Lompat ke isi utama
Kegiatan Into the Light di Sunyi Coffee House & Hope

Kenali dan Cegah Bunuh Diri pada Difabel

Solider.id, Denpasar - Mengalami kedifabilitasan memicu sebagian besar orang untuk mengakhiri hidupnya. Permasalahan psikologis, sosial dan ekonomi mendorong mereka untuk melakukan tindak bunuh diri. Tindakan ini bisa dicegah dengan mengenali tandanya dan partisipasi penciptaan lingkungan sosial yang kondusif serta pemberian bantuan yang  efektif.

Fenomena bunuh diri dapat terjadi pada siapapun. Tatkala mengetikkan kata kunci “bunuh diri di kalangan difabel”di mesin pencarian Google, akan muncul begitu banyak berita percobaan bunuh diri dan difabel yang meninggal karenanya dari seluruh penjuru dunia. Tak dipungkiri, peralihan hidup dari yang dikatakan “normal” menjadi difabel memicu timbulnya tekanan pada individu tersebut. Persoalan itu cenderung terjadi pada difabel dewasa, bukan difabel yang dari lahir. Masyarakat dapat berkontribusi dalam mengurangi tindakan menghilangkan nyawa dengan mengenali tanda-tandanya.

Indonesia mempunyai Into the Light Indonesia Suicide Prevention, sebuah komunitas orang muda yang berfokus sebagai pusat advokasi, kajian, dan edukasi pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa. Komunitas yang bersemboyan “Hapus Stigma, Peduli Sesama, Sayangi Jiwa” ini mengidentifikasi beberapa tanda orang yang tengah merencanakan tindak bunuh diri. Indikator ini dapat digunakan masyarakat untuk mengantisipasi bunuh diri pada difabel.

Pertama, orang tersebut mengatakan keinginan bunuh diri. Contoh ungkapan yang disampaikan antara lain, keinginan untuk bunuh diri atau mati, ingin pergi jauh/selama-lamanya, merasa putus asa, tidak ada alasan untuk hidup, merasa menjadi beban bagi orang lain, merasa terjebak, merasa tidak kuat menahan sakit

Kedua, membenci dan merendahkan diri sendiri. Tanda ini bisa diamati jika difabel terus-menerus mengeluarkan perasaan negatif terhadap diri sendiri, misal malu, merasa bersalah, hancur, rusak, atau menjadi beban bagi orang lain.

Ketiga, difabel tersebut mulai berselancar di Internet mencari-cari informasi untuk bunuh diri yang ampuh. Difabel yang telah mengalami depresi berat mulai mencari akses terhadap senjata tajam, senjata api, atau racun mematikan, mencari tempat tinggi yang dapat digunakan untuk percobaan bunuh diri, mencari cara bunuh diri yang paling cepat atau tidak menyakitkan.

Keempat, menyusun segala hal untuk ditinggalkan. Difabel yang telah berencana bunuh diri terkadang telah menulis surat pribadi yang mengandung pesan tersirat, atau langsung menulis surat bunuh diri atau surat wasiat, menjual atau memberikan benda-benda kesayangan atau yang berharga kepada orang lain, mengatur sendiri proses kematiannya, contoh membeli peti mati, dengan atau tanpa sepengetahuan orang-orang di sekitarnya.

Kelima, mengucapkan perpisahan. Apabila difabel tersebut meninggalkan pesan perpisahan kepada orang-orang yang disayanginya, dengan memberikan kesan seolah-olah ia tidak akan bertemu lagi. Sebagai contoh, mengatur untuk bertamu atau mengadakan pertemuan secara mendadak untuk mengucapkan perpisahan, menelepon atau mengirimkan pesan-pesan perpisahan kepada orang yang dianggap berharga, mengucapkan perpisahan di akun media sosial, menulis surat bunuh diri.

Keenam, menarik Diri dari pergaulan sosial. Seseorang yang memiliki hambatan fisik atau intelektual perlu diwaspadai ketika ia menarik diri dari orang lain (perlahan-lahan atau tiba-tiba), tidak aktif secara mendadak dalam organisasi atau komunitas, meningkatnya keinginan untuk menyendiri, menolak atau menghindar untuk dihubungi, berhenti atau kehilangan semangat dari hobinya.

Ketujuh, tindakan merusak diri sendiri. Difabel yang terindikasi hendak melakukan bunuh diri cenderung menyakiti diri. Misal, menggunakan narkoba atau menyalahgunakan zat adiktif lainnya, menjadi peminum alkohol secara berlebihan atau pemabuk, melukai diri sendiri (self-harm), sengaja melakukan tindakan berbahaya.

