Lompat ke isi utama
kemiskinan multidimensial

Difabel dan Kemiskinan Multidimensi

Solider.id, Yogyakarta – Dimensi dalam melihat isu tentang kemiskinan sudah lebih dari sekedar berbicara tentang uang dan pendapatan.  Mengukur kemiskinan harus juga melihat berbagai macam dimensi yang ada di dalamnya. Memahami berbagai macam dimensi yang ada dalam kemiskinan bisa berdampak pada pembuatan kebijakan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan pembangunan manusia. Dalam melihat pembangunan manusia, beragam dimensi juga perlu diperhatikan, mulai dari dimensi kesehatan, dimensi pendidikan dan pendapatan. Ragam dimensi baik dalam melihat kemiskinan di atas kemudian dikenal dengan istilah MPI (Multidimensional Poverty Index) yang dirancang oleh UNDP (United Nations Development Program).

Lalu apa itu MPI? MPI melihat dimensi yang lebih luas dari sekedar pendapatan untuk memahami bagaimana orang mengalami kemiskinan. MPI mengidentifikasi bagaimana orang bisa tertinggal secara ekonomi melalui tiga dimensi kunci: kesehatan, pendidikan dan standar hidup, yang terdiri dari 10 indikator. Ada sepuluh indikator dalam melihat kemiskinan menurut MPI ini. Dua indikator berada pada dimensi kesehatan, dua indikator berada pada dimensi pendidikan dan enam indikator berada pada domain dimensi standar hidup.

Dalam dimensi kesehatan, dua indikatornya adalah nutrisi dan mortalitas anak. Keluarga akan punya potensi menjadi miskin jika ada anggota yang terkena malnutrisi serta dalam lima tahun terakhir, ada anak yang meninggal karena faktor kesehatan. Dalam dimensi pendidikan, dua indikatornya adalah jumlah tahun sekolah dan tingkat kehadiran di sekolah. Keluarga berpotensi menjadi miskin jika tidak ada anggota keluarga berusia 10 tahun ke atas yang menyelesaikan pendidikan dasar enam tahun, serta ada anak dalam keluarga yang sudah berusia sekolah namun tidak mengikuti kegiatan sekolah sampai kelas 8.

Dimensi standar hidup menyumbang enam indikator: bahan bakar memasak, sanitasi, air minum, listrik, perumahan dan aset. Dalam dimensi ini, keluarga berpotensi menjadi miskin jika memasak belum dengan bahan bakar gas dan masih menggunakan bahan bakar kayu, belum memiliki fasilitas sanitasi atau berbagi fasilitas sanitasi dengan keluarga lain, keluarga tidak memiliki sumber air minum sendiri atau jarak dengan sumber air minum sejauh berjalan 30 menit bolak-balik, rumah tidak dialiri listrik, setidaknya satu dari tiga elemen rumah, seperti atap, lantai dan dinding, tidak layak sesuai dengan standar SDGs, dan sama sekali tidak memiliki aset-aser seperti ini: radio, TV, telepon, komputer, gerobak, sepeda, sepeda motor atau kulkas, mobil atau truk.

Orang yang terkena kemiskinan multidimensi dihitung masuk dalam setidaknya sepertiga dari sepuluh indikator tersebut. Keluarga yang masuk ke dalam 50% kategori di atas dianggap mengalami kemiskinan yang berat, dan keluarga dianggap rentan terkena kemiskinan multidimensi jika mengalami 20 – 33 persen dari indikator-indikator di atas. 

Difabel sangat rentan miskin multidimensi

Sudah lama difabel dan kemiskinan menjadi satu kausalitas. Difabilitas adalah penyebab sekaligus konsekuensi dari kemiskinan. Dengan orang nondifabel pada level pendapatan yang sama, difabel lebih banyak mengalami berbagai macam kesulitan seperti, ketidaktersediaan pangan, ketidakmampuan untuk membayar angsuran atau sewa, dan ketidakmampuan mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Dalam konsep miskin multidimensi, difabel juga punya kerentanan terkena semua indikatornya. Mari kita bedah satu-satu. Indikator dalam dimensi kesehatan terdiri dari nutrisi dan tingkat kematian anak dalam lima tahun terakhir. Malnutrisi dan difabilitas juga memiliki hubungan kausalitas. Malnutrisi pada individu bisa menyebabkan orang menjadi difabel, begitu juga jenis difabel seperti cerebral palsy biasanya memiliki tantangan dalam proses makan yang membuat individu jadi rentan terkena malnutrisi. Dari segi kematian anak dalam lima tahun terakhir, kondisi kesehatan dari difabel juga rentan merenggut nyawa difabel, terutama anak-anak, meski data pasti tentang hal ini belum ada.

