Lompat ke isi utama
Anddika yang penuh inspirasi

Sering Di-bully, Andika Indra Merubah Bully Menjadi Energi Positif

Solider.id, Yogyakarta - Di-bully? Siapa pun pasti sedih. Ini manusiawi. Hal itu juga dialami oleh Andika Indra Saputra (32). Namun dia berkeyakinan suatu saat segala bentuk bullying itu akan ada hikmahnya. “Bully itu pecut (cambuk_red) agar kita semakin kuat menghadapi kehidupan. Jadi melatih mental. Dari situ saya merubah bully menjadi energi positif,” Ujar Andika menyikapi bully.

Tulisan kali ini masih dalam rangka peringatan world cerebral palsy day atau hari cerebral palsy dunia. Jika sebelumnya dituturkan tentang Andika Syaifudin, yang tidak pernah di-bully sepanjang hidupnya. Kali ini akan berkisah perjuangan remaja lain, Andika Indra Saputra juga cerebral palsy. Pemuda asal Cirebon ini berjuang melalui suka dan duka, menelan bertubi-tubi bully, merubahnya menjadi energi postif. Dia berhasil melalui semuanya. Dia mencari cara untuk survive, sehingga berprestasi dan mandiri.

Selain bully, perlakukan berbeda atau diskriminasi juga pernah dialami. Bahkan diskriminasi itu datang dari keluarga sendiri. Anak pertama dari tiga bersaudara ini mendapatkan perlakuan berbeda dengan kedua adiknya. “Dalam keluarga,  kalau saya minta apa-apa harus pakai uang sendiri. Beda dengan kedua adik saya,” kenang Andika.  

Sewaktu masih SD, setiap hari dipalakin (dimintai uang_red) teman satu kelas.  Berjualan es lilin dilakukannya untuk dapatkan uang sendiri. Namun, beberapa teman kelasnya, mengambil dagangan tanpa membayar.

“Sedih sekali. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bepikir, semua ini akan ada hikmahnya. Saya menyuruh diri sendiri untuk menahan marah dan sedih tidak boleh lama-lama. Ini cara saya menyikapi perlakukan teman-teman saya,” urai Andika.

Hijrah dan tambatan hati

Remaja kelahiran 5 Oktober 1987 ini, hanya menamat pendidikan di jenjang Sekolah Dasar (SD). Kemudian  tahun 2013, Andika yang sudah menginjak usia remaja hijrah dari Cirebon ke Jogja. Dia tinggal di panti ‘Al Amin’. Panti khusus difabel  yang berada di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Selama tiga tahun dia belajar di panti itu. Selain belajar mengaji,  Andika Indra juga belajar keterampilan. Membatik dan melukis dengan kulit telur, keterampilan yang dikuasainya.

Andika  juga rajin mengerjakan berbagai pekerjaan di panti. Dari membersihkan lantai, membersihkan kamar mandi, memasak, dan berbagai kegiatan rumah tangga lainnya biasa dikerjakannya. Di sana dia juga belajar berjualan. Menjual permainan edukatif bongkar pasang (puzzle) dari   Taman Kanak (TK) satu ke TK lain dilakoni dengan suka cita. Meski ejekan atau bullying dari anak-anak TK bertubi-tubi menghampiri.

“Anak-anak ini mengejek karena belum tahu saja. Itu yang saya tanamkan pada diri saya. Dengan begitu saya malah jadi punya energi positif menjalani hidup lebih baik. Ini cara saya menguatkan mental saya,” tuturnya.

Andika tidak kenal menyerah. Pernah barang dagangannya kehujanan semua. Tapi itu tak membuat Andika berhenti berjualan. Berpenghasilan sendiri, menjadi kebanggaan seorang Andika. “Ini hikmah yang saya petik, ketika harus dengan uang sendiri saat butuh sesuatu,” tukas Andika.

Hingga pada suatu hari, Andika berkenalan dengan seorang perempuan. “Bu Nining namanya”, kata Andika. Perempuan itu salah seorang insiator berdirinya Komunitas Perspektif Yogyakarta. “Saya diajak bergabung dengan Perspektif Yogyakarta. Dari situ saya bisa dapat banyak teman, saya belajar lebih tentang hidup dan kehidupan. Saya semakin tahu saya ini siapa, apa yang harus saya lakukan,” kenang Andika.

“Dan alhamdulillah  saya dapat kesempatan ke Australia. Bahkan saya bisa menjual batik karya saya dan teman-teman Panti Al Amin di sana. Banyak pengalaman berharga bagi saya. Satu kehormatan untuk saya lagi, karena setiap tahun saya diberikan kesempatan dan terlibat kerja sama dengan teman-teman dari Australia,” lanjutnya.

Seorang dosen dari Flinders University, Adelaide, Auistralia Selatan, beranam Rossi Van, setiap tahun membawa mahasiswanya belajar di Jogja. Belajar dari kampus ke kampus, setiap kegiatannya melibatkan difabel. Andika salah satunya.

Setelah itu Andika dikenalkan juga dengan Dria Manunggal dan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP). Dari situ Andika mengaku bisa mengikuti berbagai berkegiatan,  juga bertemu lebih banyak kawan. Terlibat dalam survei dan advokasi aksesibilitas tempat ibadah bersama Dria Manunggal pernah dilakukannya.

Dan kini, Andika telah bekerja di PT. ZoLa Indonesia. Andika juga sudah memiliki tambatan hati. Dia menikahi Yuni Lestari pada 30 Agustus 2018. Saat ini tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka. 

Bagi Andika, hidup menjadi siapa dan seperti apa itu tidak ada yang bisa tahu. Sebagai siapapun dan seperti apapun, hidup ini hanya harus disyukuri, ujarnya. Selain bersyukur, selalu mendoakan orang-orang yang sudah banyak membantunya, juga dia lakukan. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.