Kedelapan, perubahan fisik dan mood yang drastis. Gejala-gejala yang sering menjadi tanda rencana mengakhiri hidup ialah tidur terlalu banyak atau sedikit, perubahan pola makan yang luar biasa, menjadi mudah marah, merasa lelah, depresi, mudah cemas, kehilangan semangat, mudah terluka perasaannya, perubahan penampilan yang mendadak/drastis.

Tanda-tanda tersebut di atas merupakan rangkaian indikasi yang berpotensi menggambarkan seorang difabel yang tengah merencanakan bunuh diri.

Benny Prawira, suicidolog yang juga founder ITL Suicide Prevention mengutarakan bahwa isu bunuh diri di Indonesia ini cukup besar. Ia secara pribadi pernah mendengar kasus bunuh diri pada difabel dari seorang rekan yang juga penerjemah bahasa isyarat difabel Tuli. Ia kemudian merencanakan untuk mengadakan kegiatan dengan difabel. Sebagai ahli kajian bunuh diri, ia menjelaskan beberapa cara mengenali tanda-tanda orang yang merencanakan tindak bunuh diri secara garis besar.

“Ketika ada perubahan perilaku seperti left group, menarik diri, merasa membenci diri, merasa tidak berguna, terjadi perubahan pola maakan dan tidur, membahayakan diri, tiba-tiba ngomong kematian, capek banget Pengen tidur gak bangun lagi. Ungkapan itu implisit karena sakit emosional. Hal seperti itu harus diperhatikan sekali,” papar Benny ketika dihubungi Solider melalui telepon.

Ia juga menambahkan ketika sudah mengenali tanda-tanda itu, orang yang berencana bunuh diri harus terus didampingi dan dihindarkan dari bahaya. Orang tersebut memerlukan tempat untuk bercerita sebagai sarana mengeluarkan perasaan negatifnya. Lalu, perlu disampaikan kepada sumber dukungan difabel tersebut, misal sahabat atau orang terdekatnya. Benny menegaskan bahwa penanganan tindakan ini tidak bisa dilakukan 1 orang saja. Berikutnya, menghubungi profesional merupakan langkah penting demi menyembuhkan luka batin difabel tersebut. Selanjutnya, menanyakan kepadanya apakah pernah ke psikiater atau belum. Lalu, melakukan follow up bagaimana prosesnya dan apakah ada hal lain yang bisa diberikan kepadanya untuk mengurangi rasa tertekan yang tengah dihadapi.

“Saat ini negara masih sangat kurang dalam upaya pencegahan bunuh diri. Tidak ada hotline pencegahan bunuh diri. Kita cuma punya satu sama lain. Jadi Kita harus bersatu saling mendengarkan,” tutur Benny.

Ia yakin ini bukan hanya sekedar upaya mencegah orang yang sedang putus asa untuk tidak bunuh diri, tetapi bagaimana membangun hidup masyarakat Indonesia pada umumnya menjadi lebih layak.

Benny dan tim Into The Light Indonesia berkomitmen untuk terus menekan stigma di masyarakat terhadap orang yang memiliki pemikiran, pernah mencoba, atau yang meninggal akibat bunuh diri, serta mendorong adanya upaya pencarian bantuan di masyarakat terkait masalah kesehatan jiwa. Jika enggan datang ke psikolog atau rumah sakit jiwa, ada beberapa layanan daring yang dapat diakses difabel yang sedang mengalami depresi untuk berkonsultasi. Dikutip dari situs www.intothelight.id.org, layanan konseling tersebut antara lain Alpas.id, Ibunda.id, Pijar Psikologi, Yayasan Pulih Online Counseling, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Hotline KPSI Pusat: (021) 8579618, Bipolar Care Indonesia, motherHOPE Indonesia, Lentera Sintas Indonesia, Depression Warriors Indonesia, Kata Djiwa, Komunitas Get Happy, Komunitas Jemari Tangan, Komunitas Ubah Stigma, Self Love Warriors, Bali Soul Society, Surabaya Soul Society dan Halo Jiwa Indonesia.

Hidup di negara berkembang sepeti Indonesia membuat kelompok rentan seperti difabel sering terkena depresi, stress, dan bahkan ada perasaan ingin bunuh diri. Lingungan yang tidak ramah, tekanan hidup, persoalan ekonomi akibat ketidakmerataan peluang pekerjaan, dan berbagai faktor lain tak jarang memicu tekanan jiwa pada difabel. Sudah saatnya hal ini disadari oleh banyak pihak dan sudah saatnya ada gerakan untuk mencegah bunuh diri pada difabel di Indonesia.

 

Reporter: Agus Sri

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.