Lompat ke isi utama
	Social relationship.

Eksklusi Sosial Rentan Menurunkan Kesehatan Difabel

Solider.id, Yogyakarta – Persoalan difabel erat kaitannya dengan realitas diskriminasi. Konsep perbedaan yang membelah difabel dan nondifabel menjadi dasar adanya diskriminasi ini. Difabel tidak seleluasa nondifabel untuk bisa mengakses banyak kesempatan penghidupan, baik fisik maupun non fisik. Difabel juga tereksklusi dalam hubungan sosial, menjadikannya jauh lebih rentan secara ekonomi, sosial dan juga kesehatan. Adakah hubungan antara eksklusi sosial bagi kesehatan manusia?

Sebuah artikel dari laman Pijar Psikologi mengulas kualitas hubungan sosial sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Kualitas hubungan sosial berkontribusi dalam menentukan kesehatan dan kesejahteraan manusia secara menyeluruh. Studi menunjukkan bahwa hubungan sosial memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang terhadap kesehatan individu secara menyeluruh. Kualitas dan kuantitas hubungan sosial memengaruhi kesehatan mental, perilaku sosial, kesehatan fisik, dan risiko kematian.

Dengan adanya hubungan sosial yang berkualitas, sehat dan suportif berdampak pada aspek-aspek kehidupan yang lebih positif, misalnya dengan adanya hubungan sosial, maka seseorang akan mendapatkan kebutuhan dukungan emosional yang lebih baik daripada seseorang yang tidak memiliki hubungan sosial yang baik. Kualitas hubungan sosial yang baik juga memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatasi stres, mengontrol emosi dan kebutuhan akan apresiasi.

Sebuah artikel berjudul What social relationships can do for health yang ditulis oleh Sara Honn Qualls mengungkap bahwa kuantitas dan kualitas hubungan sosial memiliki kekuatan yang besar pada aspek kesehatan seseorang di masa hidupnya. Orang dewasa yang memiliki relasi positif yang luas menunjukkan tingkat kesehatan yang tinggi pada banyak area tubuh. Artikel ini membagi tiga keuntungan sosial yang bisa dirasakan oleh kesehatan tubuh dari hubungan sosial yang berkualitas. Ada keuntungan dukungan sosial, perkawanan, dan kontrol atas regulasi sosial. Ketiga jenis keuntungan sosial ini memberikan efek yang besar pada kesehatan dan bisa didapatkan dari relasi sosial yang luas. Dukungan sosial menolong individu dalam menghadapi masa-masa berat. Dalam kasus difabel, kondisi kedifabelan kerap membuat keluarga menjadi malu dan menutup ruang interaksi difabel terhadap lingkungan. Padahal, dengan kondisi seperti itu, interaksi sosial yang berkualitas dan luas bisa membuat difabel bisa lebih berperan dalam kehidupan sosial dan memiliki kehidupan yang lebih bermakna.

Studi lain menunjukkan hal serupa. Sebuah studi berjudul Social Relationships and Health: A Flashpoint for Health Policy yang ditulis oleh Debra Umberson and Jennifer Karas Montez koneksi sosial memiliki banyak bagian yang masing-masing bisa memberikan dampak pada kondisi kesehatan. Ada isolasi sosial yang mengacu pada absennya hubungan sosial. Isolasi sosial ini banyak terjadi pada realitas difabel hampir di setiap negara. Lalu ada integrasi sosial yang berarti keterlibatan penuh individu ada semua hubungan sosial. Keterlibatan ini bisa didapatkan dari level terkecil seperti dari pasangan, sampai pada hubungan formal seperti organisasi kemasyarakatan atau organisasi keagamaan. Ada juga kualitas hubungan yang melingkupi aspek positif dari sebuah hubungan sosial, seperti dukungan emosional yang diberikan oleh orang lain. Terakhir ada jejaring sosial yang mengacu pada hubungan sosial yang berjaring satu sama lain pada lingkungan individu. Semua bagian dari hubungan sosial ini mempengaruhi tingkat kesehatan masing-masing individu. Studi-studi lain juga menunjukkan bahwa mekanisme sosial dalam hubungan sosial yang berkualitas bisa menjaga seseorang dari kematian yang mendadak dan bisa memperpanjang umur manusia. Dalam segi psikososial, mekanisme sosial ini termasuk (namun tidak terbatas pada): dukuangan sosial, kontrol personal, makna simbolis dan norma.

Beberapa studi di atas menjadi penting untuk menjelaskan dari ranah saintifik mengapa hubungan sosial bisa mempengaruhi kesehatan manusia. Difabel dalam realitasnya yang sering tereksklusi baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi rentan untuk semakin tergerus tidak hanya dari faktor ekonomi, politik, sosial, namun juga dari faktor kesehatan. Faktor-faktor ini mengacu pada satu aliran yang sama yaitu kemiskinan. Misal, difabel yang sakit karena stres terhadap tekanan karena terdiskriminasi rentan terhimpit ekonomi karena harus mengeluarkan ekstra biaya yang lebih banyak dari orang lain.

