Lompat ke isi utama
Para peserta peringatan Hari Cerebrel Palsy yang digelar WKCP

WKCP DIY Rayakan Hari Cerebral Palsy Dunia dengan Bergerak Bersama

Solider.id, Yogyakarta- Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) Daerah Istimewa Yogyakarta, memperingati World Cerebral Palsy Day 2019. Kegiatan diselenggarakan di Museum Dirgantara Adi Sutjipto tersebut mengusung tema Move As One atau bergerak bersama. Kegiatan diikuti sebanyak 300 anak cerebral palsy (CP) beserta keluarga masig-masing.

“Bersama-sama kita bisa bergerak. Bersama, kita bisa menjadi kuat. Bersama-sama, kita bisa menunjukkan kepada dunia apa yang bisa kita lakukan,” kata Anis Sri Lestari Ketua WKCP DIY kepada Solider, Minggu (6/10).

Anis menjelaskan bergerak bersama bukan sekedar bergerak secara fisik, melainkan bergerak untuk meningkatkan kesejaheraan dan kemajuan anak-anak dengan CP. “Maka tadi ada jalan keliling anak-anak CP bersama keluarga. Selain bergerak untuk menggerakkan badan, juga untuk mendapatkan sinar matahari yang bagus,” lanjutnya.

Jalan keliling didasari oleh hasil penelitian salah seorang dokter di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Bahwa dari empat puluhan anak yang dicek di rumah sakit tersebut, lebih banyak mereka kekurangan vitamin D. “Indonesia berlimpah vitamin D. Sangat ironis kan kalau sampai anak-anak Indoensia kekurangan vitamin D. Miris! Vitamin D dapat diperoleh gratis dari sinar matahari,” tandas Anis.

Edukasi Screening touch

Anis juga menyampaikan adanya program advokasi yang akan terus dijalankan WKCP DIY. Jika advokasi sebelumnya yakni screening torch sudah diadopsi pemerintah DIY sejak dua tahun sebelumnya. Advokasi yang sedang dan akan dijalankan terkait pendidikan yang mendorong kemajuan bagi anak-anak CP.

Terkait screening torch yang sudah menjadi program Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Sosial (Bapel Jamkesos), Anis merasa lega. Adanya screening torch, memimalisir lahirnya bayi difabel. Namun demikian dia merasa harus terus mendorong pemerintah agar mau membuka data dampak dari screening torch tersebut. Dengan demikian masyarakat tahu dan peduli terhadap pentingnya pemahaman screening torch sebelum memutuskan kehamilan.

Bagi Anis, sesunguhnya screning torch tidak harus bergantung pemerintah, melainkan bisa bersubsidi. Untuk itu edukasi kepada pasangan yang menghendaki kehamilan ini musti dicanangkan. Edukasi tidak butuh biaya banyak sebagaimana screening torch. Edukasi bisa melalui Kantor Urusan Agama (KUA), pada pasangan mau menikah. Bisa juga mulai di sekolah-sekolah. Baik di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA).

Jika paham sceening torch mereka akan melanjutkan informasi pada yang lain. Melalui pembekalan saat pasangan hendak menikah. Dengan sadar, masyarakat tidak akan sayang mengeluaran uang untuk itu.

Edukasi terkait Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), ini juga penting, imbuh Anis. Hal itu juga perlu dilakukan minimal sejak SMP, SMA. “Sebagai contoh, minum dengan satu sedotan bersama, itu tidak higienis, karena penularan TORCH itu dari air liur, salah satunya. Bukan melarang berbagi makanan, melainkan cara berbagi yang harus diubah,” ujarnya.

Anis menghimbau kepada masyarakat agar bersama-sama menghadapi masa depan yang tidak pernah kalian ketahui. Selain itu peringatan tersebut sekaligus menjadi momen memperbaharui data. Mendata kembali anak-anak yang sudah mulai remaja untuk masuk ke komunitas Youth CP.

Berkumpul atau berkomunitas memberikan banyak keuntungan bagi orangtua yang memiliki anak CP. Selain dapat saling mengenal, dapat juga saling berbagi bagaimana mengasuh anak CP, mendapat informasi tentang terapi, kesehatan, serta pengetahuan baru.

“Setidaknya langkah kita bukan langkah yang panjang, meski sedikit-sedikit tapi pasti,” harap Anis.[]

 

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.