Lompat ke isi utama
Foto Aditya Putra Pidada saat mengikuti seminar sastra internasional di Bali

Estetika Sastra Sebagai Media Terapi Jiwa dan Advokasi

Solider.id Keindahan -  Karya sastra diyakini mampu mengobati sekaligus memengaruhi jiwa manusia. Karakteristik literasi yang tak lekang termakan zaman menempatkannya sebagai media edukasi  lintas generasi yang sarat estetika.  

Karya sastra terdiri dari berbagai jenis seperti prosa, puisi dan drama. Kendati keberadaannya masih terasa sebagai sajian di kala senggang, keelokan bahasa dan makna karya sastra mampu menjadi penyegar pada pemikiran tiap individu. Sastra pun dapat difungsikan sebagai sarana terapi jiwa dan advokasi isu difabilitas.

Sebuah karya yang bertajuk “Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela” guratan pelaku seni asal Jepang, Tetsuko Kuroyanagi terbukti sukses menembak banyak pemikiran penduduk dunia. Novel nonfiksi berbahasa Jepang yang diterjemahkan oleh Widya Kirana ini mengisahkan tentang kehidupan masa kecil sang penulis yang tidak biasa. Totto-chan merupakan panggilan Tetsuko sewaktu kanak-kanak. Keingintahuan Tetsuko kecil yang begitu besar membuatnya dicap sebagai anak nakal karena kerap berperilaku tidak lazim. Sebagai contoh, gadis kecil itu sering berdiri di jendela kelas saat pelajaran berlangsung hanya demi mencari tahu apa yang tengah dilakukan burung di atas pohon. Ia pun dikeluarkan dari sekolah sebab pihak sekolah kewalahan menanganinya. Lalu, ia berpindah ke Tomoe Gakuen, sebuah sekolah khusus bagi anak-anak “istimewa”. Di sekolah tersebut, Totto-chan belajar mengerti perbedaan karena ia mampu memahami temannya yang difabel fisik dan yang berasal dari lintas budaya.

Tulisan Tetsuko tersebut lulus membuka pemikiran global tentang sistem pendidikan yang inovatif. Di Tomoe, Tetsuko kecil juga diberi keyakinan bahwa ia spesial dengan segala yang dipunyainya.

“Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr. Kobayashi, mungkin aku akan   dicap “anak nakal”, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa, dan bingung,” tulis Tetsuko pada halaman akhir buku tersebut.

Sosaku Kobayashi adalah kepala sekolah Tomoe yang menginisiasi berdirinya sekolah tanpa kurikulum yang kaku. Ia mengerti karakter anak-anak serta selalu memberikan ruang pada mereka untuk menentukan pelajaran yang ingin mereka tekuni. Karya ini telah diapresiasi khalayak internasional lintas zaman. Metode pengajaran, nilai keselarasan dalam keberagaman dan cara memperlakukan anak berhasil mengadvokasi berbagai kalangan. Nilai moral yang terkandung dalam buku  ini terus mengedukasi banyak generasi dari tahun ke tahun. Hasil penjualan buku ini pun juga digunakan Tetsuko untuk berkegiatan dengan masyarakat difabel di Jepang.

Literasi juga telah melahirkan pribadi yang inspiratif dan berpengaruh bagi anak muda di Indonesia, khususnya Bali. Sastrawan tersebut bernama Ida Bagus Aditya Putra Pidada. Difabel netra kelahiran tanah Denpasar 23 Juni 1996 ini meretas keterbatasan dengan menulis. Menurut Adit, jika 1 peluru pada pistol hanya bisa menembak 1 kepala, maka 1 tulisan bisa mengenai lebih banyak kepala.

“Bagi saya, sastra serupa semedi menyelami diri karena yang ku gugat adalah riwayat. Sastra juga mengasah dan mempertajam ilmu pengetahuan serta sarana memaknai kehidupan,” ujar lulusan Ilmu Komunikasi dan Penerangan Agama di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar ini.

Adit menggurat aksara berupa puisi sejak duduk di bangku SMP. Ia semakin aktif menulis ketika kuliah. Laki-laki yang juga penyiar Radio Pemerintah Kota Denpasar (RPKD) ini juga aktif terlibat mengisi artikel di majalah kampus.

