Lompat ke isi utama
Ilustrasi tokoh Joker

Joker dan Nasib Skizofrenia

Solider.id- Joker lahir bukan karena Murray memberinya kesempatan untuk melucu di acara televisi. Dia lahir dari kesenjangan masyarakat Gotham yang geram dengan sistem elit penguasa yang meghancurkan orang-orang yang bernasib sama dengannya. Terlebih bagi mereka yang berurusan dengan kesehatan.

Joker atau Arthur Fleck mengalami mental ilness sejak kecil. Memiliki penyakit kelainan syaraf mendadak tertawa dan tidak bisa dihentikan. Pun tatkala pada adegan dia di dalam sebuah bus reyot angkutan kota Gotham. Berbekal di saku baju secarik kertas sebagai penanda yang dia sodorkan kepada orang yang menatapnya heran. Kertas yang menyatakan bahwa dia memiliki kelainan suka tertawa terbahak.

Dalam sebuah kutipan, Arthur Fleck yang diperankan Joaquin Phoenix mengakui bahwa ia telah belajar banyak dari orang-orang yang mengalami gangguan tawa patologis, penyakit mental yang membuat mimik wajah tak terkendali.

Tawa patologis merupakan salah satu bentuk mental ilness pseudobulbar affect (PBA). Sebuah kondisi karena kerusakan korteks prefontal pada otak yang mengendalikan emosi dan adanya perubahaan kimia cairan otak.

Rumit? Ya, memang rumit. Namun, ada yang lebih rumit dari sekadar penyakit yang dialami Arthur, yakni Gotham melalui dinas kesehatan, tidak lagi bisa menyediakan obat-obatan bagi Orang Dengan Skizofrenia (ODS) seperti Arthur.

Berlatar belakang tahun 1981an, Joker besutan sutradara Todd Philips terinpsirasi dari film Taxi Drover (1976) dan The Kings of Comedy (1983). Todd sengaja menjauhkan filmnya ini dari kemunculan Batman. Batman alias Bruce Wayne di film ini digambarkan masih berumur anak-anak, 8-10 tahunan.

Todd mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa film Joker dibikin seoriginal. Garapan cerita dan narasinya tidak sejalan dengan Joker versi komik DC. Film Joker spesifik menyorot riwayat Arthur Fleck.

Arthur yang tinggal di apartemen kumuh, menunjukkan gambaran kehidupan kota Gotham yang kelam. Arthur Fleck yang kerap dipanggil ‘Happy” oleh ibunya adalah seseorang yang penyayang. Dia bercita-cita menjadi pelawak tunggal, atau stand-up-comedian.

Lebih dari setengah durasi film Joker diisi dengan dialog dan gambar yang menunjukkan Arthur yang depresif dan delusional. Realitas sosial kota Gotham yang hitam, perbedaan kaya dan miskin, sampai humor komedi berbau rasis yang ditampilkan Murray Franklin diperankan Robert De Niro dalam siaran televisi mereka.

Arthur dan Komunitas Badutnya

Patut dicatat, meski Arthur ketika bekerja adalah sendiri, namun dia berkomunitas yang memiliki kantor. Komunitas inilah yang memberikan job-job pada anggotanya. Dari beberapa anggota komunitas badut, terlihat Gary, little people yang sering mendapat perundungan dari sesama pelawak. Gary masih dilihat sebagai orang yang tidak normal. Dan candaan-candaan oleh temannya diwarnai dengan candaan yang mengkerdilkan Gary.

Suatu saat, tatkala peristiwa oleh Arthur menusuk mata Ramdall, teman sekomunitas yang mengunjungi rumahnya dengan menggunakan gunting dan serta merta membenturkan kepala Ramdall ke dinding dengan sangat sadis. Gary yang menyaksikan laku biadab tersebut lepas dari ancaman Arthur, karena ,menurutnya Garry teman senasib.

Kondisi keterpurukan yag bertubi-tubi kemudian memicu hal-hal yang membuat depresi Arthur meningkat. Ditambah kondisi dia tidak lagi berobat rutin terkait penyakit skizofrenia yang diidapnya.

Arthur yang semula diketahui pengidap skizofrenia, adalah seorang penyayang ibunya. Dan untuk membentengi diri dari kejahatan (di awal film digambarkan dia menjadi korban pengeroyokan segerombolan remaja), dia membeli sepucuk pistol yang kemudian mengharuskannya menjadi seorang pembunuh ketika dia dalam kondisi tidak berdaya dipukul, dihajar dan dikeroyok oleh tiga orang.

Arthur yang penyayang kemudian menjadi beringas dan tega membunuh sang ibu tatkala ia mengetahui bahwa selama ini ibunya telah menyembunyikan kebohongan-kebohongan dan delusi-delusi. Di kemudian hari ia mengetahui ibunya pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Delusi ibu Arthur dengan dibuktikan dengan berpucuk-pucuk surat yang dia kirim kepada Thomas Wayne dan ada yang terbaca oleh Arthur.

Dalam adegan flashback digambarkan alasan sang ibu menyiksanya adalah demi mendengar Arthur bisa menangis seperti anak-anak lain. Rumah sakit jiwa mencatat semua itu.

Kehadiran rumah sakit jiwa menambah gambaran kota Gotham yang bersih dari segala penyakit dan melindungi mereka yang berduit. Gotham barangkali, adalah surge bagi para elit penguasa, tapi bagi rakyat kecil macam Arthur, neraka jahannam yang berisi penderitaan.

Film Joker adalah sebuah epic yang menggambarkan tentang karakter yang dipengaruhi oleh kondisi sosial di sekitarnya. Ketika kota sudah tidak mampu lagi menjamin lagi pengobatan kesehatan mental bagi warganya. Serta jurang kemiskinan yang dalam yang melahirkan tirani-tirani kapitalis serta laku anarkis, televisi yang menonjolkan hiburan bagi kaum kaya, dan hedon.[]

 

Judul Film : JOKER

Pemeran ; Joaquin Phoenix, Zazu Beetz, Robert De Niro

Sutradara : Todd Phillips

Produser : Todd Phillips, Bradley Cooper dan Emma Tilinger Koskoff

Skenario : Todd Phillips, Scot Silver berdasar karakter Joker karya DC Comics

Tayang  : Oktober 2019

Durasi   : 122 menit

Negara : Amerika Serikat

 

Peresensi : Puji Astuti

The subscriber's email address.