Lompat ke isi utama
Andika, remaja CP yang raih mimpi

Andika, Pemuda Cerebral Palsy Gigih Raih Mimpi

Solider.id, Yogyakarta - Terlahir dan hidup dengan cerebral palsy, tak selamanya tidak produktif. Karena lingkungan yang tidak ramah, memang butuh usaha lebih, berkali-kali lipat, agar dapat melakukan segala sesuatu sebagaimana orang lain lakukan. Butuh penerimaan diri, penerimaan lingkungan khususnya orang tua. Butuh keterbukaan, juga kesetaraan kesempatan. Ketika penerimaan, kesempatan, kesetaraan dan usaha ada, cerebral palsy bukan halangan untuk mandiri, bahkan berprestasi.

Sudah banyak contoh, orang-orang dengan cerebral palsy yang mampu mandiri, berprestasi, bahkan menginspirasi. Sebut saja Faisal Rusdy, seorang pelukis mulut, warga Jakarta yang tersohor hingga tataran internasional. Bahrul Fuad, yang dikenal dengan panggilan Ca’ Fu. Seoarang aktivis, yang saat ini menjadi kandidat anggota di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Di Jogja sendiri ada Safrina Rofasita, perempuan yang memilih jalur pendidikan. Dia mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Strata-2 (S2). Berprofesi sebagai seorang guru di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB). Bahkan, saat diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Kementerian Pendidikan.

Ada juga Nurviani. Gadis ini menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1 dan 2 di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat ini sebagai asisten dosen, di fakultas tempat dia menimba ilmu. Orang-orang ini menasbihkan bahwa cerebral palsy bukan halangan untuk berprestasi, juga mandiri. Mereka mampu mengatasi berbagai tahapan kehidupan, menjalani setiap proses dengan keyakinan yang kuat dan usaha yang keras. 

Lepas dari empat nama orang dengan cerebral palsy di atas, pada tulisan kali ini, akan dituturkan bagaimana  seorang pemuda dengan cerebral palsy, tidak sekolah tinggi, namun mampu berprestasi dan mandiri. Bagaimana effort yang dilakukan, support yang dibutuhkan, serta penerimaan dan keterbukaan kesempatan dapat diperoleh keduanya. Dia adalah Andika Syaifudin (21).

Mencoba hal baru

“Melakukan apa yang bisa saya kerjakan pada kehidupan sehari-hari. Selalu mencoba apa yang belum pernah saya kerjakan agar nantinya saya bisa melakukannya. Contohnya: memasak. Dulu saya tidak bisa memasak, sekarang Alhamdulillah sudah bisa, meski sekedar membuat mie, menggoreng dan merebus telur, membuat nasi goreng,” ujar Andika.

Anak pertama dari dua bersaudara itu hanya menamatkan sekolah hingga jenjang Sekolah Menegah  Pertama (SMP). Hebatnya, semua jenjang pendidikan  dilaluinya di sekolah umum, tanpa sekalipun mengalami bullying.

Setamat SMP (2015), putra pasangan Sugiman dan Sri Asiani ini memutuskan tidak melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia memilih mengikuti kegiatan di Balai Rehabilitas Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Pundong. Alasannya, tidak tega melihat bapaknya yang harus mengantarkannya sekolah tiap hari, di antara pekerjaan menambang pasir. Tidak ingin merepotkan, melainkan ingin membantu keuangan keluarga menjadi tekadnya.

Selama satu tahun (2016-2017)  dia belajar desain grafis, dilanjutkan magang di Pondok IT, untuk mempraktikkan teori yang didapatkannya di BRTPD. Hasilnya, Andika berbakat sebagai desain grafis. Selepas magang, Andika diminta pemilik pondok untuk melanjutkan studi desain grafis di pondok tersebut.

Terus Berlatih

Tak disia-siakan kesempatan baik tersebut. Terus belajar, berlatih dan satu lagi mulai mengikuti kontes demi kontes desain grafis. Kontes logo, salah satu yang diikutinya.

Benar saja, bahwa proses baik yang dilakoninya membuahkan hasil manis. Oktober 2018, salah satu karya desain grafisnya dibeli perusahaan roti. “Arasari”. perusahaan tersebut hingga saat ini menggunakan karya desain grafis Andika Syaifudin. Baru-baru ini dua desain loga karyanya, dipakai oleh perusahaan luar negeri.

Capaian prestasi tersebut tidak datang begitu saja. Andika menggenggam erat mimpinya, dan beraksi untuk mewujudkannya. Karya desain grafisnya, dapat dilihat melalui akun istagram (Ig): @arasariofficial.

Setelah mendapatkan kesempatan itu, Andika juga menuturkan bahwa kedua orang tuanya sangat mendukungnya. Selama 9 tahun sekolah di SD dan SMP, ayahnya yang selalu sabar mengantar dan menjemputnya. “Di antara pekerjannya menambang pasir yang pasti melelahkan, bapak tidak pernah mengeluh. Bapak tulus mengurus saya. Bapak juga selalu menasihati saya agar tidak minder kalau bertemua orang. Dengan harapan kelak saya bisa mandiri,” tutur Andika.

Selain dukungan yang didapatkan dari orang tuanya, teman-temannya juga selalu mengingatkan setiap kali Andika melakukan kesalahan. Teman-temannya tidak membully, melainkan mengajarkan agar Andika bisa mandiri.

“Ingin menjadi desainer profesional. Bisa jalan-jalan dengan cara saya. Bisa memberikan semangat kepada difabel lain, supaya punya keyakinan bahwa difabel pasti mampu, dan bisa hidup mandiri,” harapan Andika.

Harapan lainnya, ia ingin memiliki motor roda tiga. Selama ini Andika untuk bermobilitas selalu menggunakan jasa transportasi Difa Bike. Sedikit-sedikit, Andika mulai menabung untuk mewujudkan harapannya. “Kalau punya motor sendiri, pasti saya akan lebih fleksibel beraktivitas. Lebih dari itu bisa lebih hemat. Dan saya ingin sekali ikut seminar-seminar untuk menambah pengetahuan dan jaringan.” Di acara Word Cerebral Palsy Day, Minggu (6/10/2019), Andika bertutur pada Solider. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.