Dalam dimensi pendidikan, kerentanan yang muncul juga beragam. Jumlah difabel yang berusia pada usia sekolah, atau usia 10 tahun ke atas, banyak yang tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan dasar enam tahun. Faktornya beragam dan berasal dari internal keluarga maupun dari eksternal keluarga. Dari dalam keluarga, masih banyak orang tua yang masih malu dan menyembunyikan anak difabelnya sehingga kesempatan untuk bisa mengikuti pendidikan dasar enam tahun akhirnya tercerabut. Jika pun sudah bisa mengatasi permasalahan malu tersebut, akses terhadap fasilitas pendidikan juga tidak seterbuka bagi anak difabel. Lalu ada faktor yang berhubungan dengan tidak meratanya kesempatan pendidikan bagi difabel dan belum banyak sekolah inklusif yang tersedia. Jika pun ada sekolah khusus, yang sebenarnya tidak ideal, jumlahnya tidak begitu banyak untuk satu wilayah. Faktor-faktor di atas juga menjadi hal yang merentankan difabel dari segi indikator anak yang tidak mengikuti kegiatan sekolah sampai kelas 8.

Dalam dimensi standar hidup, indikator satu sama lain saling bersinggungan dan membuat difabel semakin rentan terhadap kemiskinan multidimensi. Penjelasannya begini, kesulitan difabel dalam mengakses pekerjaan dan kemudahan dalam bekerja sendiri membuat perputaran uang dan keadilan perekonomian menjadi tidak tercapai. Hasilnya adalah apa yang dalam Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif disebut sebagai kesenjangan pendapatan yang sekaligus menjadi satu pilar masalah kemiskinan di Indonesia. Hal-hal itu membuat difabel hampir bisa masuk ke dalam enam indikator dalam dimensi standar hidup.

Belum ada data yang cukup valid yang bisa menggambarkan kerentanan difabel sampai ke jenis difabel. Informasi ini sebetulnya penting sebagai bahan bagi pembuat kebijakan untuk bisa membuat regulasi pemberantasan kemiskinan yang tepat sasaran khusus sampai ke jenis difabel tertentu, karena faktor-faktor yang membuat kemiskinan itu ada pun bervariasi tergantung dari jenis difabilitasnya. 

Karena tidak ada data yang bisa digunakan sampai ke jenis difabelnya, tulisan ini menggunakan basis data dari sebuah penelitian berjudul Poverty and disability in low- and middle-income countries: A systematic review. Penelitian ini berpijak dari minimnya data empiris yang bisa menghubungkan difabel dan kemiskinan sampai pada jenis difabilitas yang beragam, dengan disadarinya hubungan antara difabel dan kemiskinan yang saling kuat satu sama lain.

Penelitian ini mencoba menggali hubungan antara difabel dan kemiskinan di negara dengan penghasilan menengah dan rendah dengan membuat review sistematis dari 150 hasil penelitian yang didapat dari proses screening 15.500 penelitian umum.

Hasilnya, ada 75 hasil penelitian yang berfokus pada jenis difabilitas mental psikososial. 87% diantaranya menemukan bukti hubungan positif antara difabel dengan kemiskinan. Ada 18 hasil penelitian yang berfokus pada difabel sensorik dengan 12 yang berfokus pada difabel netra, dua pada Tuli dan tiga sisanya mengambil fokus dua-duanya. 14 dari 18 penelitian ini (78%) menemukan hubungan positif difabel dengan kemiskinan. Selanjutnya, ada 18 penelitian yang mengevaluasi hubungan kemiskinan dengan difabilitas fisik. Empat belas penelitian dari delapan belas penelitian tersebut (78%) menemukan hubungan positif antara difabel dengan kemiskinan. 26 penelitian lainnya mencoba mencari kaitan antara kemiskinan dengan jenis difabel intelektual atau kognitif dan menemukan 69% diantaranya positif menghubungkan difabel dengan kemiskinan.

Semua hal di atas menjadi basis penting bagi siapapun terutama pembuat kebijakan dalam membuat kebijakan yang secara serius melindungi difabel dari potensi kemiskinan multidimensi. Sudah saatnya, negara berkembang seperti Indonesia mulai melihat difabel bukan sebagai beban pembangunan dan melihatnya sebagai potensi penggerak pembangunan. []

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.