Suparno, seorang difabel daksa yang tinggal di desa Jatirejo, Lendah, Kulon Progo menuturkan bahwa isolasi sosial yang dekat dengan kalangan difabel memang berdampak pada kesehatan baik mental maupun fisik.

“Saya menjadi difabel dari kecil dengan bentuk kaki yang tidak sama dengan orang kebanyakan ini. Saat kecil, saya sering diejek oleh teman-teman sekolah saya. Tidak ada yang mau bermain dengan saya. Saya sempat mogok tidak mau sekolah,” ujarnya.

Kondisi difabel yang membuatnya mogok sekolah juga ia rasakan berdampak pada kesejahteraan yang ia rasakan sekarang. Menurutnya, ia sebenarnya bisa sekolah. Tapi karena diskriminasi dan eksklusi sosial yang ia dapatkan waktu sekolah dulu membuat ia jadi rendah diri dan tidak mudah bergaul dengan orang.

“Karena minder, saya dulu jadi mikir-mikir untuk mencari kerja. Hasilnya, sekarang hanya ikut paman jadi buruh tani. Kadang ingatan waktu dikucilkan jaman dulu masih keingat ketika berada di kerumunan banyak orang,” ceritanya.

Ia juga mengaku sering merasa sakit kepala ketika sedang stres dan sedih akan kondisinya yang difabel kala itu. Ia tidak begitu aktif ikut dalam Kelompok Difabel Desa Jatirejo maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya.

“Kadang saya sering merasa kencang di bagian belakang leher ini kalau lagi kepikiran kondisi difabel yang membuat saya susah sekali mendapat mata pencaharian karena rendah diri ini,” terangnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Gian Adi Pradana, seorang difabel netra, yang tinggal di Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo. Ia sering menghabiskan waktu di rumah saja. Kadang orang tuanya juga tidak mengizinkan untuk keluar rumah karena khawatir dengan kondisi kedifabelannya.

“Mungkin orang tua takut saya tidak bisa pulang. Kadang kalau di rumah juga bosan. Saya biasanya kasih makan ayam peliharaan saja. Saya juga tidak punya teman yang datang ke sini. Kadang merasa kesepian,” cerita Gian.

Kalau sudah merasa kesepian, Gian mengaku akan merasakan sakit kepala dan sakit punggung. Semua itu akan sembuh sendiri ketika dibawa tidur. Ia juga mengaku sering stres karena merasa hidupnya sangat terbatasi dan kesempatan-kesempatan yang ada di luar tidak bisa ia dapatkan dengan maksimal karena lingkungannya yang tidak mendukung. Gian juga tidak terlalu aktif di KDD Ngentakrejo.

Hal yang sedikit berbeda diutarakan oleh Dwiyati, difabel daksa yang tinggal di Jatirejo. Meski tidak bisa dibilang aktif di KDD, namun mata pencahariannya sebagai seorang penjual sapu lidi dan telur asin membuat ia sering bertemu dan mengobrol dengan banyak orang.

“Saya sering jual telur asin sampai daerah kraton di Jogja sana. Dari sini naik bus. Meski bikin capek, tapi senang karena bisa jualan dan ketemu banyak orang,” ceritanya.

Dwiyati yang tahun ini sudah memasuki usia kepala enam mengaku sebagian besar harinya ia habiskan di luar rumah untuk berjualan. Di rumah, ia hanya ditemani oleh adiknya saja karena ia tidak menikah. Ia mengaku bersyukur masih bisa aktif bekerja dan bertemu dengan banyak orang. Ia mengaku orang yang suka bercerita banyak hal sehingga sifat itu membantunya dalam berjualan telur asin dan sapu lidi.

“Kalau sakit, paling sakit dengkul saja karena jalan terlalu lama. Apalagi kaki saya yang kanan ini kan memang tidak bisa menekuk, jadi memang semakin tua semakin habis energinya. Tapi kadang tidak terasa kalau di jalan. Terasanya kalau sudah sampai rumah. Stres dulu pernah tapi sekarang sudah jarang karena banyak teman di jalan yang bisa diajak bercerita,” ceritanya panjang.

Diskriminasi akhirnya tidak hanya memberikan efek buruk bagi lingkup sosial dari difabel itu saja, namun diskriminasi yang menghambat difabel dalam mendapatkan hubungan sosial yang inklusif juga rentan membuat sektor kesehatan difabel menurun. Bukti-bukti ini menjadi penting bagaimana diskriminasi pada difabel sangat merugikan baik individu maupun lingkungan difabel itu sendiri. Di sisi lain, kesempatan yang luas bagi difabel juga terbukti memberikan kepuasan secara mental yang berdampak pada kesehatan fisik yang terjaga. []

 

Reporter: Yuhda

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.