Lompat ke isi utama
ilustrasi teknologi inklusif

Tujuh Cara Efektif Menuju Aksesibilitas Digital

Solider.id, Yogyakarta – Teknologi berperan krusial dalam mengurangi eksklusi sosial bagi difabel di Indonesia. Hari ini, kita hidup berjalan seiringan dengan teknologi yang semakin lama semakin canggih. Teknologi juga membantu menghadirkan kemandirian bagi siapa saja termasuk difabel. Dengan bantuan teknologi, transaksi keuangan sekarang sudah tidak perlu meminta difabel untuk datang ke bank atau ke institusi keuangan. Seringkali fasilitas yang tidak aksesibel membuat difabel terhambat untuk bisa melakukan transaksi keuangan secara bebas. Teknologi memecahkan tantangan itu dan membuatnya menjadi lebih mudah.

Layanan antar makanan barbasis ojek daring juga membantu difabel dalam memesan makanan dengan bantuan teknologi. Segala kemudahan bisa membantu kemandirian difabel semakin hadir. Teknologi juga membuat difabel netra bisa leluasa berbelanja daring melalui kanal-kanal marketplace yang semakin menjamur di Indonesia. Mereka cukup berselancar pada gawai mereka yang juga semakin canggih atau pada komputer mereka dengan menggunakan aplikasi pembaca layar. Teknologi akan membantu menampilkan informasi mengenai barang yang dibutuhkan melalui pembaca layar mereka.

Munculnya berbagai macam platform bisnis daring tidak perlu membuat difabel harus pergi ke luar rumah untuk berbelanja barang-barang. Fenomena ini memberi kebaikan karena membuat aksesibilitas lingkungan yang kadang membuat difabel kesulitan untuk berbelanja secara mandiri menjadi terpecahkan. Jumlah difabel pengguna aktif layanan daring seperti ini juga tidak sedikit. Mereka menempati ceruk pasar yang potensial bagi para penjual dan penjaja layanan berbasis daring.

Laman marketplace dan aplikasi pada gawai kemudian harus dibuat dengan sangat aksesibel untuk mendukung realitas di atas. Tidak hanya untuk mendapatkan ceruk pasar potensial dari kalangan difabel secara hitung-hitungan bisnis, yang lebih penting, aksesibilitas dari teknologi yang mendukung berjalannya bisnis daring bisa memberikan keadilan berkehidupan bagi difabel. Laman Abilitynet.org.uk merilis tujuh prinsip dan cara sederhana bagi para pegiat bisnis berbasis daring untuk menuju aksesibilitas digital.

Aksesibilitas harus dipikirkan pada desain awal, bukan pada akhir

Bagi orang yang sedang mendesain laman marketplace pribadi atau aplikasi pada gawai untuk kepentingan bisnis berbasis daring, mereka harus memperhatikan aspek aksesibilitas pada setiap projek pendesainan awal laman atau aplikasi mereka. Jangan sampai melakukannya di akhir projek pendesainan karena akan memakan waktu yang lebih lama dan biaya yang semakin membengkak jika aksesibilitas yang dibutuhkan baru diidentifikasi ketika sudah menjelang akhir pembuatan. Desainer harus merancang laman atau aplikasi dengan pendekatan inklusif dari awal untuk memastikan bahwa laman dan aplikasi bisa aksesibel dan terbuka oleh semua jenis calon pelanggan.

2. Libatkan difabel dalam uji coba laman atau aplikasi

Untuk mengetahui kebutuhan penuh dari difabel dalam menggunakan piranti teknologi untuk beraktifitas daring, pendesain laman dan aplikasi harus mengikutsertakan serta melibatkan difabel terutama saat masa user testing untuk mengetahui seberapa aksesibel laman dan aplikasi sudah terbentuk. Barclays’ free Diverse Personas guide tersedia secara daring dan bisa dijadikan panduan untuk mendesain produk dan layanan digital yang bisa merangkul kebutuhan pelanggan dengan berbagai macam jenis difabilitas.

3. Sederhanakan bahasa

Pastikan juga bahwa bahasa yang digunakan juga bisa diakses oleh semua kalangan. Bagi difabel mental intelektual, permasalahan bahasa yang rumit kadang membuat mereka tidak efektif dalam mengakses berbagai macam produk dan layanan berbasis digital.

4. kontras warna

Warna yang menjadi latar belakang dari produk dan layanan digital harus bisa mengakomodasi kebutuhan difabel terutama  bagi orang dengan low vision serta mereka yang menggunakannya pada saat terang hari. Laman Check My Colours bisa menjadi rujukan untuk menemukan warna apa yang pas untuk produk dan layanan digita.

5. Sertakan deskripsi

Penyedia produk dan layanan digital bisa memberikan deskripsi pada setiap gambar dengan menggunakan alt text. Gambar yang bersifat dekoratif tidak perlu diberikan alt text sehingga gambar itu bisa dilewati oleh aplikasi pembaca layar. Pemberian alt text ini termasuk memberikan caption pada gambar yang ada di media sosial.

6. Berikan teks subtitle pada video

Dengan semakin bertambah besarnya orang-orang dalam menggunakan gawai, ada juga peningkatan pada jumlah orang yang menonton video terutama pada media sosial. Statistik menyebutkan ada sekitar 85% video pada Facebook yang tanpa suara. Statistik ini semakin mendorong pentingnya menghadirkan subtitle pada setiap video yang dipasang. Subtitle dan transkrip percakapan akan membantu Tuli dan orang dengan pendengaran terbatas untuk memahami video. Transkrip bisa digunakan bagi Tuli sekaligus difabel netra untuk diubah ke dalam braill melalui teknologi. Platform seperti YouTube sudah memberikan layanan gratis dengan memberikan caption tertutup sehingga bisa diedit langsung. Tes yang bisa dilakukan oleh video maker adalah dengan memutar videonya tanpa suara dan menilai apakah konten video tersebut memerlukan subtitle dan transkrip atau tidak.

7. gunakan html native

Jika kondisinya memungkinkan, desainer produk dan layanan digital bisa menggunakan html native atau html yang dibangun dengan bahasa pemrograman untuk platform tertentu. Html native memang membutuhkan biaya yang lebih besar, namun dengan menggunakan html native, aplikasi pembaca layar akan semakin mudah untuk membaca apa yang ada di layar. Html native juga bisa memberikan elemen seperti tombol pada papan ketik tambahan daya sehingga tanpa menggunakan mouse, pengguna produk digital bisa menggunakan tombol dengan bantuan html native. []

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.