Lompat ke isi utama
rumah berdaya denpasar dengan para anggotanya

Rumah Berdaya, Rumah Bagi Sahabat Skizofrenia Denpasar

“Selama ini kalau ada berita tentang skizofrenia, pasti kalau tidak dipasung, menggelandang, ngamuk atau membunuh. Jadi yang orang kenal tentang skizofrenia hanya seputaran itu saja.” Ungkap I Gusti Rai Putra Wiguna selaku founder Rumah Berdaya Denpasar. Sebuah lembaga yang berupaya berdayakan Orang dengan Skizofrenia.

Solider.id, Denpasar bersama dengan beberapa pasiennya yang telah mengalami pemulihan, dokter ahli jiwa ini memutuskan untuk mmbuat lembaga sebagai penaung orang dengan Skizofrenia agar hidupnya lebih bermanfaat. “Kita tidak bisa menghapus kata gila dari kamus besar bahasa Indonesia. Kita tidak bisa melarang orang lain untuk berkata eh, itu gila. Tapi memberi makna yang lain dan berbeda pada kata gila, tentu kita bisa. Karena dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata gila juga mempunyai arti luar biasa, sehingga sedikit demi sedikit arti kata gila akan bergeser maknanya. Jadi misi kami membuat masyarakat memakai kata gila untuk makna yang luar biasa.” I Gusti Rai Putra Wiguna, sebagai founder menyampaikan misi Rumah Berdaya yang sudah dicanangkannya.

Dijumpai di markas Rumah Berdaya, Jalan Raya Sesetan 280, Denpasar, Gusti Rai tengah sibuk bersama anggota lain menyiapkan hari jadi ketiga Rumah Berdaya.

Berdiri tepat 3 September 2016 lalu, Rai tak pernah mengira, bahwa apa yang sudah ia lakukan bersama pasien yang selama ini dalam perawatannya akan membuahkan hasil cemerlang.

“Awalnya saya tidak ada rencana mendirikan Rumah Berdaya. Rumah Berdaya berdiri lebih karena seperti sebuah kecelakaan.” Terangnya kemudian.

Dr. I Gusti Rai Putra Wiguna SpKj. (38 tahun), yang dalam keseharian bertugas di Rumah Sakit Daerah Wangaye ini lalu dengan santai berkisah, tentang bagaimana Rumah Berdaya ada hingga bisa memberi kemanfaatan.

“Tidak ada niat luhur untuk membantu teman-teman. Tetapi lebih karena setiap minggu saya ketemu mereka hanya untuk cari obat. Gejala mereka sudah baik. Tidak ada halusinasi. Nanti kontrol lagi minggu depan, sebulan, dua bulan dan tiga bulan. Saya pikir kalau kami hanya seperti ini saja, antara saya yang bosan, mereka yang lelah atau keluarga yang lelah. Dari hal itu lalu kami terpikir untuk membuat satu kegiatan lain yang tidak hanya menghubungkan pertemuan antara dokter dengan pasien.” Mengawali semua kegiatan dari garasi rumahnya, Gusti Rai   alumni Universitas Udayana angkatan tahun 2000 ini lalu menceritakan.

“Mulanya yang kami lakukan hanya apa yang kami bisa lakukan. Sekedar ngobrol. Lalu membuat kegiatan untuk dua minggu. Kemudian berjanji untuk bertemu lagi minggu depan bakal ngapain. Dari yang tadinya hanya kumpul-kumpul saja, akhirnya mereka datang bareng keluarga. Ini jadi menarik karena keluarga mulai dilibatkan.” Gusti Rai lalu menceritakan bahwa ide dan pemikiran yang muncul merupakan gagasan dari para pasiennya yang tercatat mengalami skizofrenia.

“Kesadaran muncul. Dari mereka yang awalnya ngamuk jadi tidak ngamuk. Dari yang tadinya dirantai jadi tidak dirantai, itu kurang menarik untuk diberitakan. Nah, ada teman yang bermaksud memfilmkan. Dari sinilah teman-teman mengusulkan bagaimana cara agar masyarakat tahu kalau skizofrenia bisa berdaya. Dengan ini diharap masyarakat lebih mudah diedukasi lewat apa yang sudah kami kerjakan dan tidak hanya dari omongan.” Bersama dengan itu Gusti Rai bertemu dengan Budi Agung Kuswara dari Ketemu Project dalam sebuah kegiatan.

“Kegiatan ini mempertemukan aktivis dengan seniman. Jadi inilah awal mula Rumah Berdaya kami dirikan.” Dari garasi rumahnya, di Jalan Nangka Denpasar Utara, Gusti Rai lalu memindah kegiatan pemberdayaan  ke studio Budi Agung Kuswara yang seorang seniman. Sablon kaos, membuat dupa, usaha cuci motor, bahkan pelatihan lukis menjadi kegiatan yang diagendakan oleh Rumah Berdaya. Belum memiliki tempat permanen dan nama yang bisa dikenalkan bukan kendala yang jadi halangan. Kegiatan rutin dilakukan dan diikuti oleh lebih kurang 30 orang anggota yang saat ini masih aktif dalam upaya pemberdayaan.

