Lompat ke isi utama
ilustrasi Cerebral Palsy, sumber gambar Google

Mengenal Lebih Luas Cerebral Palsy

Solider.id, Bandung – Hari Cerebral Palsy Sedunia, World Cerebral Palsy Day (WCD) diperingati oleh masyarakat dunia setiap tahunnya pada Rabu pertama di bulan Oktober. Mengulas Cerebral Palsy (CP), mari kita mengenal lebih luas tentang apa dan bagaimana CP, serta bagaimana para individu CP bisa mengatasi hambatan yang ada untuk tetap bisa menjalani hidup dengan mandiri dan memiliki prestasi.

Salah satu jenis difabel adalah cerebral palsy (CP). Secara umum di masyarakat CP masih sering dikategorikan sebagai difabel Daksa atau pemilik hanbatan secara fisik. Padalah, dari berbagai kajian kasus kesehatan cerebral palsy dan Daksa memiliki perbedaan dalam kondisi dan penyebabnya.

Cerebral Palsy atau yang kemudian dikenal dengan lumpuh otak, adalah suatu kelainan kongenital pada gerakan otot atau postur yang disebabkan oleh perkembangan otak yang tidak normal seringkali sebelum lahir.

Sejarah Cerebral Palsy (Dilansir dari berbagai sumber)

Dari berbagai sumber, kategori difabel Cerebral Palsy (CP) diprediksi telah ada sejak abad ke 15 hingga 14 SM. Bukti fisik kemungkinan tertua mumi Siptah, seorang Firaun Mesir yang memerintah sekitar 1196 hingga 1190 SM dan meninggal pada usia 20 tahun. Kelahiran CP telah diduga karena kaki tangannya yang mengalami kecacatan.

Mengembangkan sejarah yang telah ditemukan, dari beberapa litelatur medis orang Yunani Kuno membahas kelumpuhan dan kelemahan lengan dan kaki sebagai Palsy. Palsy kata medern berasal dari Yunani Kuno yang diartikan sebagai kelumpuhan atau paresis masing-masing pada tubuh.

Johann Christian Reil, Claude Francois Lallemand dan Philippe Pinel, merupakan para tokoh yang berhasil mempublikasikan tentang kasus kelainan pada otak. Pemahaman modern CP sebagai hasil dari masalah di dalam otak dimulai pada dekade awal 1800-an. Hal ini terus berkembang dan menjadi penelitian yang cukup serius oleh para ilmuwan kedokteran.

Orang pertama yang mempelajari CP adalah ahli bedah dari Inggris, William John Little (1810-1894). John menuliskannya saat membuat tesis doktor dengan menyatakan, Cerebral Palsy (CP) akibat dari masalah sekitar waktu kelahiran, persalinan yang sulit, sepert kelahiran prematur, asfiksia perinatal khususnya sebagai faktor risiko.

Sementara, dokter kelahiran Kanada, William Osler (1849-1919) memiliki kesimpulan lain tentang masalah yang menyebabkan pendarahan di dalam otak menjadi salah satu kemungkinan akar penyebab Cerebral Palsy (CP).

Kemudian, ahli saraf Austria, Sigmund Freud (1856-1939) membagi penyebab gangguan menjadi masalah yang muncul saat lahir. Menurut Freud, masalah yang berkembang selama kelahiran dan masalah setelah kelahiran berpotensi adanya Cerebral Palsy (CP). Korelasi masalah di dalam otak serta lokasi anggota tubuh yang terkena pada tubuh, dan mendokumentasikan berbagai macam gangguan gerakan.

Mendeteksi Cerebral Palsy (CP)

Membutuhkan diagnosis medis untuk mengetahui adanya CP pada seseorang. Secara umum Cerebral Palsy (CP) pun memiliki tingkatan gejala yang dapat terukur secara medis. Gejala termasuk refleksi berlebihan, merasakan anggota badan yang lemas atau kaku, dan gerakan yang tidak terkendali, biasanya gejala ini muncul pada anak usia dini.

Hal lain yang dapat dicermati adalah dari otot. Adanya gerakan tidak disadari, kelumpuhan pada satu sisi tubuh, kesulitan berjalan, gerak tubuh koordinasi bermasalah, otot kaku, lemas, tegang, pemendekan permanen pada otot atau refleks terlalu aktif.

Dari sisi perkembangan individunya, CP secara umum memiliki hambatan seperti; gangguan belajar, hilang semangat, keterlambatan bicara pada anak atau pertumbuhan yang lambat. Dalam ucapan pun terdengar gagap atau mengalami gangguan berbicara.

Hal lain yang dapat diperhatikan secara umum, misalnya; air seni keluar tanpa dapat disengaja, gaya berjalan gunting, spastik, kejang, kelainan bentuk fisik, kelumpuhan, sulit menelan, sulit mengangkat kaki, mengeluarkan air liur, menggeretakan gigi.

Perawatan yang dapat dilakukan Cerebral Palsy (CP)

Secara medis, CP dapat dihambat perkembangannya meski belum ada pengobatan yang mampu memberikan kesembuhan total hingga seratus persen. Pengobatan jangka panjang yang dapat dilakukan meliputi terapi fisik dan terapi lainnya. Fungsi terapi ini salah satunya untuk tetap menjaga dan merawat fungsi gerak tubuh dari rasa kaku maupun rasa lemas.

