Lompat ke isi utama
Difabel yang mengikuti turnamen KCP

Difabel Bertanding di Kejuaraan Catur POLBAN, Jaring Bakat dan Sosialisasi ke Masyarakat Luas

Solider.id, Bandung – Politeknik Bandung (POLBAN) untuk ke sembilan kalinya menggelar turnamen kejuaraan catur. Bertajuk ‘An inch to move a mile to think, atau Satu inci untuk bergerak satu mil untuk berpikir,’ tema ini diambil berdasarkan pola permainan catur yang merupakan cabang olah raga pikiran bukan fisik semata.

Bertempat di Gedung Pendopo Tony Soewandito Polban, kawasan Ciwaruga Kabupaten Bandung Barat, turnamen catur Polban ke-9 berlangsung selama dua hari sejak Sabtu siang hingga Minggu sore, (12-13/10). Kategori yang dibuka diantaranya; Beregu Mahasiswa, Perorangan Umum dan Junior SD.

Menurut Ketua pelaksana, Ricky Rofi, turnamen yang digelarnya merupakan event tahunan yang melibatkan berbagai kalangan pencinta olah raga catur. Pihaknya membuka kesempatan kepada semua lapisan masyarakat, mulai dari atlet nonatlet, mahasiswa dari seluruh Indonesia, junior usia anak sekolah, serta masyarakat difabel.

“Kami membuka peluang untuk para difabel yang ingin mengikuti turnamen ini,” ungkap Ricky disela-sela istirahat pertandingan.

Meski secara resmi untuk kategori difabel belum tertera pada reklame informasi yang disebar, antusias para difabel yang ikut serta dalam kegiatan kejuaraan catur Polban ini akan menjadi sebuah wacara baru pada turnamen di tahun selanjutnya.

Ricky memaparkan, keikutsertaan dari para difabel dalam turnamen yang digelarnya, merupakan edukasi dan sosialisasi secara tidak langsung kepada masyarakat luas. Dari seluruh peserta yang hadir, sebanyak 37 tim beregu mahasiswa, mulai dari Universitas Sumatera Utara – Medan, hingga Universitas Musamus – Merauke Papua. Sedangkan untuk kategori perorangan umum ada 124 peserta dan Junior SD ada 15 peserta.

“Untuk peserta difabel terdata dalam kategori perorangan umum, karena catur merupakan olah raga non fisik, artinya lebih kepada pikiran. Apapun jenis kedifabelannya, selama mampu menggunakan logikanya dalam mengikuti catur, tidak ada batasan, termasuk dalam segi usianya,” papar Ricky.

Sementara, dari para difabel sendiri mengakui ajang turnamen ini sengaja diikuti untuk menambah pengalaman bertanding dengan masyarakat umum nondifabel, serta menambah jam terbang mereka atas dukungan penuh dari National Paralympic Committe Indonesia (NPCI) kota Bandung.

“Biar menambah jam terbang dalam bermain catur dan untuk melatih mental bertanding,” tutur Yana, difabel Low Vision, dari NPCI kota Bandung.

Hal senada juga disampaikan oleh Faudzan, mewakili difabel Daksa, Sunarti dari difabel Netra, Samsi dari difabel Tuli. Sekitar enam orang yang tergabung dalam atlet catur NPCI kota Bandung turut ambil bagian dalam turnamen catur Polban 2019. []

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.