Lompat ke isi utama
nyoman

Nyoman Sudiasa Buktikan Skizofrenia Berdaya dengan Seni

solider.id, Denpasar -  Lukisan yang ia hasilkan hanya berupa elemen atau simbol tertentu yang menjadi cermin keadaan seseorang. Menangis sedih atau tertawa bahagia, gores kuasnya diwujudkan dalam bentuk hidung, mata ataupun wajah yang tak lagi utuh. Itulah karya khas Nyoman Sudiasa yang dipamerkan untuk memperingati hari jadi ketiga Rumah Berdaya.

Bersarung dua lapis khas Bali dengan udeng (topi khas bali) nan manis, pria 45 tahun ini menyambut tamu yang datang. Senyumnya mengembang. Ramah dan menebar salam sapanya mempersilakan dengan logat Bali yang kental.

Nyoman Sudiasa, ayah dua putri dan satu cucu kelahiran Buleleng, 8 Juni 1974 ini berhasil mendulang karya setelah melalui masa sulit didiagnosa skizofrenia.

“Walaupun kita pernah terpuruk dalam skizofrenia, yang oleh masyarakat umum dikatakan gila sedeng, ternyata dengan berobat rutin kita bisa pulih dan stabil. Kita berdaya dengan mengembangkan potensi dalam diri kita. Dengan semangat kita bisa berkarya, sama dengan masyarakat pada umumnya” tuturnya pada solider mengawali perbincangan.

Namun pengalaman berharga selalu mahal nilainya. Semahal pengalaman Nyoman saat ia didiagnosa mengalami skizofrenia.

“Begitu saya didiagnosa mengalami skizofrenia, tanggapan dari masyarakat beragam. Tapi pada intinya keluarga kecil saya, terutama istri saya sangat mendukung” kisahnya lebih rinci.

Dijumpai saat pameran tunggal karya lukisnya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280, Pegok, Denpasar, Nyoman banyak berkisah tentang hidup yang ia jalani dan pentingnya penanganan yang baik bagi ksizofremia.

“Dulu saya selalu merasa tak berharga. Tapi sekarang saya dipercaya untuk mengajak teman-teman bergabung. Secara tidak langsung itu membuat saya merasa lebih berharga. Saya bersyukur meskipun hanya diangkat sebagai pegawai kontrak. Dengan beraktivitas di Rumah Berdaya, saya merasa bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi kawan-kawan saya” cerita Nyoman.

Meski saat ini ia sering diminta untuk melukis, namun Nyoman mengungkapkan bahwa ia tak pernah secara khusus belajar melukis. “Dulu waktu sekolah hanya melukis dengan water colour. Tapi setelah bergabung di Rumah Berdaya dan difasilitasi oleh Ketemu Project dengan salah satu senimannya, Budi Agung Kuswara, dari beliau inilah kami belajar melukis." Nyoman menceritakan bagaimana awal mula ia menekuni dunia barunya yang berkutat dalam kanvas dan cat minyak.

Sebagai salah satu anggota Rumah Berdaya yang dipercaya sebagai koordinatornya, Nyoman beruntung mendapat wadah berekspresi menuang pikiran yang ia anggap sebagai salah satu cara baginya untuk terapi kesehatan.

 Nyoman mengakui bahwa saat-saat awal didiagnosa mengalami Skizofremia merupakan saat yang berat. Ia mengaku bahwa saat itu adalah titik terberat dalam hidupnya. Lebih-lebih waktu itu ia sudah tidak dapat bekerja.  

“Obatnya mahal. Dalam sebulan sekitar 600 ribu sehingga kadang saya hanya bisa beli untuk seminggu sementara kondisi saat itu hanya mengandalkan istri. Belum lagi bayar sewa rumah, atau beli susu anak.” Mengenang masa-masa sulit, Nyoman boleh berbangga terhadap sang Istri.

“Walaupun saat saya sakit dia yang jadi sasaran utama, tapi dia tetap mendampingi saya sampai sekarang.” Nada haru terucap dalam kalimat yang Nyoman lontarkan. ketegaran dan kesetiaan sang Istri selama mendampingi menguatkan niatnya melakukan pengabdian bagi sesama  skizofrenia. Dan di Rumah Berdaya Nyoman mencurahkan hidupnya, memberikan pengabdiannya.

“Dengan bergabung di Rumah Berdaya saya bukan membantu teman-teman, melainkan untuk membantu diri saya sendiri. Bahwa saya bisa lebih bangkit, lebih bisa menghargai diri, lebih punya rasa peduli dengan bisa menerima kekurangan sendiri tanpa perlu menyesali. Banyak manfaat yang saya dapat dari sini. Dulu saya punya kekurangan, tapi saya harus bisa memakluminya. Sehingga saya bisa menemukan banyak hal yang tidak bisa saya dapatkan di luar sana.” Ada percik bahagia terpancar dari mata Nyoman Sudiasa meski untuk itu ia harus mengkonsusmsi obat selamanya.

Kini, menjalani masa pengabdian lewat pekerjaan yang ia lakukan, Nyoman menerima keberkahan dari apa yang ia lakukan. Tahun 2017 ia diangkat menjadi pegawai kontrak oleh Dinas Sosial yang mengantarnya jadi koordinator Rumah Berdaya.

Kadang, sesekali ia memilih tinggal di Rumah Berdaya untuk menghasilkan karya-karya lukisnya. Namun bersama keluarga kecilnya, Nyoman tinggal di Jalan Pidada VII nomor 8, Ubung, Denpasar Selatan.

“Melukis membuat kita merasa lega. Ini untuk menghilangkan rasa mengganggu yang lewat. Melukis juga jadi cara berekspesi yang tidak mengganggu sekitar.” Ujarnya kemudian. Mengkoordinir teman-teman menjadi kebangaan bagi Nyoman. Kalaupun  ada yang masih belum bergabung di Rumah Berdaya, Nyoman bisa paham karena banyak dari mereka yang kesulitan transportasi dan tidak ada tenaga yang mengantar. Menyikapi hal ini, sebagai koordinator Nyoman membeberkan salah satu agenda rutin kegiatan Rumah Berdaya.

“Untuk memberikan pemahaman yang benar tentang skizofrenia pada masyarakat dan keluarga, maka KPSI Simpul Denpasar bekerjasama dengan pemerintah (Dinas Kesehatan Denpasar), mengadakan kunjungan ke rumah-rumah sehingga bisa memantau dan memberikan obat. Selain menyediakan obat-obatan yang harganya terjangkau, berobat juga jadi lebih mudah untuk teman-teman.” Terangnya memberikan penjelasan.

“Dari sini mulailah kesehatan jiwa terpantau dan mendapat perhatian. Kalau dulu termarjinalkan, beberapa teman juga sudah mulai kelihatan berproduksi. Awalnya yang mereka tidak bisa apa-apa, dengan rutin berobat mereka sudah mulai bisa berproduksi.  Dengan cara ini orang umum bisa tahu dan melihat langsung bagaimana teman-teman diberdayakan.” Kini Nyoman boleh berbangga. Selain sudah bekerja menjadi tenaga kontrak Dinas Sosial, masyarakat tak lagi memandang rendah berkat karya lukisnya. Kepercayaan dan harga diri telah kembali diraihnya.[]

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.