Lompat ke isi utama
Dodit Mulyanto dan Sandy Aulia dalam Film Cinta Itu Buta

Film Cinta Itu Buta: Antara Cinta dan Si Dia yang Menerima

Solider.id, Surakarta- Sebagian orang tak akan mengira gejala stres yang dialami berdampak pada fungsi penglihatan. Hal itulah yang digambarkan pada sebuah film bergenre drama komedi yang baru-baru ini tayang, Cinta itu Buta.

Stres yang tinggi dan tekanan darah tinggi serta depresi dahulu dipandang tidak berdampak pada fungsi biologis manusia. Tetapi sekarang para peneliti menemukan bahwa stres bisa berdampak pada fungsi penglihatan.

Penemuan mengatakan bahwa tekanan psikologis yang berlangsung dan peningkatan hormon stres kortisol yang menyertai merupakan risiko dalam perkembangan penglihatan yang memburuk. Hal itu dijelakan dalam sebuah makalah yang terbit di Jurnal European Association for Predictive Preventive, and Personalized Medicine, edisi 9 Mei 2018.

“Ada bukti yang jelas gangguan psikosomatis terhadap gangguan penglihatan,” kata peneliti utama penelitian Bernhard Sabel dari Institut Psikologi Kesehatan, dari Universitas Magdeburg, Jerman seperti dilansir Newsweek, Rabu (20/6/2018).

Tulisan di atas tentu ada kaitannya dengan film Cinta itu Buta yang akan saya ulas garapan sutradara Rachmania Arunita. Selain itu, dia juga pernah menggarap Eiffel I’m in Love di tahun 2003 dengan penulis naskah Fanya Runkat.

Film ini berlatar di Busan yang dulu dikenal dengan Pusan. Busan adalah kota metropolitan dan memilki penduduk terbanyak kedua di Korea Selatan. Kota pesisir yang menyajikan pemandangan memesona sebagai latar film Cinta Itu Buta.

Film yang diadaptasi dari sebuah film Philipina yang berjudul Kita-Kita dengan latar belakang di Jepang tersebut tak mengecewakan atas akting Shandy Aulia. Di film tersebut Sandy berperan sebagai difabel netra. Meski kebutaannya bersifat sementara menurut dokter. Bagaimana bisa tiba-tiba setelah jatuh, Diah yang diperankan Shandy Aulia bisa mengalami kebutaan?

Malam itu, selepas minum berbotol-botol bir, Diah lalu bertemu dengan si badut Pisang yang diajaknya mabuk bareng. Mereka pergi ke ‘gembok cinta’ dan memukul lonceng bersama dengan tangisan berderai. Diah, sehari-hari bekerja sebagai pemandu turis, lantas jatuh tersungkur begitu saja di jalan.

Diah baru saja memutuskan tali pertunangan dengan pacarnya Jun-Ho yang diperankan oleh aktor Korea Chae in Woo. Kemudian mata kamera mengarah ke sebuah siluet gambar rumah sakit. Diah dipandu oleh seorang perawat membawa tongkat putih, khas alat bantu difabel netra.

Mulailah hari-hari Diah dengan tongkat putihnya, dengan adaptasi yang dirasa sulit dan ini dibuktikan dengan gambar. Bagaimana dia harus melalui orientasi membuka kulkas, mencari barang yang dicari, membuka oven, serta entah bagaimana upayanya ‘bersembunyi’ dari sang Kakak yang tinggal di Yogya.

Berkali-kali sang Kakak yang akhirnya mengetahui jika Diah telah putus dari pertunangannya dengan Jun-Ho. Diah berbohong demi menyembunyikan kebutaan yang dialaminya. Diah mengalami kehampaan dalam hidup yang kemudian muncullah Nik di setiap pagi, yang selalu datang tiap pagi dengan maksud yang sama, memberi sarapan menu masakannya.

Nik datang dengan ciri khas panggilan anak kampung, dikisahkan Nik yang diperankan Dodit Mulyanto berasal sama-sama dari Indonesia. Perannya tersebut selalu mengundang tawa penonton. Mungkin karena tidak terlepas karakter Dodit sebagai komika. Sehingga celetukan-celetukan bernada komedi dan sedikit satir mengandung romansa.

Seperti saat Dodit ingin mengajak Diah untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Busan seperti yang selama ini dilakukan oleh perempuan muda itu. “aku kan buta?!” jawab Diah. “Tenang, aku akan menjadi mata bagimu dan kamu akan menjadi pemandu wisata bagiku,”candaan Nik. Nik dikisahkan memiliki latar belakang asmara yang tak jauh beda dengan Diah. Cintanya dikhianati oleh sahabat sendiri.

Mengambil alur datar, sedikit ada flashback. Di lebih dua pertiga durasi film saya mengira film ini akan selesai begitu saja. Ternyata akhir yang nge-twist (memutar kembali) menjadi awal cerita. Sehingga menimbulkan cerita baru yang menjadi daya pikat dari film ini. Dimulai dari plot inilah kebenaran-kebenaran, realita-realita yang pada awal dinilai naif, kemudian menjadi bahan perenungan yang menunjang cerita fiksi ini.

Film Cinta Itu Buta bisa memberi pelajaran pada kita bahwa cinta itu bisa berasal dari manapun, tanpa memandang dia yang datang. Dan cinta hanya bisa dirasakan tatkala kita tidak memiliki pandangan atau penglihatan apa pun, karenanya itu bisa disebut bahwa cinta itu buta. Mungkin begitu pesan yang ada di film ini. Dan penting tentunya untuk diingat bahwa siapa pun, kapan, di mana, seseorang berpotensi untuk menjadi seorang difabel netra. 

 

Judul Film : Cinta Itu Buta

Genre : Komedi Romantis (Drama Komedi)

Sutradara : Rachmania Arunita

Skenario : Fanya Runkat

Pemain : Shandy Aulia, Dodit Mulyanto

Produksi : Timeless Picture, MMZ, reflection Picture, Ideosource Entertainment, Viva Film

Adaptasi : Film “KIta-Kita” dari Philipina

Tayang : 10 Oktober 2019

Durasi : 146 menit

Peresensi : Puji Astuti

The subscriber's email address.