Lompat ke isi utama
pemberian kenang-kenangan kepada Galuh Sukmara Suedjanto

Fitrah Bahasa dan Urgensi Bahasa Isyarat

bunda galuhSolider.id, Yogyakarta - Galuh Sukmara Soejanto adalah seorang wanita Tuli pendiri The Little Hijabi Homeschooling. Sekolah yang berlokasi di Bekasi ini didirikan pada tahun 2013. “Alasan hadirnya The Little Hijabi adalah tidak tercapainya pendidikan yang hakiki bagi anak-anak Tuli dikarenakan pembelajaran yang tidak sesuai dengan fitrah tumbuh kembang anak-anak Tuli. Di antaranya ialah tentang pengabaian pentingnya bahasa isyarat dalam proses pendidikan anak Tuli. Selain itu alas an lain  terutama ialah pengabaian tauhid dan nilai-nilai keislaman dalam orientasi atau arah tujuan pendidikan anak Tuli”, papar Galuh pada Seminar Psikologi dan Disabilitas yang digelar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Agustus 2019 lalu.

Dalam presentasinya, Galuh kemudian menjelaskan seputar fitrah bahasa dan urgensi bahasa isyarat. Baginya, bahasa merupakan kecakapan dasar manusia yang menempati urutan prioritas, sangat urgen dan krusial. Bahasa adalah kebutuhan mutlak bagi makhluk sosial untuk berinteraksi dalam menjalani kehidupannya. “Bahasa ialah perihal komunikasi, dengan cara apapun, namun yang terpenting ialah tentang penyampaian pesan yang dapat dipahami, serta dibawakan dengan makna oleh sang penutur / pengguna bahasa, sehingga ia bisa berinteraksi dan mengakses dunianya”, imbuh Galuh menggunakan bahasa isyarat.

Galuh menambahkan, bahasa bukanlah sekedar keterampilan oral dan bukan perkara teknis semata. Bahasa isyarat adalah bahasa yang universal. Disadari atau tidak, bahasa isyarat pada taraf yang paling dasar digunakan oleh ibu dan bayi di setiap budaya di seluruh dunia sepanjang zaman. Bahasa isyarat jauh lebih universal dari bahasa verbal apapun, bahkan ini adalah fitrah tentang bagaimana berkomunikasi dengan insan manusia di tahap paling dini.

Bahasa isyarat sepantasnya ditempatkan sebagai bahasa pertama bagi anak Tuli, yakni sebelum anak Tuli lanjut mengembangkan kecakapan literasinya secara umum. “Maka mantapkan bahasa isyarat di jenjang dasar, sebelum Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lainnya (secara bilingual bersama bahasa isyarat), baik dalam teks (tertulis) maupun (terapi) oral”, sambung Galuh.

Ibu satu anak yang menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada dan La Trobe University, Australia, ini memandang bahwa cara atau pola pendidikan bahasa yang berlaku secara formal saat ini ternyata berbeda dengan fitrah bahasa dan tidak sesuai dengan ‘hukum alam’ berbahasa. Termasuk dengan bagaimana sebagian bahasa isyarat ditempatkan dalam struktur yang kaku dan diajarkan secara teoritis, termasuk dengan bagaimana kecenderungan terapi wicara (oral) yang dibawakan hampa tanpa makna.

Kekuatan bahasa isyarat diantaranya adalah jalan pertama untuk menghubungkan diri dengan dunia luar pada taraf yang paling dasar serta sebagai bentuk komunikasi yang sangat ilmiah dan sangat universal. Bahasa isyarat berperan untuk menyampaikan pesan, makna, sekaligus ekspresi diri. Pesan visual dalam isyarat adalah elemen penting dalam proses penyerapan bahasa (language acquisition), pesan visual yang sifatnya konkrit membantu penguatan makna dalam komunikasi secara umum.

Tahapan proses berbahasa isyarat yang pertama adalah mendapatkan paparan komunikasi isyarat secara alamiah melalui aktivitas di keseharian. Yang kedua, membangun fondasi bahasa yang mumpuni untuk dapat melakukan interaksi dan komunikasi taraf dasar dan menjalani kehidupan dengan bentuk bahasa apapun termasuk bahasa isyarat bagi anak Tuli. Kemudian pengembangan kemampuan komunikasi tahap lanjut dengan bahasa teks dan verbal setelah mempunyai fondasi bahasa isyarat yang kuat. Galuh menegaskan bahwa bahasa tidak untuk diajarkan tapi bahasa untuk didapati atau diserap secara alamiah begitu pula dengan bahasa isyarat.

“Kenyataan yang terjadi di sekitar bahasa isyarat, kemampuan verbal/berbicara samasekali tidak berbanding lurus dengan kecapakan berbahasa. Memberikan hak pada individu Tuli menggunakan bahasa isyarat akan mendorongnya memiliki kesetaraan dalam akses. Banyak yang tidak menyadari bahwa bahasa isyarat memiliki struktur linguistik yang lengkap, sama halnya dengan bahasa lainnya”, pungkas Galuh.[]

 

 Reporter: Ramadhany Rahmi

 Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.