Lompat ke isi utama
halte batik solo trans yang tidak aksesibel

Batik Solo Trans Tidak Aksesibel, Difabel Surakarta Inginkan Transportasi Ramah dan Mudah Diakses

Solider.id, Surakarta – sebanyak 140 halte portable Batik Solo Trans (BST) dinyatakan belum sepenuhnya memberikan akses yang ramah bagi difabel oleh Taufik Muhammad yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang Angkutan Dishub Solo. Faktor ini turut menyumbangkan hambatan bagi para difabel di Kota Solo untuk bermobilitas dalam kota secara mandiri.

Pada umumnya, Bus Rapid Transit (BRT) dikenal sebagai mode transportasi area kota yang ekonomis. Hanya dengan membayar kurang dari Rp 5.000,00, penumpang bisa mengelilingi kota dengan lebih hemat. Namun, BRT milik Kota Solo ini dikabarkan lain dibanding dengan bus trans di kota lain. Selain harga tiketnya yang sedikit mahal, beberapa penumpang mengeluhkan harus membeli tiket baru saat transit. Persoalan pun bertambah bagi difabel ketika halte dan pelayanannya pun kurang diperhatikan.

Sebanyak 140 halte non permanen yang dikabarkan belum aksesibel itu memang tampak tidak terdapat guiding block, bidang miring serta pegangan rambat. Tidak hanya itu, petugas BST pun tampaknya belum seluruhnya mengerti tatacara berintraksi dengan difabel. Bahkan b Beberapa oknum petugas sempat menurunkan penumpang difabel tidak di halte BST. Hal ini cukup berbahaya.

“Kalau ganti bus ya bayar lagi. Pernah juga ada penumpang yang diturunin bukan di halte,” tutur Yana, warga Solo pengguna BST ketika dikonfirmasi Solider terkait kabar pelayanan BST yang beredar itu.

Solo dikenal sebagai “surganya difabel” karena terdapat beberapa pusat rehabilitasi difabel seperti balai rehabilitasi difabel netra dan difabel fisik. Bisa dikatakan, banyak difabel yang bermobilitas di kota ini sekalipun hanya menghadiri kegiatan atau perjalanan pulang. Tentunya, transportasi yang aksesibel begitu diharapkan hadir di area kota Solo termasuk juga dengan Batik Trans. Jika sarana transportasi ini belum bersahabat dengan difabel, maka masyarakat difabel harus mengeluarkan biaya ekstra tiap bepergian dengan angkutan umum lainnya. Lantas, harus kah mereka hanya berdiam diri karena biaya mobilitas yang mahal?

Sementara itu, lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Mereka telah lebih awal memecahkan kendala transportasi semacam itu. Mereka menyediakan Transjakarta Cares bagi difabel di kawasan Jakarta. Belajar dari kekurangan yang sebelumnya, PT Transportasi Jakarta mulai berkomitmen memberikan kemudahan difabel di sekitaran Jakarta untuk menjangkau dari satu tempat ke tempat lain sejak 2016.

Mengutip dari situs resmi Transjakarta, armada Transjakarta Cares hingga saat ini tersedia sekitar 26 unit mobil. Setiap 1 mobil ditugaskan 1 orang pengemudi dan 1 orang petugas yang telah dilatih khusus melayani difabel. Jam operasi armada ini dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB setiap harinya. Difabel dari kategori apapun diperbolehkan memesan mobil Transjakarta Cares dengan cara menghubungi call center 1500102 atau mengirimkan pesan ke WA +628111545001 satu hari sebelumnya. Informasi yang diberikan antara lain data diri calon penumpang seperti nama dan nomor telepon, waktu penjemputan serta lokasi penjemputan dan tempat yang dituju. Penumpang difabel pun dibebaskan dari biaya perjalanan. Biaya tambahan hanya dikenakan ketika memasuki area yang dikenakan biaya parkir.

Berdasarkan Undang-Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 139 ayat (1) dijabarkan bahwa pemerintah wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antarkota antarprovinsi serta lintas batas negara.

Ini berarti bahwa pemerintah perlu benar-benar menjamin terciptanya transportasi umum yang memenuhi standar pelayanan minimal meliputi keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan, dan keteraturan bagi semua termasuk difabel. Pemerintah Kota Solo perlu mengkaji kembali tentang sarana transportasi di kota ini. Pasalnya, kondisi pelayanan dan halte BST belum sepenuhnya memenuhi standar.

Toviyani, difabel netra yang juga pengguna jasa BST mengungkapkan halte BST di Solo sebagian besar masih berbahaya. Tidak adanya pintu pembatas di tepian halte beresiko membuat calon penumpang terjatuh.

“Kalau soal tangga bisa sih, tapi bahayanya kalau halte terbuka gak ada pembatas antara halte dengan jalan. Resikonya jatuh ke jalan raya. Padahal kan ramai kendaran melintas,” ujar Tovi.

Cindy Ayu mahasiswa  Tuli UNS pun mengutarakan pendapat serupa. Dia menyayangkan tidak adanya pagar pembatas di sekeliling halte BST. Dia juga menambahkan agar bus ekonomis itu diberikan tambahan informasi tertulis dan bel tanda berhenti.

“Kalau bisa ada bel pemberhentian dan papan tulisan “Menuju ...” dan “berhenti di ...”,” usul Cindy.

Dengan bantuan bel dan papan tersebut lebih memudahkan Cindy dan teman-temannya sesama Tuli untuk mengakses BST.

Lain halnya dengan difabel fisik khususnya pengguna kursi roda. Mereka enggan menggunakan Batik Solo Trans karena angkutan tersebut tidak menyediakan sarana yang aksesibel bagi mereka.

Ketika ditanya Solider tentang adopsi Transjakarta Cares, masyarakat difabel Kota Solo menanggapi dengan positif. Mereka akan sangat terbantu ketika tidak ada orang yang mengantar untuk bepergian. Apabila pengadopsian itu benar-benar terjadi, Toviyani mengusulkan agar transportasi khusus difabel itu digunakan secara bijak. Sebagai contoh, mobil itu bisa dipakai dalam kondisi darurat misal sakit. Hal itu bertujuan agar tidak menambah kemacetan di Kota Solo.  

 

Reporter: Agus Sri

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.