Lompat ke isi utama

Bioskop dan Layanan Audio Description, Seruan Bagi Film Nasional

Solider.id, Malang - Film Bumi Manusia yang tayang pada Agustus lalu di bioskop tanah air mendapat banyak apresiasi dari kalangan pecinta film Indonesia. Film dengan tema biografi sejarah Indonesia tersebut sukses membangkitkan semangat nasionalisme bangsa pada momentum pesta kemerdekaan. Cerita hasil adaptasi dari buku berjudul sama dari penulis Pramoedya Ananta Toer tersebut sukses menembus 1 juta penonton pada 2 pekan pertamannya tayang di bioskop.

Bumi Manusia  merupakan satu contoh aktualisasi film yang bertujuan menghibur sekaligus memberi wawasan kepada publik Indonesia terhadap sejarah perjuangan Indonesia di masa lampau. Khalayak diharapkan dapat memahami alur cerita dan mengambil intisari berharga dari pesan moral film  tersebut, tentunya dengan catatan, konsumen mampu menikmati keseluruhan film secara penuh tanpa terkendala permasalahan apapun.

 Lalu bagaimana dengan kelompok difabel netra? Adakah asistensi tambahan yang diberikan pihak bioskop ataupun produsen film lokal untuk menunjang difabel netra mengakses konten visual film?

 Jawaban singkatnya mungkin adalah belum.

Konsumsi film lokal bioskop dewasa ini sama sekali belum mengakomodasi kebutuhan difebel netra. Khususnya di Indonesia, industri perfilman dan pelaku usaha bioskop di tanah air masih belum menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan difabel netra dalam menikmati suatu konten film secara inklusif. Salah satu kebutuhan vital tersebut adalah dengan menyediakan layanan audio description bagi difabel netra saat menonton di bioskop.

Audio description, atau juga dikenal dengan nama video description atau lebih tepatnya disebut visual description merupakan fitur narasi tambahan yang ditujukan bagi difabel netra konsumen dari media visual seperti film, televisi, pertunjukkan, hingga karya seni lainnya yang melibatkan elemen visual.

Menurut the American Council of the Blind, audio description melibatkan aksesibilitas aspek visual dari theater, televisi, film, dan segala jenis media bagi individu dengan difabel netra. Audio description merupakan layanan narasi yang wajib diberikan tanpa adanya biaya tambahan, fitur ini berfungsi selayaknya narasi yang menuntun difabel netra pada presentasi konten visual secara obyektif, jelas, dan deskriptif. Fitur ini meliputi narasi pada setiap adegan, latar area, kostum, body language, serta elemen pendukung lainnya, yang kesemuanya diselipkan di antara porsi dialog atau soundtrack suatu film.

Indonesia sendiri memiliki pasar perindustrian film yang terus menggeliat. Dikutip dari situs Indonesia.go.id, sepanjang tahun 2018 saja, jumlah film bioskop yang berhasil diproduksi hampir menyentuh 200 judul, sedangkan tahun sebelumnya jumlah produksinya hanya 143 judul. Di sisi lain, data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebutkan pada 2018 jumlah layar lebar bioskop di Indonesia telah mencapai angka 1.680 layar atau tumbuh dari 1.412 layar pada tahun sebelumnya.

 Persentase ini pada tahun 2019 diperkirakan akan terus naik seiring dengan pertumbuhan minat masyarakat serta semakin pesatnya industri kreatif film nasional berkembang.

Statistik positif ini sayangnya tidak diimbangi dengan langkah pelaku bisnis perfilman untuk menjadikan karya mereka ramah bagi kalangan difabel netra. Praktis, dari sekian jumlah judul film nasional dan layar bioskop yang beredar di Indonesia belum satupun yang mengadopsi dan menyediakan fitur dan layanan audio description bagi difabel netra.

 Lemahnya kesadaran dan minimnya sosialisasi menyangkut isu inklusivitas dalam ranah bioskop bagi para produsen serta pelaku usaha perfilman menjadikan aspek audio description pada sebuah film sering dilupakan. Padahal nyatanya kelompok difabel  netra sebagai individu juga membutuhkan media hiburan, dan salah satu sumber hiburan tersebut adalah film.

Asumsi yang kerap kali bermunculan menyangkut relasi tunanetra dengan film adalah bahwa kaum tunanetra tidak mengkonsumsi konten visual macam film. Melihat seorang tunanetra pergi menonton di bioskop akan menjadi pemandangan aneh bagi publik kebanyakan di Indonesia, namun begitu, persepsi ini sama sekali keliru. Faktanya, individu dengan gangguan penglihatan masih tetap berkunjung ke bioskop untuk menikmati sebuah penayangan film, bedanya mereka masih harus bergantung pada bantuan orang lain untuk membisikkan adegan-adegan yang bersifat visual di layar. Bayangkan kemudian apabila film dan bioskop tersebut dilengkapi dengan dukungan audio description, tunanetra tidak lagi harus pusing-pusing meminta pertolongan orang lain mendeskripsikan konten dari sebuah film, mereka akan mampu menikmati film di layar lebar tersebut secara mandiri, langsung, dan inklusif.

Disinilah diperlukan kolaborasi aktif antara pelaku usaha bioskop dan industri kreatif perfilman di Indonesia agar mulai memperhatikan kebutuhan difabel khususnya pada penyediaan akomodasi audio description bagi setiap film yang ditayangkan.

 Produsen film lokal tanah air sudah sepatutnya memiliki kewajiban moral menciptakan akses yang sama bagi setiap konsumen atas karyanya, tidak peduli konsumen tersebut memiliki keterbatasan penglihatan atau tidak, satu hal yang pasti, dukungan audio description wajib hadir sepaket dengan setiap film yang rilis di layar lebar Indonesia. Mengingat industri perfilman nasional menghabiskan puluhan milyar rupiah hanya untuk sekali produksi sebuah film, tentunya bukan menjadi halangan kemudian untuk melengkapi karya tersebut dengan fitur audio description yang tidak sampai menghabiskan biaya miliaran.

Sedangkan bagi pelaku usaha bioskop di sisi lain juga harus pro aktif menyediakan asistensi dalam bentuk material maupun non material untuk mendistribusikan layanan audio description tersebut ke konsumer difabel netra secara tepat dan benar. Apabila terealisasi, kolektivitas kerjasama antara kedua sektor tersebut dalam rangka melaksanakan proses produksi dan distribusi konten film aksesibel akan menghasilkan dampak yang sangat signifikan. Kelompok difabel netra akan mampu secara mandiri menikmati film lokal Indonesia di bioskop dimanapun di kota mereka, dan kita mampu pada akhirnya mengimplementasikan satu lagi bentuk inklusi di masyarakat, yaitu inklusi perfilman nasional melalui konten film berbasis audio description bagi konsumen difabel netra di Indonesia.

 

Penulis: Made Wikandana

Editor  : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.