“Semangat positif yang ingin kami sebarkan.” Gusti Rai menuturkan.

Menjadi komunitas yang berhasil memberi pemberdayaan bagi anggotanya, Rumah Berdaya menarik minat pemerintah untuk melakukan kerjasama. Bersama Dinas Kesehatan, Rumah Berdaya membentuk Komunitas Peduli Skizofrenia Simpul Bali (Denpasar)  melalui satu program kegiatan. Tujuannya untuk menangani kasus-kasus skizofrenia yang makin banyak ditemukan. Terhitung sejak didirikan, dari 100 kasus saat ini sudah menjadi 520 kasus yang berhasil ditangani secara terus menerus  hingga sekarang.

Karena merasa butuh tempat untuk melangsungkan kegiatan, permohonan tempat permanen pada Walikota diajukan. Usaha tersebut telah membuahkan hasil. Saat ini Rumah Berdaya memiliki tempat untuk melangsungkan kegiatan pembelajaran. Tempat baru yang masih belum ada sebutannya membuat anggota komunitas memilih sebuah nama yang penuh makna. Dipilihlah nama “Rumah Berdaya” yang dalam perjalanan waktunya selama lima bulan kemudian  menjadi perjuangan berat bagi anggotanya. Melalui penjualan dupa hasil karya mereka, swadaya dilakukan untuk mendanai semua kegiatan. Hingga tawaran tenaga kerja nan menggiurkan dari Walikota kembali datang bak anugerah yang dicurahkan.

Namun bagi Rai Putra Wiguna, adanya tawaran tenaga untuk membantu keberlangsungan Rumah Berdaya dari Walikota tidak langsung ditanggapi begitu saja. Ia mengajukan empat nama teman-teman skizofrenia yang selama ini sudah menunjukkan dedikasinya, kemenangan telah mereka raih bersama. Empat nama berhasil lolos dan menjadi tenaga kontrak Dinas Sosial yang dilibatkan dalam menangani Rumah berdaya. Rai Putra Wiguna, psikiater yang memprakarsai berdirinya Rumah Berdaya ikut merasa bahagia. Empat nama yang diajukannya menjadi bukti bahwa difabel psikososial layak mendapat lapangan kerja.

“Skizofrenia, merupakan gangguan mental yang sangat berat dan dapat menghancurkan sendi-sendi keluarga. Kurangnya pemahaman di masyarakat dan minimnya informasi yang ada membuat keluarga dengan anggota keluarga yang mengalami skizofrenia terpaksa menelantarkan mereka.” Begitu kalimat menarik yang dicantumkan Rumah Berdaya untuk menyapa tetamunya agar mereka paham tentang skizofrenia. Namun di Rumah Berdaya semua anggota menunjukkan potensinya. Melalui art theraphy yang diberikan pada anggota dalam Group Art Expression (GAE) anggota dibina untuk berkesenian secara berkelompok dan menghasilkan karya.

“Terapi ini dalam dunia kedokteran kami sebut sebagai recovery model.” Jelas Gusti Rai kemudian.

“Siapapun yang mengalami skizofrenia dan sedang dalam proses berobat boleh bergabung menjadi anggota Rumah Berdaya. Gratis. Syaratnya hanya dua, masih dalam proses berobat dan keluarga dituntut untuk komitmen memberikan dukungan sebagai upaya penyembuhan. Karena kita tidak bisa menerima mereka yang belum terkontrol kondisinya.” Gusti Rai menambahkan.

Satu harapan masih ingin diwujudkan. Bersama Rumah Berdaya, Gusti Rai ingin masyarakat merubah cara pandang.

“Lihatlah seseorang bukan dari label yang pernah mereka dapatkan. Karena bagaimanapun, di balik itu mereka adalah seseorang yang memiliki kelebihan, yang punya harapan. Semoga masyarakat semakin paham, bahwa skizofrenia bukan gila. Karena kita masih butuh banyak orang “gila” (dalam tanda petik yang artinya luar biasa) yang peduli akan keberadaan mereka. Untuk keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia, tidak perlu malu. Mereka memang tidak bisa sembuh 100%, tapi dengan penanganan yang rutin dan tepat mereka bisa kembali ke masyarakat.” Mengakhiri obrolan, Gusti Rai undur diri karena beberapa tamu Rumah Berdaya mulai berdatangan.

Tiga tahun Berdaya Bersama, menjadi kebahagiaan anggota Rumah Berdaya yang tengah merayakan ulang tahun ketiga untuk kembali ke keluarga.[]

 

Reporter: Yanti

Editor      : Ajiwan Arief   

The subscriber's email address.