Lompat ke isi utama
Winda sedang duduk di Kursi roda di depan karya lukisnya

Mengenal Karya Lukis Kadek Windari

Solider.id, Denpasar- Ia seorang perempuan difabel yang menggeluti seni lukis. Karya lukis yang dihasilkannya lahir dari kesenjangan yang dia alami, baik dari struktur ataupun kultur di tempat ia tinggal.

Seniman difabel berusia 28 tahun ini bernama Winda Satyagraha. Ia lebih dikenal dengan nama Kadek Windari. Ia mengalami muscullar dystrophy sejak usia 6 tahun yang membuatnya tak pernah secara formal mengenyam bangku pendidikan.

Di gedung Werdhi Budhaya Art Center, Denpasar, ia berkesempatan memamerkan karya lukisnya bersama dengan karya lukis dari seniman lainnya untuk memeriahkan Festival Kesenian Difabilitas.

Di salah satu sudut ruang Gedung Kriya, ia menyapa dan menjelaskan para pengunung yang mampir melihat-lihat karya lukisnya, termasuk kepada Solider. Ia tak keberatan berbagi kisah bagaimana dunia lukis menjadi sandaran dan secara professional menjadi mata pencaharian.

“Awalnya sempat bingung. Karena saat Ayah meninggal tidak ada yang menggantikan beliau menjadi tulang punggung keluarga,” kisah Winda (05/10/19).

Sejak itu, Winda sudah memikirkan bagaimana membantu ibunya utuk menghidupi keluarga. Ia merasakan perjuangan berat yang mesti dipikul oleh ibunya, terlebih kaka Winda juga mengalami muscullar dystrophy. Kondisi tersebut menjadi pilihan Winda jatuh pada dunia lukis yang sejak kecil sudah ditekuninya.

Bermodal kertas. Winda memulainya dengan membuat sketsa. Sebelum akhirnya ia mendapat bantual modal dari salah satu pengusaha di Ramayana Hotel Group yang memberinya bahan kanvas dan alat-alat lukis. Saat itu pula ia mulai melukis.

Karya lukis Winda kemudian diunggah di Facebook oleh kakanya. Melalui Facebook, ia tak pernah mengira masyarakat yang mengetahui hasil karyanya. Hingga akhirnya ia sempat diudang di acara Kick Andy.

Tidak pernah tahu bagaimana rasanya bersekolah tak membuat Winda minder pada keadaan, pun atas kondisi yang ia rasakan. “Saya tidak pernah minder dengan kondisi saya. Pernah merasa sedih hanya saat-saat awal ditinggal Ayah. Karena waktu kecil tidak sempat sekolah, jadi bingung saja karena tidak bisa kerja di luar. Sementara teman-teman lain bisa membantu oranagtua dengan bekerja setelah mereka tamat sekolah,” ujarnya.

Sebagai anak kedua dari empat bersaudara pasangan alm. Ketut Kurnia dan Komang Warsiki, Winda mengisahkan bahwa almarhum adiknya juga mengalami kelainan langka yang sama. Hal ini makin menguatkan tekadnya untuk berbagi simpati pada teman-teman penderita kanker dan anak-anak terlantar yang ada di yayasan.

Melalui pameran lukis yang Winda hasilkan, ia ingin bisa memotivasi teman-teman dan memberi manfaat bagi banyak orang. Selama ini sebagian dari pendapatan karya lukisnya, ia donasikan untuk penderita kanker dan anak-anak terlantar yang ada di yayasan.

Winda tinggal bersama keluarganya di Desa Banjar Asem, Seririt, Singaraja. Menurutnya, selain dukugan di lingkungan tepat ia tinggal, dukungan orang luar, pemerintah, yayasan dan komunitas juga sangat penting. Bersinergi dalam memberikan peluang dan kesempatan bagi difabel untuk mengasah bakatnya.

“Makanya kita tidak bisa menyalahkan teman-teman difabel yang masih belum keluar potensinya dengan mengatakan bahwa mereka tidak mau mencoba. Kita harus pahami dulu kondisi mereka. Beri dukungan dan kesempatan, media apa saja yang mereka butuhkan. Karena orangtua mereka tentu saja sudah kewalahan untuk mengupayakan apa yang mereka butuhkan. Hal ini mengingat teman-teman ada juga yang tinggalnya di pelosok pedesaan,” terang perempuan kelahiran Singaraja, 9 Desember 1990 ini.

Waktu kecil, Winda ingin sekali bertemu dengan Rinaldi Yunardi, desainer asesories yang diidolakannya. Ia suka membaca buku dan melihat tontonan positif yang membantunya memupus masa-masa sulit yang dirasakan. “Hanya dengan cara seperti itu kita bisa melihat banyak hal, bahwa ada orang-orang yang lebih sulit hidupnya dari kita. Memanfaatkan waktu dan bakat untuk berbagi dengan sesama,” tuturnya.

Kini Winda boleh berbahagia. Ia bisa berbagi perjalanan hidupnya dan mengisi waktu luang di sela pesanan lukis yang ia dapatkan. Ia sering membuat sket untuk kaos dan tas sebagai selingan. Sesekali, dengan senang hati ia juga mengisi acara motivasi di beberapa perguruan tinggi dan yayasan.

Saat ini Winda belum terikat dengan satu yayasan ataupu  organisasi tertentu. Hal itu karena winda belum bisa membagi waktu dengan kegitan melukisnya. “Karena saya punya tanggung jawab untuk memenuhi pesanan lukisan. Kalau saya bergabung di satu organisasi tentu ini akan menyita waktu saya,” terangnya. Namun, jika ada yayasan yang memerlukan satu lukisannya dilelang untuk kegiatan amal, bersedia menyumbangkan lukisan.

Bagi Winda, percaya diri menjadi hal wajib untuk menekuni bakat yang dipunyai. Kondisi yang berbeda membuat difabel menjadi istimewa dibanding yang lainnya. Ia berharap, kepada para orangtua, berilah kesempatan bagi anak-anak untuk bisa berkarya. Tidak perlu malu mengajak mereka untuk bergabung dalam kegiatan atau even apapun.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

 

The subscriber's email address.