Perjalanannya meraih gelar sarjana sosial di IHDN adalah bentuk harapan menebus keapatisannya dulu saat ia begitu anti sosial.

“Tuhan tidak sembarang memilih orang untuk menjadi difabel. Saya bersyukur masih bisa mensejahterakan hidup. Sejahtera dalam pemikiran, perbuatan serta perkataan. Boleh tidak punya kaki, tangan, pendengaran maupun penglihatan asalkan jangan sampai tidak punya hati,” jelasnya.

Tatkala masih menyandang status sebagai mahasiswa di kampusnya, Adit aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa. Sastrawan muda ini begitu memperhitungkan apa yang hendak ia ucapkan. Rangkaian kata yang terucap olehnya bak terapi jiwa bagi batin yang dahaga akan ketenangan. Tak heran, ia kerap didaulat untuk mengisi acara seminar dan menjadi motivator bagi mahasiswa baru di kampusnya. Seperti filosofi kunang-kunang, “Ketika kamu mampu menerangi dirimu sendiri, maka kamu baru akan bisa menerangi orang lain”.

Pujangga muda ini juga sering menerapi jiwa-jiwa generasi millennial dengan diksi-diksi kekinian yang tetap penuh makna.

“Muda cuma sekali, tua itu pasti. Lakukan yang terbaik dalam hidupmu niscaya Tuhan selalu menyertaimu,” kata sang penyair.

Kepiawaian sastrawan muda ini di bidang kepenulisan telah diakui masyarakat umum. Ia meraih juara 2 kepenulisan cerpen tingkat nasional yang diadakan oleh Universitas Udayana pada tahun 2017. Beberapa karyanya seperti puisi dan cerpen sempat masuk dalam kumpulan antologi tingkat nasional seperti: Kumpulan Cerpen “20 Kisah Perjalanan Terbaik” yang diadakan UKMP Universitas Negeri Malang (2016), buku Kumpulan Puisi “Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta” (2016), “Mengunyah Geram” (2017), dan “Saron” Jatijagat Kampung Puisi (2018).

Gaya kepenulisannya mendapat banyak pengaruh dari penyair Sapardi Djoko Damono, Wayan Jengki Sunarta, dan Chairil Anwar. Menulis dan tetap berkarya adalah salah satu cara membuat hidupnya menjadi lebih berarti. Ia berharap semoga kelak ia dapat mengeluarkan buku kumpulan puisi, cerpen, atau bahkan novel tunggal atas namanya sendiri sebagai bukti difabel juga sama seperti masyarakat pada umumnya. Meski tidak melihat, ia juga bisa berkarya.

“Tunjukkan bahwa Tuhan tidak melahirkanmu dengan sia-sia dan buktikan dirimu berguna bagi sesama serta cukup berarti sebelum pergi. Sukses, adalah dendam paling sempurna buat orang-orang yang pernah meremehkanmu,” tutur Adit menyemangati.

Keaktifan Adit mengikuti dialog sastra memberinya kesempatan bertemu dengan Jengki Sunarta (seniman), Warih Wisatsana (sastrawan), Putu Fajar Arcana (redaktur Kompas Jakarta), Sapardi Joko Damono (sastrawan) dan Aan Mansyur (sastrawan).

Adit begitu mengagumi kutipan puisi Chairil Anwar yang berintikan aku mau hidup 1000 tahun lagi karena bagi saya betapa mulia seseorang dapat abadi dan selalu hidup karna karyanya. Betapa menyedihkannya orang masih hidup serasa mati tanpa karta sama sekali.    

Menjejali kepala masyarakat tentang isu difabel tidak melulu dengan metode yang menjenuhkan. Literatur bisa dijadikan sebagai advokasi tersirat yang tak membosankan. Keindahan diksi yang digunakan juga berperan memanipulasi perhatian masyarakat yang tengah kekeringan akan pelipur batin. Pada akhirnya, bahasa yang apik serta pesan terkandung yang mendidik pada karya sastra adalah senjata jitu menyampaikan realita dunia kedifabilitasan secara menarik.

 

Reporter: Agus Sri

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.