Lompat ke isi utama
ilustrasi film shutter

Film sebagai pembentuk persepsi terhadap difabel psikososial

Solider.id, Yogyakarta – Seberapa besar pengaruh budaya pop terutama film dalam memberikan persepsi tentang suatu keadaan manusia? Benarkah film bisa membentuk persepsi masyarakat akan suatu keadaan yang bisa berdampak baik maupun buruk pada kehidupan sosial? Difabel dengan segala realitasnya seringkali tergambarkan dengan citra yang cenderung negatif dalam beberapa produk budaya pop seperti novel, gambar dan film. Persepsi masyarakat dalam melihat difabel kemudian terbentuk dari input yang masuk ke dalam pikiran mereka, baik dalam bentuk audio seperti radio, dalam bentuk visual, seperti koran, dan lukisan, serta dalam bentuk audio visual seperti film dan video. Yang perlu dikhawatirkan adalah persepsi yang negatif yang terbentuk karena efek dari film yang ditonton oleh banyak orang.

Apa itu persepsi? Persepsi berasal dari bahasa Latin yaitu perceptio atau percipio yang memiliki makna tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tetang lingkungan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi dimaknai dalam dua pengertian. Pertama, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Kedua, persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya.

Film berpengaruh terhadap adanya stigma terhadap difabel mental psikososial. Beberapa film menurut laman Pijar Psikologi dinilai menyudutkan difabel mental psikososial, seperti Split (2016), Shutter Island (2010), Black Swan (2010), Belahan Jiwa (2005) atau Silence of the Lambs (1991).

Belahan Jiwa (2005) bercerita tentang empat sahabat yang masing-masing menghadapi masalah dalam kehidupan dan pekerjaan mereka. Persahabatan mereka terancam ketika mulai terungkap bahwa mereka semua berhubungan dengan pria yang sama. Lebih parah lagi, ternyata laki-laki tersebut pun menjalin hubungan dengan seorang perempuan bernama Cempaka, gadis dengan perilaku yang sulit ditebak akibat dari trauma masa lalunya. Ternyata diketahui bahwa keempat sahabat ternyata empat sisi lain dari Cempaka yang mengalami trauma karena telah diperkosa dahulu kala.

Split (2016) merupakan sebuah film Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2017. Film yang disutradarai oleh M. Night Shyamalan ini diperankan oleh James McAvoy yang berperan sebagai Kevin Wendell Crumb yang memiliki 24 kepribadian atau pribadi ganda. Film ini dirilis pada 20 Januari 2017. Salah satu kepribadian kevin yang dominan bernama the beast, merupakan tokoh antagonis dari kisah david dunn dalam film unbreakable yang dirilis tahun 2000 silam. Split menjadi sequel dari film unbreakable yang khusus menceritakan tokoh antagonis utama dimana tersirat dalam sampul komik dari Mr. Price semasa kecil pada scene film ubreakable dimana tokoh david dunn sebagai superhero akan melawan sosok manusia kucing (jaguar).

Film selanjurnya adalah Shutter Island (2010). Film ini menceritakan kisah seorang perwira yang ditugaskan untuk menyelidiki hilangnya seorang pasien yang telah melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Hal-hal berbahaya mulai meragukan segalanya, termasuk kewarasannya sendiri.

Lalu ada Black Swan (2010) yang menceritakan Nina, seorang balerina berbakat yang hidupnya selalu diatur oleh ibunya. Saat bersaing untuk mendapatkan peran pementasan Swan Lake dengan Lily, Nina tak sengaja menemukan sisi gelapnya sendiri.

Film terakhir adalah Silence of the lambs (2001). Tokoh utamanya Clarice Starling seorang pelatihan FBI muda dikirim untuk bertemu dengan Hannibal Lecter yang dipenjara untuk meminta nasihat dalam menangkap seorang pembunuh berantai yang bernama Buffalo Bill yang menculik wanita untuk dikuliti. Sosok Hannibal Lecter menarik perhatian karena perannya sebagai seorang psikopat yang mengalami gangguan psikologis meski ia adalah seorang psikiatris profesional.

Perfilman banyak menjual sensasionalitas gejala psikologis dengan menyuguhkan konsep kesehatan mental secara salah kaprah yang banyak digambarkan dalam persepsi yang negatif. Dampak penyajian informasi yang salah difabel mental psikososial, telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Bruce Link dan kawan-kawan. Mereka menemukan sebanyak 75% responden memiliki penilaian buruk terhadap difabel mental psikososial. Para responden menganggap bahwa difabel mental psikososial memiliki potensi tindakan berbahaya dan dapat mencelakai orang lain. Anggapan tersebut tentu saja merupakan anggapan yang keliru dan patut dikritisi. Hal itu karena tindakan berbahaya dan perilaku mencederai misalnya pada pelaku kriminal, adalah mereka yang sebagian besar merupakan orang-orang yang memiliki kesan pertama sebagai orang baik-baik. [ ]

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.