Lompat ke isi utama
Kecerdasan Majemuk

Teori Kecerdasan Majemuk untuk Kelas yang Inklusi

Solider.id Yogyakarta - Ekosistem pendidikan seperti apa yang bisa menggambarkan konsep pendidikan inklusif secara holistik? Bisa jadi salah satu caranya dengan menggunakan konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Sebuah penelitian dari Junichi Takahashi mecoba membahas tentang teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence) dalam mendorong pendidikan inklusif, terutama bagi siswa difabel intelektual. Dalam penelitiannya, Takahashi menilai bahwa guru harusnya menilai pendidikan harus menempatkan murid berdasarkan sudut pandang individu karena pada praktiknya ada proses dekontekstualisasi proses pendidikan dengan menempatkan semua anak pada standar yang sama, memberikan mereka materi yang sama dan mengajarkannya dengan cara yang sama.

Gardner, menurut Takahashi, menegaskan bahwa pendidikan harusnya memahami setiap anak secara mendalam dan membuat mereka mampu optimal dalam mengembangkan level pembelajaran dengan metode pengajaran yang tepat. Yang menarik adalah, menurut Gardner, teori kecerdasan majemuk juga bisa diterapkan dalam pendidikan bagi anak-anak dengan difabilitas intelektual yang dalam banyak kasus punya kemampuan dalam musik dan seni yang tinggi.

Lalu, apa itu kecerdasan majemuk? Kecerdasan mejemuk pertama kali dilontarkan oleh seorang profesor dan psikolog dari Universitas Harvard bernama Howard Gardner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences.  Menurut Gardner, manusia memiliki delapan kecerdasan yang berbeda dan mencerminkan cara mereka berinteraksi dengan dunia. Delapan kecerdasan itu kemudian bertambah satu menjadi sembilan kemudian.

Mengutip dari laman resmi alodokter, ke sembilan kecerdasan majemuk ini memiliki kekuatan dan kemampuan yang berbeda-beda dan terdiri dari kecerdasan majemuk verbal-linguistik, kecerdasan logis-matematis,  kecerdasan spasial-visual, kecerdasan kinastetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial sebagai satu jenis kecerdasan yang ditambah kemudian.

Kecerdasan majemuk verbal-linguistik melibatkan kemampuan berbahasa melalui membaca, menulis, berbicara, memahami urutan dan makna dari kata-kata, serta menggunakan bahasa dengan benar. Kecerdasan Logis-Matematis berhubungan mengolah angka, matematika, dan logika untuk menemukan dan memahami berbagai pola, seperti pola pikir, pola visual, pola jumlah, atau pola warna. Kecerdasan Spasial-Visual mengandalkan imajinasi dan senang dengan bentuk, gambar, pola, desain, serta tekstur.

Kecerdasan Kinestetik-Jasmani melibatkan kemampuan dalam koordinasi anggota tubuh dan keseimbangan. Anak yang memiliki kecerdasan ini senang melakukan berbagai aktivitas fisik, seperti naik sepeda, menari, atau olahraga. Kecerdasan Musikal memberikan kemampuan untuk dapat memainkan alat musik atau mendengarkan lagu. Mereka yang memiliki kecerdasan ini juga mampu memahami dan membuat melodi, irama, nada, vibrasi, suara, dan ketukan menjadi sebuah musik. Kecerdasan Intrapersonal merupakan kecerdasan introspektif di mana Si Kecil mampu memahami diri sendiri, mengetahui kekuatan, kelemahan, dan motivasi diri.

Kecerdasan Interpersonal atau keterampilan sosial juga diperlukan. Kecakapan ini merupakan kemampuan untuk bermasyarakat serta memahami dan berinteraksi dengan orang lain. Kecerdasan Naturalis adalah kemampuan untuk mengenali dan mengkategorikan tanaman, hewan, dan benda-benda lain di alam, serta tertarik mempelajari spesies makhluk hidup. Kecerdasan Eksistensial memampukan anak mampu mengajukan dan mencari jawaban pertanyaan mendalam tentang eksistensi manusia, seperti ‘Apa arti hidup?’, ‘Mengapa kita mati?,” atau ‘Apa peran kita di dunia?’.

Situasi kelas yang inklusif mampu memberikan pengajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan pendidikan anak yang beragam. Kelas yang inklusif akan mendorong anak untuk berkembang secara akademik dan emosional serta menawarkan lingkungan emosional yang positif dan menbantu perkembangan emosional anak menjadi lebih maksimal. Hasilnya, potensi tertinggi anak dalam hal akademik maupun emosional bisa tercapai dalam level yang terbaik. Penggunaan teori kecerdasan majemuk dalam pengajaran anak di kelas mendukung situasi kelas yang inklusif. 

Pendidikan yang berbasis pada teori kecerdasan majemuk akan menempatkan murid sesuai dengan kecerdasannya masing-masing, bukan menstandarkan sistem pengajaran yang sesuai dengan status quo. Prinsip seperti ini yang menjadi tulang punggung dari pendidikan inklusif, bahwa semua anak baik difabel maupun non difabel sejatinya memiliki kecerdasan masing-masing, bukan malah memisahkan difabel dalam sekolah-sekolah yang segregatif. Bisa saja seorang anak memiliki dua atau lebih kecerdasan seperti yang ada dalam teori kecerdasan majemuk.

Tugas orang tua maupun guru adalah melihat kecerdasan apa yang dominan pada anak dan menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung kecerdasan majemuk tersebut. Sayangnya, ekosistem pendidikan Indonesia selama ini masih menempatkan murid pada standar yang sama. Sistem pendidikan seperti ini juga yang meminggirkan potensi difabel karena persepsi usang tentang pola pendidikan yang segregatif. Oleh karena itu, tugas stakeholder pendidikan kemudian harus mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang melihat semua anak sesuai dengan kecerdasannya masing-masing. Pemerintah punya otoritas yang besar untuk memasukkan teori kecerdasan majemuk dalam kurikulum pendidikan nasional karena besarnya sumber daya yang bisa digunakan. Teori ini juga bisa menjadi alat untuk memberikan hak pendidikan bagi setiap anak sesuai dengan kebutuhan masing-masing. []

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.