Terapi fisik diantaranya, terapi kerja untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari dan keterampilan kerja, peregangan otot untuk fleksibilitas dan meningkatkan fungsi fisik, terapi fisik mengembalikan kekuatan otot dan fungsinya.

Penggunaan obat. Obat yang digunakan seperti untuk pelemas otot dan obat penenang. Tindakan lain yang dapat dilakukan terkadang operasi gastronomi atau penyisipan bedah dari tabung melalui perut dan ke dalam perut digunakan untuk makan atau drainase.

Secara spesifik dan spesialis Cerebral Palsy (CP) juga dapat dihambat dengan terus melakukan pengobatan dan terapis. Beberapa contoh yang dapat dilakukan antara lain;

Neurologi anak atau mengobati gangguan sistem saraf pada anak. Neurologi secara umum untuk mengobati gangguan sistem saraf. Terapi berbicara yang berfungsi agar memahami bahasa dan menangani gangguan berbicara. Langkah ortopedi yaitu melakukan operasi untuk kondisi yang mempengaruhi tulang dan otot. Terapi kerja untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari dan keterampilan kerja. Pengobatan fisik dan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi dan kualitas hidup. Terapi fisik untuk mengembalikan kekuatan otot dan fungsinya.

Apakah para individu dengan Cerebral Palsy (CP) dapat mandiri?

Mungkin pertanyaan tersebut masih banyak dilontarkan masyarakat umum. Bila kita hanya melihat dari segi pengetahuan medis tentang Cerebral Palsy (CP), yang terbayang di dalam benak mungkin gambaran sosok CP yang terus memiliki ketergantungan kepada orang lain. Namun dibalik itu semua, mereka yang mengalami Cerebral Palsy (CP) ternyata dapat menjalani hidup mandiri ditengah  hambatan yang dimilikinya. Bahkan, banyak dari mereka yang mampu memiliki prestasi gemilang.

Sebut saja, Fira Fitria, SE. Cerebral Palsy (CP) asal Tuban Jawa Timur.

Kondisi Cerebral Palsy yang dimilikinya tidak membuat sosok Fira menjadi terpuruk. Pada usia dewasanya, Fira mampu menuntaskan sekolah hingga jenjang pendidikan S1, dan saat ini sedang menempuh kuliah S2 nya disalah satu kampus di Jawa Timur dari jalur beasiswa.

Fira yang kesehariannya menggunakan alat bantu kursi roda, masih mampu beraktivitas secara rutin. Selain menjadi aktivis difabel dan memiliki komunitas yang dibawah kepimpinannya hingga kini, ia juga pernah dikenali masyarakat Tuban sebagai seorang penyiar radio berbahasa Jawa.

Tidak dipungkiri Fira, hambatan dan tantangan hidupnya sangat keras. Namun, ia dapat memotivasi dirinya untuk tetap hidup mandiri. Dalam berbagai kesempatan, dirinya juga sering menjadi narasumber acara edukasi dan sosialisasi bahkan advokasi yang berkaitan dengan masyarakat difabel.

Sebagai indivudu Cerebral Palsy (PC), Fira pun memiliki harapan kepada sesama rekannya di seluruh Indonesia, untuk lebih bisa mengaktualisasikan dirinya ke lingkungan masyarakat luas dalam segala aspek bidang kehidupan. Baik pendidikan, ketenagakerjaan, sosial dan lainnya.

Senada dengan Muhammad Budi Pramono, Cerebral Palsy (CP) asal Cimahi Jawa Barat mengungkapan, Cerebral Palsy (CP) tidak akan pernah bisa ia tinggalkan karena sudah menjadi bagian hidupnya sejak usia tiga tahun. Bahkan dirinya mengatakan Cerebral  Palsy adalah anugerah yang diberikan Allah, sebab hanya orang yang dipercaya untuk menjadi sosok dengan Cerebral Palsy (CP).

Celoteh Budi yang mengatakan dirinya harus akrab dengan Cerebral Palsy (CP), menegaskan, CP bukan suatu hambatan dalam meraih mimpi dan keinginan mereka, asalkan mereka pun memiliki keinginan untuk terus berusaha. Tahun ini Budi terpilih menjadi salah satu kandidat dari Auatralia Awards yang akan diberangkatkan ke negeri Kangguru tersebut guna menjalani studi singkat.

Sosok Cerebral Palsy (CP) yang dikenal sebagai seniman ini pun mengungkapkan semoga di Hari Cerebral Palsy Sedunia, akan lebih banyak orang yang memahami dan mengenali mereka dan pemerintah pun dapat memberikan layanan akses bagi mereka sebagai warganya.

Baik Fira maupun Budi hanyalah sebagian contoh masyarakat difabel CP yang mampu mengatasi hambatan dalam kehidupannya dan bahkan dapat memiliki prestasi yang gemilang. Diluar sana mungkin masih banyak lagi individu dengan Cerebral Palsy (CP) yang mempunyai kemandirian serta prestasi yang serupa.

Selamat Hari Cerebral Palsy Sedunia 2019.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief   

 

The subscriber's email address.