Lompat ke isi utama
diskusi tempat wisata aksesibel

Pariwisata Aksesibel Kunci Jogja Destinasi Wisata 2025

Solider.id,Yogyakarta -  Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia. Beragam tempat  pariwisata yang ada (pantai, taman, pegunungan, hutan, peninggalan budaya) belum sepenuhnya aksesibel. Dampaknya wisatawan (asing dan domestik) dengan beragam kebutuhan khusus (difabel, lansia, ibu hamil) tidak dapat optimal mengakses berbagai tempat wisata yang ada di DIY. Sementara, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengakses layanan rekreasi dan pariwisata.

Kondisi demikian mulai disadari oleh asosiasi perjalanan dan travel agen yang tergabung dalam Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) DIY. Menyelenggarakan Jogja Tourism Festival (JTF) diagendakan dalam upaya mengembangkan pariwisata yang maju, aksesibel dan berdaya saing kuat. Terdapat tiga rangakaian acara JTF. Yakni capacity building (membangun kapasitas), art and cultural festival (festical seni dan budaya) hingga yang terakhir adalah memperingati Hari Pariwisata Dunia yang jatuh pada 27 September 2019.

Dalam rangka capacity building, Minggu (15/9/19) JTF menggelar acara berbagi pengetahuan dengan tema membangun pariwisata yang aksesibel (memandirikan), atau sharing knowledge Building Accesibble Tourism”. Menghadirkan para narasumber, Arshinta (Direktur Ekstra Mural YAKKUM), Rahmiatun (aktivisa difabel), Meyra Marianti, dan keynote speaker Anggiasari Pujiaryati, kegiatan dihelat di Hotel The 101, Jalan Margoutomo 103, Yogyakarta.

Bernilai ekonomi

Menjadikan Jogja sebagai destinasi wisata yang ramah untuk semua, ini langkah maju, ungkap Anggiasari pada awal sesinya. Lanjutnya, “Indonesia, lebih sepsifik Jogja masih tertinggal dari destinasi wisata di negara lain. Berbagai destinasi wisata sangat tidak support terhadap kelompok masyarakat marginal (difabel, lansia, anak-anak, ibu hamil). Berbeda dengan Amerika dan Singapura,” katanya.

“Sebanyak 36 ribu jumlah difabel di DIY saja, ini bukan jumlah yang main-main. Terlebih untuk keluar rumah, sebagian besar difabel membutuhkan pendamping. Bisa dua tiga, empat atau lebih. Jika dihitung dengan nilai ekonomi, maka wisatawan difabel akan menyumbangkan nilai ekonomi yang besar. Untuk itu aksesibilitas (bangunan dan toilet akes, ramp, guiding block, informasi yang informaif, pemandu aware difabel) mutlak adanya,” tandasnya.

Paket pariwisata yang aksesibel adalah kunci Jogja menjadi destinasi wisata Asia Tenggara 2025” tegas Anggiasari.

Aksesibilitas adalah keniscayaan

Sedangkan Arshinta, pada sesinya  mempersilahkan salah seorang stafnya (Rita) mempresentasikan riset terhadap beberapa layanan publik dan tempat wisata, yang ditemukan bersama siswa di kelompok belajar YAKKUM. Dalam presentasi tersebut fakta bicara, bahwa siswa kelompok belajar YAKKUM hanya bisa menikmati halaman candi prambanan. Seluruh siswa dengan kursi roda karena cerebral palsy itu tidak bisa masuk ke dalam area candi. Demikian pula para siswa, tidak bisa mengakses seluruh tempat di salah sebuah stasiun kereta api di Yogyakarta.

Bagi Arshinta, kemauan menyediakan aksesibilitas bukan hal yang luar biasa. “Kemauan menyediakan aksesibilitas di tempat-tempat wisata dan di mana pun, bukan sesuatu yang luar biasa. Itu adalah keniscayaan, keharusan yang wajib dilakukan,” tandasnya.

Demikian pula dengan Rahmiatun, perempuan dengan kursi roda sebagai kakinya itu memaparkan berbagai fakta pengalaman atas ketidak ramahan berbagai layanan publik dan tempat pariwisata. Kondisi yang tidak aksesibel tersebut tidak memungkinkannya menikmati liburan dengan berwisata.

Sedang Meyra Marianti, dia paparkan bahwa difabel berhak atas segala fasilitas hiburan. Dia bahkan sudah membuktikan bahwa menyelam (diving) di dasar laut pun dapat diakses oleh difabel. “Kuncinya hanya setiap dari kita punya kemauan dan kesadaran untuk memfasilitasinya. Saya sudah membuktikannya!” Serunya. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.