Lompat ke isi utama
pembentukan desa inklusi di malang

Membangun Desa Inklusi melalui Kelompok Kerja

Solider.id, Malang - Untuk pertama kalinya Kabupaten Malang mencanangkan desa Inklusi, tepatnya di Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, kabupaten Malang. Keputusan adanya desa ramah difabel ini diambil secara mufakat dalam sesi terakhir Lokakarya Pembangunan Inklusif Disabilitas yang diadakan oleh Lingkar Sosial Indonesia (Linksos), 15 Agustus 2019 di desa Pakisaji. Yang menarik, Lingkar Sosial Indonesia akan terus mengembangkan desa-desa inklusi melalui kelompok-kelompok kerja wirausaha difabel yang kini telah tersebar di 16 kecamatan di kabupaten Malang, kota Malang dan kota Batu. Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan bagaimana Pokja bekerja membangun desa inklusi.

Apa itu Kelompok Kerja Wirausaha Difabel?

Kelompok Kerja Wirausaha Difabel atau di kalangan difabel di Malang familier disebut Pokja, merupakan sekelompok difabel dan orangtua dari anak berkebutuhan khusus (ABK) yang sepakat mengembangkan usaha secara berjejaring. Pokja mulai dirintis Lingkar Sosial pada tahun 2015 di kecamatan Lawang dengan prinsip dasar sharing job, sharing jaringan dan sharing modal. Latar belakang adanya pokja ini adalah respon atas sulitnya difabel memperoleh pekerjaan yang layak, sementara di sisi lainnya, Lingkar Sosial mencatat 95 persen difabel dalam jaringannya adalah lulusan BLK, alumni pelatihan Dinsos dan jebolan panti rehabilitasi.

Terdapat aturan unik yang berlaku dalam pokja tersebut, yaitu anggota Pokja dilarang mengakses bantuan sosial (bansos) yang bertema charity/ amal dan belas kasihan. Menurut Lingkar Sosial dari berbagai sebab sulitnya difabel memperoleh pekerjaan yang layak, selain masih adanya berbagai aturan diskriminatif terhadap difabel, juga mindset difabel yang terpengaruh oleh kebijakan-kebijakan stigmatif. Misalnya difabel dianggap tidak sehat lahir dan batin serta menjadi beban lingkungan sehingga layak menjadi obyek bansos.

Penulis mencatat bahwa program-program bansos yang tidak tepat sasaran berbuah negatif menjadi kebiasaan masyarakat yang selalu berharap adanya bantuan. Fakta ini tak hanya terjadi pada kelompok difabel melainkan kelompok-kelompok nondifabel, misalnya kaum dhuafa.

Pokja hadir bukan hanya untuk mengatasi masalah pengangguran kelompok difabel, namun juga bekerja untuk membangun mindset difabel tentang potensi diri serta paradigma masyarakat bahwa bagi difabel persoalannya bukan mampu atau tidak mampu, melainkan memerlukan kesempatan yang sama di berbagai bidang. Pokja juga ingin menunjukkan pada pemerintah bahwa tanpa bansospun masyarakat mampu berdaya. Sistem alternatif yang dilakukan Lingkar Sosial harapannya akan menginisiasi kebijakan baru pemerintah yaitu adanya pemberdayaan berbasis sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Cara kerja Pokja: sharing job, sharing modal dan sharing jaringan

Penulis mencontohkan, terdapat 5 orang  difabel dalam kelompok kerja, sebut saja yang pertama Evi, ia seorang penjahit dengan job yang padat. Kemudian Sulis seorang alumni pelatihan menjahit yang sepi garapan. Lalu Eko, seorang pemijat. Dua berikutnya adalah Citra yang baru saja lulus pelatihan menjahit di BLK, dan Faisal pengguna kursi roda yang saban hari akrab dengan media sosial. Peran Evi dalam pokja sebagai leader yang membagi tugas-tugas menjahit dalam kelompoknya. Semenjak bergabung dalam pokja, Evi tak lagi kerepotan mengurus sendirian job ordernya. Ia memiliki dua mitra, yaitu Sulis dan Citra. Demikian pun Eko, sembari menjalankan bisnis kesehatannya, ia membantu mencarikan order job dengan cara mempromosikan kegiatan pokja pada relasinya. Dampaknya positif, pokja dapat garapan-garapan dari jaringan Eko.

