Lompat ke isi utama
ilustrasi kegiatan JTF

Difabel adalah Agen Perubahan

Solider.id, Yogyakarta - Mengupayakan paket pariwisata (transportasi, tujuan wisata, penginapan, tempat-tempat makan, hotel) aksesibel, serta pemandu wisata yang berperspektif difabel, menjadi agenda festival pariwisata atau Jogja Tourism Festival (JTF). Sebuah event festival yang digelar oleh Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) DIY.

Berkolaborasi dengan komunitas difabel, pegiat dan aktivis difabel dilakukan JTF dalam upaya menggali masukan terkait aksesibilitas bagi wisatawan lokal dan asing dengan beragam kebutuhan (difabel, lansia). Sebuah kegiatan yang melibatkan komunitas dan para aktivis difabel telah mulai digelar. Sebagaimana telah dirilis solider pada link:  https://www.solider.id/baca/5476-pariwisata-aksesibel-kunci-jogja-destinasi-wisata-2025.

Salah seorang narasumber, Direktur Ekstra Mural YAKKUM Arshinta, paska kegiatan mengaku senang dengan JTF yang menggandeng banyak pihak termasuk difabel. Menurut dia, hal itu menjadi sebuah momentum awal untuk mencapai Jojakarta sebagai destinasi unggulan.

“Selama ini Kolaborasi Penta Helix (kegiatan kerjasama antar lini/bidang akademisi, pengusaha, komunitas, pemerintah, dan media) tidak ada aksi konkrit,” ujar Shinta.

Lanjutnya, semetara kita tahu dunia usaha adalah pihak yang sering satu sisi diangap miring, dunia usaha hanya memikirkan profit. Tapi pengalaman membuktikan bahwa dunia usaha itu yang paling inovatif, yang paling efektif karena cepat bergerak.

“Bagi saya dan teman pegiat isu difabilitas, pihak seperti dunia usaha inilah mitra yang harusnya menjadi mitra strategis untuk mewujudkan semua yang selama ini kita anggap sebagai mimpi. Menikmati paket pariwisata, salah satunya,” ujar ibu dua orang putri itu.

Wujudkan mimpi

Dua tahun terakhir, kata dia, Jogja sudah punya Rencana Anggara Daerah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (RAD SDGs). “Tapi setelah dua tahun bagaimana progresnya? Implementasi kita tidak tahu,” ungkapnya.

Sebuah harapan ditambatkan dengan adanya kolaborasi dunia usaha yang diorganisir ASITA, dengan komunitas dan pegiat difabel, swasta, pemerintah, media. Bagi Arshinta dengan kolaborasi pentha helix saat ini, menjadi ada bentuk kerja sama konkrit, riil. Dengan melepas ego masing-masing, maka semua mimpi yang sesungguhnya ada dalam SDGs, bisa riil diwujudkan bagi teman-teman difabel.

Pada kesempatan itu pula Arshinta menyatakan melihat adanya peluang dan bukti bahwa dunia usaha bukan pihak yang harus dipandang sebelah mata. Tetapi adalah pihak yang betul-betul strategis. Karena mereka bergerak cepat, efektif dan penuh dengan inovasi.

Dia juga menitipkan himbauan terhadap difabel. “Kita harus melihat ini sebagai sebuah peluang, sebuah momentum yang jangan dilewatkan. Ketika 2015 Indonesia sepakat dengan SDGs, ini adalah momentum politik. Ketika pemerintah Indonesia punya desain Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) inklusif, itu momentum politik yang nampaknya jauh. Hanya di global dan nasional.

Sekarang 2017-2018 Yogyakarta sudah punya komitmen pada SGDs. Selanjutnya ada lagi asosiasi travel agen yang merupakan bagian dunia usaha menggagas wisata inklusif. “Ini bukan lagi momentum politik, ini momentum teknis yang betul-betul dapat digunakan untuk teman difabel,” tandas perempuan humble  itu.

Dengan pariwisata aksesibel (accessible tourism) ini kita telah bicara tentang peluang kerja. Kita juga akan bicara hak untuk mendapatkan kenikmatan dari leasure time (waktu luang) kita, dengan berjalan-jalan ke tempat-tempat yang aksesibel. Momen ini kita juga akan berbicara tentang kolaborasi, edukasi. Mengajak semua pihak mewujudkan wisata yang inklusif, kita bisa memanfaatkannya untuk mengedukasi.

Jadi difabel tidak hanya memiliki peluang untuk bekerja di sektor ini, tapi kita juga punya peluang sebagai pelanggan yang semakin mendapatkan hak kita dengan berjalan-jalan di semua tempat. Terakhir, kita menjadi agen tunggal. Yakni agen perubahan itu sendiri.

Melebur ego

Adapun Ketua DPD Asita DIY, Sudianto mengatakan, bahwa serangkaian kegiatan JTF akan berlangsung hingga tanggal 27 September 2019. Bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day).

"Sebetulnya tujuan JTF ini adalah ingin menyatukan visi dan misi pariwisata DIY dari semua stakeholder yang ada di DIY. Artinya, kita ingin melebur menjadi satu dan betul-betul tanggalkan ego masing-masing untuk membuat branding Jogja lebih mendunia," katanya ditemui Solider di Hotel The 101 Yogyakarta, Minggu (15/9/2019).

"Apalagi di tahun 2025 Yogyakarta harus jadi destinasi unggulan di Asean, dan kalau kita itu masih kerjanya masih sendiri-sendiri brandingnya tidak tercapai dengan baik," ungkap Udi, sapaan pria itu.

Terbuka bagi difabel

Sementara itu, Panitia JTF 2019 Fadli Fahmi Ali, mengatakan bahwa JTF terdiri dari rangkaian kegiatan. Yakni capacity building, art and cultural festival dan puncak peringatan hari pariwisata dunia, pada 27 September mendatang.

"Untuk capacity building saat ini, terdapat delapan agenda yang didedikasikan seluruh pentha helix mendapat pengetahuan dan pengalaman," katanya.

Sedangkan untuk 'art dan cultural festival' sendiri adalah bagiamana memanage festival yang berhubungan dengan tourism di bulan September. Menurutnya ada 4 festival yang akan dibantu untuk segi publikasi, seperti JISP, asiatri, bedog fest dan folklore festival.

Adapun pada puncaknya akan diperingati hari pariwisata dunia di Gumuk Pasir Bantul. Meski dirinya mengaku, tidak mudah untuk memberikan aksesibilitas di wisata gumuk pasir. Namun akan ada tampilan sisi yang berbeda untuk menarik wisatawan datang. Fadhli mengaku perlu banyak belajar untuk dapat menciptakan pariwisata yang aksesibel bagi semua.

Adapun dalam kepanitiaan di JTF dirinya mengatakan terbuka, untuk siapa saja terlibat termasuk difabel. Sementara ini belum ada, kata dia. Baru melibatkan sebatas narasumber.

“Kita pingin hal ini  bukan hanya wacana tapi akan ada followupnya. Memang yang kita lakukan ini baru menstimulir dan membuka mata teman-teman stakeholder tourism, ujarnya.

Tindak lanjut dari kegiatan capacity building itu menurut Fadli ialah workshop. Teknikal bagaimana membangun perspektif difabilitas, dilanjut dengan survei aksesibilitas. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.