Lompat ke isi utama
Amrullah

Amrullah dan Harapan Hukum yang Ramah Difabel

Solider.id, Denpasar- Amrullah adalah seorang pengacara yang memiliki keinginan membentuk organisasi difabel yang konsen di isu bantuan hukum. Keinginannya, muncul ketika sebuah kecelakaan membelokkan nasibnya dan menyadari bahwa hukum di Indonesia belum ramah terhadap difabel. Mulai dari teks hukum, aksesibilitas, pendampingan dan lain sebagainya.

Lima tahun lalu, pria difabel daksa berusia 32 tahun kelahiran Lombok, 17 Agustus 1987 ini, telah disumpah sebagai pengacara. Dari sana, ia aktif sebagai pengacara di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padi yang merupakan bentukan para senior advokat di Lombok.

“Saya ingin membentuk organisasi difabel yang memberi bantuan dalam bentuk dukungan advokasi kebijakan. Bantuan seperti ini yang akan mengakomodir kebutuhan teman-teman,” tutur Amru, dijumpai jelang rehat siang di kampus IALF Bali, Jalan Raya Sesetan 190, Denpasar (26/09/19).

Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Nur dan Nur Hayati. Dalam keseharian ia tinggal bersama keluarga kecilnya di Rt 04 Dusun Sendanggalih Barat, Desa Sendanggalih, Lombok Timur, yang berjarak sekitar 110 kilometer dari pusat kota Mataram.

Melalui organisasi yang ingin didirikannya, Amru juga ingin berbagi pengetahuan bagaimana melakukan advokasi terhadap kebijakan. “Karena bila hukum berjalan dengan baik dan benar, tentu akan mudah bagi teman-teman difabel untuk mengaksesnya,” lanjutnya.

Amru mengatakan ketika sebuah kebijakan dapat mengakomodir kebutuhan difabel, maka akan mudah bagi difabel mengaksesnya. Untuk bisa melakukan advokasi, menurutnya butuh partisipasi dan dukungan dari banyak orang.

Kondisi yang menyadarkan

Amrullah sudah merasa kesulitan mengingat tragedy kecelakaan yang menimpanya. Ia tak lagi ingat bagaimana kecelakaan listrik bisa terjadi hingga menyebabkan betis kirinya diamputasi. Ia hanya tahu secara pasti, tubuhnya mengalami luka bakar parah karena tersengat listrik tegangan tinggi.

“Saya tidak begitu mengingatnya. Lupa karena peristiwanya yang sudah lama,” kisah Amru. Ia sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Selong, Mataram, selama lebih kurang dua bulan. “Mulanya tidak diamputasi. Dua minggu di rumah sakit saya baru menjalani amputasi. Waktu itu tahun 1998. Karena listrik masih milik Koperasi Listrik Pedesaan (KLP) semua biaya ditanggung oleh KLP.”

Dua bulan dalam masa perawatan setelah amputasi, alumni SMK Negeri 3 Mataram ini bergegas pulang. Saat itu, baginya adalah masa-masa yang berat untuk kembali belajar berjalan karena harus memakai kruk.

“Dari yang tadinya menggunakan dua kruk selama dua tahun, lalu saya belajar menggunakan satu kruk,” tutur Amru. Kini ia tak lagi membutuhkan kruk untuk membantunya berjalan. Ia menggunakan kaki palsu untuk berbaur dengan lingkungan.

Dukungan sebagai pengacara

Bertemu dengan teman-teman difabel di komunitas, semakin menguatkan Amru untuk mengambil Master of Human Right Law yang spesifik tentang United Nations Convention on the Right People With Disabilities (UNCRPD). Ia dinyatakan lulus, hingga masuk masa persiapan dan pembekalan untuk melanjutkan pendidikan ke Australia lewat seleksi beasiswa Australia Award Scholarship (AAS). Meski ia dadar masih butuh perjuangan yang luar biasa panjang.

Pria berperawakan sedang ini juga fasih dalam berbahasa Inggris. Hal itu ditunjukkan dengan beberapa kalimat dalam perbincangan. Kemampuannya tersebut diasah sejak di bangku sekolah menengah, ketika ia menjadi pemandu wisata di Gili Trawangan. Ia juga menjadi salah satu calon peserta yang tengah mengikuti pembekalan beasiswa pendidikan ke Australia tahun depan.

Tamat sekolah menengah tak lantas membuat Amru bisa langsung kuliah. Berkat tekad kuatnyalah, setelah setahun berdiam di rumah, ia meneruskan ke perguruan tinggi. Ia memilih Fakultas Hukum Universitas Mataram, dari sana benih harapan menjadi pengacara muncul. “Banyak teman saya yang memilih menjadi guru. Tapi karena saya ingin membuat perubahan, saya memilih menjadi pengacara,” ujarnya.

Tragedi kecelakaan dan jalan pendidikan hukum yang ia pilih menyadarkannya pada kondisi teman-teman difabel. Terlebih ketika bergabung dengan sebuah organisasi difabel bernama Lombok Disability Centre. “Dengan kondisi seperti ini saya ingin menjadi lawyer yang bersuara di garda depan,” ujar pemuda yang hobi membaca dan nonton sepak bola ini.

Ia berniat melanjutkan ke Melbourne University di Australia. Menurutnya, akomodasi di Australia sudah sangat terkenal menjamin warga difabel mendapat kesetaraan. Ia juga ingin mengatahui dan merasakan bagaimana pemerintah di Australia memperlakukan difabel tanpa perbedaan.

“Sehingga hal itu bisa kita akomodir saat kita kembali ke Indonesia. You can’t see what you can’t be. Minimal kita sudah punya pengalaman,” pungkas Amru.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.