Lompat ke isi utama
Emi Hidayah

Emi Hidayah, Survivor Scizofrenia Berbagi Pengalaman

Solider.id, Yogyakarta -  Penerimaan, dukungan, kasih sayang dan rasa aman, menjadi hal utama yang harus diberikan para orang tua kepada setiap anak mereka. Terlebih terhadap anak dengan difabilitas. Demikian pula terhadap orang dengan gangguan jiwa berat atau scizofrenia. Kehadiran orang tua untuk memastikan terpenuhinya peran-peran penting tersebut menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Emi Hidayah (37), membutuhkan semua itu. Dia beruntung, ketika delapan tahun silam mengalami zcizofrenia, orang tua dan saudaranya mampu memberikan dukungan sebagaimana yang dibutuhkannya. Sehingga scizofren yang dialami, tidak bertambah parah. Meski belum sembuh seratus persen. Sesekali (jika kambuh) Emi harus mengkonsumsi obat jiwa.

Karena scizofren yang dialami pada 29 tahun usianya (2011), Emi pernah kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan. Dia  mengalami gangguan dalam memproses pikirannya. Sehingga timbul delusi, halusinasi, pikiran tumpul, tingkah laku dan bicara tidak wajar, tidak ada emosi. Dia juga kesulitan berkomunikasi dengan orang, tidak mampu memperhatikan kebersihan dirinya, gerakan melambat, tidak tertarik untuk melakukan apa pun.

Mengatasi gejala psikosis

Pada September – Oktober 2019, kepada Solider perempuan kelahiran Desember 1982 itu bagikan beberapa bercerita. Bagaimana ia pernah memiliki keyakinan atau kepercayaan akan suatu hal yang kuat, padahal keyakinan tersebut tidak sesuai dengan fakta dan terbukti salah (delusi). Ia juga berpersepsi kuat atas suatu peristiwa yang dilihat, didengar, atau dirasa (bau atau sentuhan) tetapi sebenarnya tidak ada (halusinasi).

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grasia, di sana Emi beberapa kali dirawat. Selama kurang lebih lima tahun Emi harus keluar masuk rumah sakit jiwa. Pemahaman dan dukungan dari keluarga dan lingkungan sangat membantu proses penyembuhannya kala itu. Emi mengaku, saat ini sudah mampu mengendalikan diri, saat berbagai hal tidak nyata datang. 

Saat gejala datang, Emi  tidak membiarkan pikirannya kosong. Ngobrol dengan keluarga dilakukannya. Emi juga pasti mencari obat dan meminumnya ketika gejala itu mulai dirasakannya. Hal ini selain dirinya memiliki kesadaran penuh, peran keluarga yang selalu mengingatkan sangat dirasakannya.

“Ibu dan adik selalu memperhatikan dan memantau saya. Saat kambuh dan saya butuh obat, merekalah yang selalu mengingatkan,” ujarnya.

“Saya mampu menyadari saat gangguan kejiwaan (psikotik)  datang. Ada signal atau tanda ketika gejala psikotik itu datang. Biasanya saya tidak ingin ditinggal. Minta diajak ngobrol, biar tidak kosong dan ngelamun. Selanjutnya saya akan meminum obat jiwa,” bercerita Emi, perempuan alumni SMK 1 Godean itu pada Solider.

Lanjutnya, “Saya juga mengontrol tubuh agar tidak terlalu capai. Sebisa mungkin saya juga menghindari stress. Saya hanya akan minum obat jika saya betul-betul butuh. Karena saran dokter, tekanan atau stress berat serta pemakaian obat-obatan tertentu, dapat menyebabkan timbulnya kondisi ini,” tukasnya.

Kepada Solider Emi juga bercerita bagaimana ia mengontrol diri. “Atas anjuran nasehat perawat Grhasia, saya sudah boleh mengatur kebutuhan obat untuk diri saya sendiri. Jika sakit saya minum obat. Jika sehat, tidak ada gangguan jiwa saya tidak minum obat. Bila tidak bisa mengendalikan diri, saya dirujuk ke dokter. Sebaliknya, jika saya mampu mengendalikan diri saya cukup terapi sendiri di rumah,” terangnya.

Meminum obat, beristirahat, beraktivitas ringan, beribadah,  serta ngobrol dengan teman dekat, adalah beberapa hal yang dimasud dengan terapi bagi Emi.

“Dalam kondisi ‘normal’ atau sehat, saya beraktivitas, bekerja, berorganisasi, bersosial kemasyarakatan, juga mengaji. Beraktivitas umumnya orang-orang beraktivitas,” terang perempuan berhijab itu

Berkegiatan positif

Dalam tiga tahun terakhir, setelah dinyatakan mampu mengontrol diri, Emi mengisi  hari-harinya dengan mengikuti berbagai pelatihan. Selain sebagai terapi, pelatihan ini untuk mengasah jiwa wirausaha, kata dia.

Pelatihan terakhir yang diikutinya ialah merias pengantin gaya Jawa. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (BRSPD) milik Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada September lalu dia dinyatakan lulus, dan bersertifikat sebagai perias pengantin gaya Jawa.

Namun demiakian,  Emi merasa cukup eksis dengan usaha membuat produk minuman kunyit asam gula jawa dan jahe secang. “Saat ini saya lebih merasa cocok dengan usaha lama, membuat produk minuman tradisional. Saya juga sudah punya beberapa pelanggan. Produk kunyit asam gula jawa dan jahe secang saya, sudah ikut pameran beberapa kali,” akunya.

Pada kesempatan berbincang, Emi menitip himbauan kepada teman-temannya difabel, untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif.  Tidak berhenti mencari ilmu, mengasah keterampilan dan berkegiatan apapun yang bermanfaat.

“Mencari sebanyak mungkin teman, bersosial, agar kehidupan lebih baik, umum dan wajar. Belajar menerima diri, ini juga penting, agar dapat diterima di kehidupan,” tukas Emi.

Peran lingkungan

Dikutip dari sebuah sumber, bahwa penyembuhan skizofrenia adalah sebuah jalan panjang. Namun skizofrenia bisa disembuhkan. Yang paling penting, ketika sudah didiagnosis, diperlukan support dari lingkungan. Lingkungan yang tidak diskriminatif terhadap orang dengan scizofrenia, akan jauh lebih baik. Hal ini akan mendorong penyembuhan atau pengobatan. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.