Lompat ke isi utama
Farida dan ibunya saat di kegiatan FKDB

Deteksi Dini dan Intervensi Dini Minim, Perburuk Kondisi Difabel

Solider.id, Boyolali – Di antara seratusan undangan yang hadir dalam peringatan ulang tahun FKDB Karya Mandiri tampak seorang anak perempuan yang digendong ibunya. Dia adalah Faridatul Tri Febriyani yang hadir dalam acara yang dilaksanakan di Aula Kecamatan Kemusu, Selasa (3/9) bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Sesekali anak yang memakai kerudung pink dengan motif bunga itu tertawa sambil menatap sekelilingnya. Beberapa kali dia memekik senang dalam dekapan ibunya, Ngatmini.

Bocah berusia lima tahun yang akrab dipanggil Farida adalah seorang penyandang Cerebral Palsy spastik (Cerebral Palsy tipe kaku-red). Hingga saat ini dia masih belum bisa duduk, ketika digendong pun si ibu harus memeluknya erat sebab kalau tidak tubuhnya cenderung jatuh ke arah belakang.

 

Terlahir Kuning

Ngatmini, ibu Farida menyatakan bahwa kesempatan ini merupakan kali pertama baginya mengajak putri bungsunya ini ke acara yang berkait isu Difabilitas. Sebelumnya dia lebih banyak beraktivitas di rumah saja. Awalnya memang ada kekhawatiran ketika mengajak Farida ke acara ini, takutnya dia merasa tidak nyaman dan menangis ketika bertemu dengan banyak orang. Namun tampaknya ketakutannya tidak terbukti karena si anak tampak nyaman dan senang, tawa dan pekik kegembiraan terlontar dari bibirnya berkali-kali.

Ibu tiga anak ini menyatakan bahwa putrinya lahir di Jakarta. Dia terlahir dengan kondisi kuning dan tidak mendapatkan penanganan yang memadai.

“Dulu lahirnya kuning, sudah tanya ke bidan cuma diberi saran anaknya dikasih banyak minum dan disinari lampu. Tidak dibawa ke rumah sakit cuma ke bidan saja,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa karena minim pengetahuan dia tidak memeriksakan si anak ke rumah sakit. Hanya menuruti saran bidan saja. Namun dia menuturkan bahwa kondisi anaknya bukan membaik malah memburuk. Farida kecil sering sakit dan juga acapkali mengalami sesak nafas. Dengan pertimbangan lingkungan di Jakarta yang kurang memadai untuk membesarkan anak, ketika si bayi berusia tiga bulan keluarga ini memutuskan untuk pindah, kembali ke kampung halaman di Desa Ngrombo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali.

“Setelah pindah ke sini sudah lebih baik, dulu sering sariawan dan kaki bernanah. Sekarang tidak lagi. Tapi masih sering sakit dan sesak nafas. Sampai sekarang belum bisa jalan, duduk saja belum bisa,” jelasnya.

Ngatmini mengaku pernah membawa putrinya ke RS Dr Moewardi di Solo, di sana sempat diperiksa dan CT scan. Namun pemeriksaan ke sana hanya dilakukan sekali, karena untuk ke sana dia tidak bisa sendiri harus ada yang mengantarkan. Sementara suaminya harus bekerja sebagai kurir. Saat ini penanganan medis yang diberikan pada Farida adalah terapi di Puskesmas Karanggede yang lokasinya jauh lebih dekat dari rumahnya.

Dia menambahkan bahwa biaya pengobatan dan terapi Farida ditanggung BPJS yang preminya dibayar secara mandiri. Kesulitan yang dihadapinya ketika mengajak putrinya keluar rumah adalah merasa capek kalau terus menerus menggendong, apalagi si anak tergolong aktif. Untuk itu dia mengharap adanya alat bantu yang memudahkannya mengajak sang putri keluar rumah.

 

Keluarga Masih Menyembunyikan Anak Difabel

Ditemui di tempat yang sama, Agus Sugiyarto Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kemusu menyebut memang di wilayahnya budaya menyembunyikan anggota keluarga Difabel masih kental. Faktor utamanya adalah keluarga masih merasa malu, serta minimnya pemahaman mengenai Difabel.

“Dulu pernah ada kasus Difabel lumpuh layu, dia tidak tercatat di Kartu Keluarga karena namanya disamarkan. Tapi sekarang orangnya sudah meninggal. Dulu sempat ramai kasus itu,” paparnya.

Untuk itu dia bersama-sama dengan FKDB Karya Mandiri yang harus aktif mensosialisasikan isu-isu Difabel serta mengajak Difabel dan keluarganya untuk aktif berorganisasi. Hal ini membuat upaya penanganannya lebih muda.

Dia mencontohkan bahwa keberadaan Farida awalnya tidak diketahui oleh pemerintah daerah setempat. Awalnya dia malah mendata saudaranya yang telantar, dari situ diperoleh informasi ada anggota keluarga Difabel.

“Untuk Farida, sebenarnya kita sudah mintakan bantuan kursi roda, tapi ternyata tidak sesuai. Malah kita baru tahu ternyata anaknya masih belum bisa duduk, jadi mungkin kursi roda tidak tepat, kemungkinan akan dicarikan stroller bayi,” tambahnya.

Selain itu  dia juga menyatakan bahwa saat ini pihaknya sedang berusaha mengupayakan Penerima Bantuan Iuran (PBI) bagi Farida, karena saat ini sudah terlanjur terdaftar sebagai pemegang BPJS Mandiri. Usaha lain yang sedang dilakukannya adalah melakukan validasi data agar semua Difabel masuk dalam Basis Data Terpadu (BDT) serta menindaklanjuti usulan mengenai adanya program Deteksi Dini dan Intervensi Dini (DDID) di Kemusu.[]

 

Reporter: Ida Putri

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.