu berdiri di dekat saya.  

Usai tiba di kabin pesawat, kami segera melakukan simulasi. Dari tempat duduk di kabin hingga keluar ke pintu menuju gerbarata, kami dipandu oleh pramugari yang saat itu sedang bertugas. Secara umum, keadaan kabin pesawat hingga lorong gerbarata hampir sama sepeti pada saat kami mencoba area keberangkatan.

Usai mengakses garbarata dan memasuki ujung terminal, kami berjalan mengikuti arahan dari assessor dan Costumer Service yang menemani. Kami dibawa kesebuah lorong dan diminta menuruni tangga manual untuk menuju areal kedatangan untuk mengambil bagasi.

“Yang tadi kita lewati, dari garbarata, terus masuk ke lorong kecil dan menuruni tangga manual apakah itu memang jalan yang biasa dilalui oleh penumpang jika tiba di bandara ini?” tanya saya saat itu pada Lupita.

“Iya pak, semua penumpang melewati jalur tersebut”

“Dan harus melewati tangga manual mbak?”

“Untuk sementara iya, jadi belum ada lift yang menghubungkan area gerbarata dengan area pengambilan bagasi,” jelas Lupita.

Sesaat kemudian, saya melihat Lupita sedang membuka pintu kaca, kami dibawa ke area luar ruangan (out dor). Kami dibawa melewati areal parkir pesawat. Saya agak kesulitan melewati jalur tersebut. Suara mesin pesawat yang sedang terparkir di samping kiri saya itu sangat bising. Saya kebingungan mendetaksi suara langkah dan untuk mengikuti kawan saya yang lain.

Namun saya tetap saja yakin berjalan dengan menggunakan tongkat putih itu. sesaat kemudian, kami segera memasuki area ruangan. Hawa sejuk pendingin ruangan segera terasa merasuki tubuh. Sesaat setelah petugas menutup pintu tersebut, suasana kembali senyap. Hanya terdengar beberapa kawan kami yang bercakap dan sesekali terdengar suara mbak-mbak penyiar yang mengumumkan keberangkatan dan kedatangan pesawat.

“May, tadi saya agak kesuilitan mengakses area luar ruangan. Kawan-kawan difabel netra biasanya merasa bingung jika berjalan di area yang sangat bising, mereka akan kebingungan menentukan arah berjalan, sulit berorientasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini karena banyak kawan netra, termasuk saya yang sekian persen mengenali lingkungan dengan mengandalkan pendengaran mereka” ujar saya kepada assessor kala itu.

Setelah melewati lorong, kami tiba di area kedatangan. Tampak di sebelah kiri saya adalah area pengambilan bagasi. Area ini standart, seperti halnya yang terdapat di bandara lain. Tidak ada aksesiblitas khusus untuk difabel di area ini. Lagi-lagi saya tidak menemukan jalur pemandu atau guiding block untuk netra di tempat itu. setelah meninggalkan area pengambilan bagasi, kami segera menuju pintu keluar.

“Taksi…taksi… taksi…”

Saya mendengar beberapa orang berteriak menawarkan jasa taksi kepada penumpang yang baru saja turun dari pesawat.

“Di sini area pemesanan taksi pak, sebelah kiri kita ada beberapa counter taksi, bapak bisa pesan disana,” ungkap CS laki-laki yang saat itu bersama kami.

“Kalau di sini bisa pesan grab tidak ya pak,” ujar Ali kepada petugas tersebut.

“Untuk grab kami belum bisa pak, tapi nantinya ada, itupun dengan aplikasi khusus dari kami,” ungkap pria berompi hijau stabilo yang berdiri di dekat konter taksi.

Berarti memang taksi online masih tidak diizinkan mengambil penumpang di area ini, penumpang memang harus menggunakan taksi yang dikelola oleh Angkasa Pura dan rekanan yang bekerjasama dengan mereka.

Menjelang Siang, usai melaksanakan sholat jumat dan makan siang, kami segera kembali pulang ke Yogyaiarta. Rasa lelah siang itu cukup terbayarkan dengan puas berkeliling di area bandara yang konon sangat modern dan akan dioperasikan di Yogyakarta. Saya dan pak Ali tertidur pulas selama di perjalanan. Hingga tak terasa, kami sudah hampir tiba di area SPBU Ambarketawang Yogyakarta.[]

 

Penulis/Editor: Ajiwan Arief Hendradi

The subscriber's email address.