Lompat ke isi utama
difabel membatik

Difabel Membatik pada Peringatan Hari Batik Nasional

Solider.id, Yogyakarta -  Sepuluh tahun sudah, setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Peringatan itu bermula saat batik diakui pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Tak-benda yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi (2/10/2009). Pada sidang tersebut batik resmi terdaftar sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia di UNESCO, selain keris dan wayang.

Merangkum dari laman resmi UNESCO, ada beberapa alasan mengapa batik akhirnya dijadikan warisan budaya tak benda."Teknik, simbolisme, dan budaya yang terkandung di dalam kain katun dan sutra yang diwarnai secara manual, dikenal juga sebagai Batik Indonesia, telah menyatu dalam kehidupan rakyat Indonesia dari awal hingga akhir. Bayi digendong dengan kain batik yang dihiasi simbol dan didesain untuk membawa keberuntungan, dan mereka yang sudah meninggal diselimuti kain batik khusus pemakaman,"

tulis laman UNESCO.

Memperingatinya dengan praktik membatik dilakukan oleh sejumlah difabel dari berbagai penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Difasilitasi Balai Besar Kerajinan Batik (BBKB) DIY, 55 orang difabel (fisik dan tuli), membatik pada kain berukuran 40 x 125 cm. Kegiatan itu dihelat pada Rabu (2/10/2019), di bengkel kerja BBKB DIY.

Tiap-tiap difabel melalui tahapan demi tahapan atau proses membatik. Mereka membuat pola, nyanthing (melekatkan malam panas pada kain), mewarnai, dan melorot (melepaskan malam dari kain). Dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok didampingai ahli yang tak lain pegawai balai batik tersebut.

Bagian hidup

Kepala Bidang Pengembangan Jasa Teknik Badan Penelitian dan Pengembangan Industri BBKD DIY, Heri Pramono mengutarakan bahwa kegiatan membatik bersama masyarakat rutin diagendakan. Adapun memberikan kesempatan membatik kepada difabel pada peringatan Hari Batik Nasional telah diagendakan sejak tiga tahun terakhir.

“Batik sekarang sudah menjadi budaya Indonesia, dipakai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pekerja kantor, pelajar, hingga dalam acara pernikahan maupun pertunjukan seni. Bahkan bukan hanya digunakan untuk busana saja, tapi bisa untuk dekorasi. Selain itu batik juga bukan hanya dipakai oleh orang-orang tua, orang-orang tertentu, tapi semua lini sudah memakai. Untuk itu memberikan kesempatan pada siapa saja tanpa kecuali difabel menjadi agenda kita,” ujarnya pada Solider. 

“Harapan saya, latihan tidak hanya berhenti di sini saja. Akan ada tindak lanjutnya. Tujuan akhirnya batik ini dapat menjadi bagian dari hidup mereka. Apakah menjadi kegiatan usaha pokok atau sampingan. Artinya ini sebuah peluang usaha meningkatkan ekonomi,” imbuhnya.

Heri juga menuturkan, untuk itu akan dilakukan identifikasi terhadap alumni. Yang benar-benar memiliki minat dan ingin menjadikan batik sebagai bagian dari kegiatan usaha akan dibantudan didampingi. Bentuknya bisa pelatihan proses membatik. Mulai pengembangan desain, pembuatan motif, produk kain, hingga pembuatan busana dan sebagainya. Adapun arahnya mau ke mana, ini harus dari permintaan mereka (difabel-red). Dan sebaiknya membatik dilakukan secara berkelompok. Mengingat prosesnya membutuhkan tenaga. Dengan berkelompok hasilnya akan lebih optimal.

Difabel bukan beban

 “Saudara-saudara kita ini bukan beban, dan saya lihat mereka juga tidak mau jadi beban. Mereka cukup mandiri. Kita bisa berikan wadah, pendampingan sesuai minat mereka. Intinya kita wajib memberikan pendampingan saja karena mereka memiliki kemandirian yang besar juga,” catatan Heri.

Catatan lain, “Perlu ada kolaborasi di antara stakeholder yang ada. Apakah itu pemerintah atau swasta. Jangan bekerja sendiri-sendiri, semua memberikan pelatihan tapi hasilnya tidak optimal. Dengan berkolaborasi hasilnya akan lebih jelas. Balai batik siap untuk melakukan koordinasi dengan stakeholder,” pungkasnya.

Sedang seorang fasilitator, Syamsudin berpendapat bahwa dengan memiliki kemampuan dan keterampilan membatik, difabel bisa menjadi pribadi yang mandiri. “Karena bagaimanapun juga ujungnya akan ada kebutuhan finasial. Dengan memiliki keterampilan membatik, harapannya bisa bernilai ekonomi,” kata dia.

Syarat batik

Dia juga menerangkan bahwa yang disebut batik, harus ada tiga syarat dalam pembuatannya. Satu, proses pelekatan malam panas (nyanthing). Persoaan mau canthing tulis, cap, pisau, kuas. Sepanjang dilekatkan dengan malam panas itu batik. Kedua, pewarnaan sintetis atau alam dan ketiga, pelepasan atau pelorotan. Ketiganya tidak boleh ditinggalkan.

“Ekstrimnya ada kucing mancal  )melompati) malam panas di kain, itu tetap batik asal dilorot dan diwarna,” tandasnya.

Adapun Koordinator Kegiatan Batik dari CIQAL Ibnu Sukaca, berharap dengan kegiatan sehari membatik bersama difabel, dapat menimbulnya cinta batik.

Menurutnya membatik merupakan alternatif yang bagus untuk difabel tuli dan daksa (fisik_red). “Membatik sangat potensial dikembangkan bagi tuli dan daksa. Karya teman-teman tuli sangat bagus untuk dikembangkan. Sudah terlihat siapa yang serius. Selanjutnya harus ada kerja sama, baik desain, nyanting, mewarna, ngunci warna, dan proses lainnya,” tuturnya.

“Saling memahami, mengerti, mengenali “kebutuhan khusus” masing-masing difabel lain, ini perlu. Hal ini agar bisa saling menguatkan, saling membantu, dan berkolaborasi. Kolaborasi tidak hanya membentuk kelompok, tapi saling paham hati, perilaku, komunikasi, sikap, saling mengenali dan mempelajari. Sehingga kuat dalam tim,” himbau Ibnu kepada difabel.

Dan salah seorang peserta membatik Endang Sundayani, mengaku senang dapat pelatihan. Hanya saja menurutnya, waktu latihan perlu diperpanjang. “Dengan waktu dan jadwal yang cukup, harapan saya seluruh proses membatik dapat dikuasai difabel. Sehingga pelatihan betul-betul memberi manfaat bagi kami para difabel,” ujar dia[].

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.