Lompat ke isi utama
Peringatan HBII 2019 oleh Gerkatin Surakarta.

Peringati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Gerkatin Solo Libatkan Masyarakat Luas

Solider.id, Surakarta- Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) telah diresmikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan diperingati setiap tanggal 23 September sejak 2018. Tujuan diperingatinya HBII adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahasa isyarat dan memperkuat bahasa isyarat HBII menjadi bagian dari Pekan Tuli Internasional yang merupakan inisiatif World Federation on the Deaf (WFD) pertama diluncurkan tahun 1958 di Roma, Italia. Orang-orang Tuli bersama keluarga, teman, pemerintah, Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan organisasi difabel turut berpartisipasi bagi kurang lebih 70 juta orang Tuli di seluruh dunia. WFD terdiri dari 135 asosiasi orang Tuli nasional. Tema yang diangkat dalam HBII 2019 adalah “Hak Bahasa Isyarat Bagi Semua” yakni hak bahasa isyarat tanpa diskriminasi bagi orang Tuli, anak Tuli, perempuan Tuli, sesepuh Tuli, Tuli LGBTQIA, migran Tuli, orang Tuli netra, keluarga dengan anak Tuli, anak dari Tuli dewasa dan semua orang lain yang menggunakan Bahasa Isyarat. Demikian siaran pers yang ditulis oleh organisasi Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Surakarta.

Perayaan pekan HBII 2019 di Surakarta diperingati pada Minggu (29/9) dengan melibatkan semua anggota Gerkatin Surakarta, Wonogiri, Sragen, Sukoharjo dan komunitas Tuli Kabupaten Klaten. Perayaan berupa pawai di sepanjang Solo Car Free Day (CFD) dari Ngarsopuro hingga depan Sriwedari diikuti tak hanya oleh Tuli tetapi juga keluarga dan handai taulan. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat status Bahasa Isyarat, juga keterlibatan aktif orang-orang Tuli, keluarga, teman, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Juru Bahasa Isyarat, dan organisasi difabel seperti SHG Solo Juara dan Komunitas Hore-Hore. Selain itu perayaan yang juga diramaikan dengan kursus bahasa isyarat gratis untuk khalayak serta penampilan seni pantomim. Hal  tersebut juga bertujuan untuk mengadvokasi pemerintah tentang pentingnya bahasa isyarat dalam layanan publik.

Permasalahan yang Dihadapi Tuli di Kota Surakarta

Beberapa permasalahan klasik yang dialami oleh orang-orang Tuli yang tinggal di Surakarta, dan kota/kabupaten lainnya adalah terkait kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM). Karena baik SIM C maupun SIM D, mensyaratkan hal-hal yang tidak bisa dipenuhi oleh Tuli, misalnya terkait tes kesehatan. Sedangkan Peraturan Kapolri (Perka) pun tidak mendukung. JIka selama ini ada Tuli yang memiliki SIM, bisa dipastikan bahwa dia mengakses hal tersebut dengan cara tidak legal. Seperti yang dialami oleh Eko, Tuli asal Kabupaten Sukoharjo yang bekerja sebagai sopir truk. Eko mendapat SIM B dengan cara ‘nembak’.

Terkait hak aksesibilitas pada layanan publik, Tuli pun belum mendaparkan haknya, karena layanan publik baik di gedung dan perkantoran seperti bank, atau layanan kesehatan belum menyediakan bahasa isyarat atau kode/teks visual. Pernah terjadi Gerkatin Surakarta diminta memfasilitasi kursus bahasa Isyarat di sebuah puskesmas di Surakarta, namun ternyata kursus tersebut hanya untuk memenuhi syarat akreditasi puskesmas yang bersangkutan saja, sedangkan tindak lanjut berikutnya tidak ada. Demikian solider.id pernah mendengar informasi tersebut dari narasumber saat gelaran diskusi terfokus beberapa waktu lalu. 

Tamso, Plt Kepala Dinas Sosial yang menghadiri perayaan HBII 2019 membacakan sambutan wali kota Surakarta, FX. Hadi Rudyatmo mengatakan bahwa saat ini pemkot telah melakukan pemberdayaan kepada difabel, namun belum sempurna, dan belum bisa sepenuhnya memenuhi hak aksesibilitas terutama sarana dan pra sarana publik baik di bangunan gedung, dan pasar misalnya. Pemkot juga ingin menghapus stigma dan oleh karenanya dibutuhkan peran keluarga dan masyarakat. []

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief   

 

The subscriber's email address.