Sementara Faisal secara rutin menginformasikan perkembangan bisnis pokja di media sosial sehingga lebih banyak orang yang mengetahui bisnis kelompok tersebut. Kolaborasi bisnis ini, bukan hanya menimbulkan profit bagi para pelakunya melalui bagi hasil, namun juga menimbulkan dampak sosial yaitu terbukanya wawasan baru masyarakat bahwa difabel mampu bekerja secara mandiri serta bukan sebagai beban lingkungan.

Sedangkan dampak bagi difabel sendiri adalah peningkatan kepercayaan diri, bahwa ia mampu bekerja bahkan bisa memberikan penghidupan kepada nondifabel yang kemudian menjadi mitra bisnis mereka. Dalam peningkatan selanjutnya, difabel meyakini dirinya sebagai aktor perubahan. Dalam tahap inilah, Lingkar Sosial Indonesia menempatkannya sebagai garis depan perubahan, dimulai dari tempat ia tinggal, yaitu desa atau kelurahan.

Difabel sebagai garis depan perubahan desa

“Sebelumnya saya adalah anggota sebuah komunitas difabel,”ungkap Nur Rodzikin, seorang difabel kinetik dengan keunikan pada kedua tangan dan kakinya. “Namun setelah gabung di Pokja dan mendapat amanah sebagai ketua Pokja di Kecamatan Pakisaji, saya merasa terwadahi dan aktif berkegiatan dengan perubahan yang lebih nyata, yaitu merintis desa inklusi.”

“Saya dan tim di Kecamatan Pakisaji telah melobi beberapa kepala desa agar mendukung kegiatan difabel di desanya. Bentuk dukungan melalui fasilitas tempat dan kebutuhan konsumsi. Para kades juga menyarankan agar kami segera menyusun proposal kegiatan untuk alokasi anggaran tahun 2020. Selanjutnya tinggal nanti bagaimana Lingkar Sosial mendorong peluang ini sebagai pintu masuk menginklusifkan desa melalui program desa inklusi”, pungkas Dikin sapaan akrabnya.

Berbagai usaha yang telah dilakukan Dikin dan kawan-kawan difabel di Pakisajipun membuahkan hasil. Pemerintah setempat telah merespons hal tersebut. “Kami mendukung adanya program desa ramah difabel atau inklusi ini, untuk itu tidak banyak kami sampaikan bahwa silahkan kelompok difabel membuat proposal pendanaan kegiatan yang nanti akan dialokasikan tahun 2020,” tutur Sekretaris Desa Pakisaji Muhammad Kusni, saat Semiloka Pembangunan Inklusif Disabilitas, Agustus lalu di Pakisaji. Hal ini juga kembali ia tegaskan dalam presentasinya di Semiloka Mewujudkan Desa Inklusi melalui Prioritas Implementasi Penggunaaan Dana Desa, belum lama ini di Yogyakarta. Menurut Kusni sapaan akrabnya, adanya program desa inklusi akan membuat semua orang terlayani termasuk difabel. Sebab difabel memperoleh kesempatan turut serta merencanakan pembangunan melalui musyawarah-musyawarah desa.

Bagaimana cara Pokja menginisiasi desa Inklusi?

Membangun Indonesia Inklusi dimulai dari desa, sebab sebagian besar difabel tinggal di pedesaan, demikian salah satu kutipan kalimat yang sering kali disampaikan Joni Yulianto, sahabat penulis yang dikenal sebagai salah satu pelopor desa inklusi di Indonesia. Juga inisiator Temu Inklusi, even nasional dua tahunan yang mempertemukan lintas penggiat difabel dan desa inklusi dari seluruh Indonesia. Dari konsep inilah kemudian lahir inisiasi- inisiasi senada di berbagai tempat termasuk dilakukan Lingkar Sosial di Malang. Sesuai kearifan lokal dan potensi wilayah Malang, Linksos merintis desa-desa inklusi melalui Pokja.

