Lompat ke isi utama
Kesepian Difabel

Difabel lebih rentan terserang kesepian

Solider.id, Yogyakarta - Kesepian memang menjadi penyakit mematikan di masa moderen ini. Dengan semakin canggihnya teknologi dalam mendekatkan yang jauh, kualitas hubungan sosial antar manusia justru semakin hambar ketika ekspresi yang beredar adalah ekspresi berbasis jempol dan emoticon. Lalu, muncullah rasa kesepian. Secara pengertian, kesepian diartikan sebagai sebuah perasaan subjektif ketika individu kekurangan atau kehilangan persahabatan. Perasaan kesepian bisa timbul ketika ada ketidaksamaan antara kuantitas dan kualitas hubungan sosial yang individu miliki dan yang individu inginkan. Kesepian punya hubungan yang dekat dengan isolasi sosial, namun keduanya berbeda: isolasi sosial adalah kurangnya hubungan dalam kontak sosial, sedangkan kesepian adalah sebuah pengalaman yang objektif, yang artinya bahwa individu bisa saja terisolasi secara sosial tapi belum tentu merasa kesepian.

Sebagian besar orang pernah merasakan kesepian pada titik-titik di hidupnya. Riset menunjukkan bahwa individu merasakan kesepian pada saat-saat seperti masa pensiun, atau setelah menjadi orang tua. Namun, menjadi difabel menjadikanmu lebih rentan terhadap perasaan kesepian. Polanya jelas, difabel memang dekat dengan eksklusi sosial yang menjadi pintu pertama untuk menjadi individu yang kesepian. Hambatan-hambatan yang dialami difabel mulai dari akses dan fasilitas publik yang tidak ramah difabel membuat mobilisasi difabel menjadi terbatas dan komunikasi secara sosial menjadi tidak luas. Jika sudah begini, difabel akan dengan mudah merasa kesepian.

Studi dari Sense.org menunjukkan bahwa sedikitnya pengetahuan dan informasi tentang isu difabel menjadi hambatan yang serius dalam inklusifitas sosial yang memudahkan difabel untuk bergaul dan berkomunikasi secara leluasa dengan nondifabel. Menurut Sense.org, 49% orang nondifabel merasa bahwa mereka tidak memiliki kesamaan dengan difabel. Lalu, 26% nondifabel mengakui bahwa mereka menghindar jika harus berkomunikasi dengan difabel.

Statistik di atas menambah faktor penyebab eksklusi sosial yang membuat difabel merasa kesepian. Terbatasnya teman dan rekan membuat pola komunikasi yang dilakukan oleh difabel tidak berkembang dengan luas dan membuat lingkaran pertemenan yang bisa mengembangkan kapasitas diri difabel juga sama terbatasnya.

Nur Hamzah, seorang difabel netra di Kecamatan Batur Banjarnegara mengakui bahwa menjadi difabel harus siap dengan potensi untuk kesepian.

“Umur saya sekarang sudah 32 dan belum menikah. Selain karena memang saya belum menemukan calon yang tepat, juga karena sebagian besar waktu saya habiskan di rumah. Di sini, dengan kondisi desa yang tidak terlalu aksesibel, susah untuk pergi ke mana-mana secara mandiri,” ceritanya.

Ia mengak sering merasa kesepian karena aksesnya begitu terbatas. Di rumah, ia ditemani oleh bapak dan ibunya. Kadang ada saudara yang datang. Sebagian besar hiburan datang dari televisi dan radio.

“Untung sekarang ada hape canggih, meski baru bisa pakainya beberapa bulan terakhir setelah diajari saudara, tapi lumayan lah bisa buka YouTube dengerin video berita atau kajian agama. Lumayan, jadi enggak sepi-sepi amat,” imbuhnya.

Ia mengaku sering menghabiskan waktu hanya bersama ibunya saja karena bapaknya adalah seorang pedagang peci yang sering berdagang sampai ke kecamatan tetangga. Rutinitas seperti ini sudah meresap dalam kesehariannya bertahun-tahun lamanya. Dulu, ia aktif seperti anak biasa. Namun, sejak SMA, ia terkena glukoma dan membuat penglihatannya semakin lama menurun. Sejak itu, ia lebih sering akrab dengan lingkungan rumah dan jarang keluar.

“Saya tidak tahu harus bekerja seperti apa. Juga orang tua tidak mengijinkan untuk bekerja diluar. Takut kenapa-kenapa. Makanya sepi sekali rasanya di rumah. Kadang merasa sangat kesepian sampai bikin badan sakit dan kepala pusing,” ungkapnya.

Bahkan, akunya, ketika lebaran pun, ia hanya di rumah saja, tidak berkeliling untuk bersilaturahmi ke tetangga. Ia lebih sering menunggu kunjungan silaturahmi dari orang-orang yang datang ke rumahnya.

Membaca bisa meredakan kesepian

Kesepian yang salah satunya disebabkan oleh isolasi sosial ternyata bisa diredakan dengan membaca. Dilansir dari Kompas Lifestyle, lembaga think tank Demos dan The Reading Agency menemukan fakta bahwa membaca buku atau mendengarkan buku audio bisa mengurangi rasa kesepian secara signifikan serta bisa meredakan isolasi sosial.

Menurut CEO The Reading Agency, Sue Wilkinson, orang tua dan difabel yang memiliki hambatan dalam membaca dari buku, maupun buku audio merasakan alternatif pereda kesepian dari aktifitas membaca atau dibacakan buku oleh para relawan.

Dengan kecanggihan teknologi, membaca sudah bisa diakses oleh semua pihak. Bagi difabel netra seperti Nur Hamzah, ia bisa membaca atau mencari buku audio lewat gawainya. Teknologi menjadi perantara aksesibilitas informasi. Meski begitu, fenomena seperti ini masih belum tersebar sampai ke pelosok-pelosok Indonesia. Akses internet dan teknologi masih minim di daerah-daerah terluar dengan kondisi difabel yang jauh merasakan isolasi dan eksklusi sosial.

Pemerintah perlu menyediakan aksesibilitas baik pada fasilitas fisik maupun non fisik untuk bisa meredam gejala kesepian yang dialami oleh difabel. Pemerintah juga perlu untuk memberikan kesempatan sosial yang sama besarnya kepada difabel sehingga difabel bisa berpartisipasi secara penuh dan konstruktif dalam segala bidang kehidupan, sehingga gejala kesepian akibat isolasi sosial tidak akan tumbuh.

Tak ketinggalan, dari segi hambatan secara finansial juga perlu diatasi oleh pemerintah dengan penyediaan lapangan pekerjaa dan akses untuk mendapatkan kesejahteraan dengan adil sehingga difabel bisa bekerja dengan kesempatan yang sama dan mendapatkan kesempatan sosial yang terbuka. []

 

Reporter: Yuhda

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.