Pokja dalam menginklusikan desa-desa di Malang Raya memiliki potensi penting, yaitu sebagai generasi baru gerakan perubahan difabel dan konsep terbarukan berbasis bottom up yang merombak sistem lama top down, yang menempatkan difabel sebagai subyek pembangunan yang sesungguhnya.

Generasi baru, pokja beranggotakan para muda difabel dan orangtua ABK serta sedikit difabel usia produktif ke atas. Penulis meneliti, karakter difabel usia 30 tahun ke atas yang tinggal di pedesaan dan minim akses pendidikan sedikit banyak masih dipengaruhi oleh mindset berbasis charity sebab dampak dari undang-undang penyandang cacat yang berlaku di masanya. Sedangkan para difabel muda usia 30 tahun ke bawah, meski UU Disabilitas tahun 2016 yang memiliki semangat baru yaitu social model, belum lama ada, namun faktor tingkat pendidikan yang lebih mudah diakses di masanya, berdampak pada lebih mudahnya pula mereka menerima asupan pengertian difabilitas.

Demikian pula para orangtua ABK yang notabenenya masih berusia 30-an, antusias mereka belajar tentang difabilitas untuk kepentingan anak-anaknya, membuat proses brainstorming lebih mudah dilakukan. Mereka lebih senang dengan pemahaman difabel dari sudut pandang sosial dan hak Asasi Manusia, meski tak menutup mata, beberapa orangtua ABK lebih memilih jalur medical model yang menempatkan anak-anak mereka dalam posisi tak berdaya sehingga layak memperoleh bantuan sosial.

Sedangkan pokja sebagai konsep terbarukan, mereka menawarkan pola terbalik dari hal yang selama ini dilakukan oleh sebagian kelompok/ organisasi difabel. Selama ini, lobi-lobi beberapa organisasi difabel dilakukan di tingkat kabupaten/ kota, khususnya Dinas Sosial. Harapannya dari Dinas Sosial kemudian turun ke level kecamatan untuk kemudian merambah ke desa-desa untuk jalannya program (top down). Namun realitasnya, dalam program pendataan misalnya, karena ketidakpahaman masyarakat pendataan selalu dikaitkan dengan program bantuan sosial. Demikian pun di level pemerintah desa/kelurahan, pendataan yang telah mereka lakukan tidak menjamin difabel terlibat dalam musyawarah-musyawarah desa.

Cara kerja Pokja adalah sebaliknya, mereka terlebih dulu memberikan penguatan pada masyarakat. Prinsipnya organisasi tidak boleh mengambil alih peran masyarakat dalam menyelesaikan persoalannya. Lingkar Sosial Indonesia berbekal pilot project pokja sejak tahun 2015 terus memberikan penguatan kepada masyarakat utamanya melalui pelatihan kewirausahaan. Terlebih pada tahun 2019 ini, Linksos didukung until No Leprosy Remains (NLR) melakukan pengembangan kelompok kerja wirausaha difabel. Progressnya, dari 1 pokja ditahun 2015 saat ini telah berkembang menjadi 12 pokja di Kabupaten Malang, 3 pokja di kota Malang dan 1 pokja di Kota Batu serta 1 desa inklusi di kabupaten Malang.

 

Pola kerja Pokja Lingkar Sosial indonesia yang menempatkan difabel sebagai aktor utama perubahan, perlahan agar menggeser cara-cara kerja konvensional yang menempatkan difabel sebagai obyek pembangunan. Ketika difabel di pedesaan bersama pemerintah desa telah sepakat adanya desa inklusi, maka secara otomatis pemerintah pada level berikutnya akan memberikan dukungannya. Dan dipastikan pula peran aktif masyarakat ketika inisiatif desa inklusi berasal dari masyarakat itu sendiri.[]

 

Reporter: Ken

Editor     : Ajiwan Arief   

 

The subscriber's email address.