Lompat ke isi utama
Galuh saat melakukan presentasi

Perjalanan Hidup Galuh Sukmara Soejanto melalui Bahasa Isyarat

Galuh SukmaraSolider.id, Yogyakarta - “Aku dikenal sebagai pembicara sunyi. Sehari-hariku adalah seorang guru Tuli dan aku juga Tuli”, ungkap Galuh Sukmara Soejanto, Pendiri The Little Hijabi Homeschooling, melalui sebuah video singkat yang ia sajikan kepada peserta seminar Psikologi dan Disabilitas pada Agustus 2019 lalu.

Saat ditanya mengenai harapan, Galuh berharap dapat menjadi yang terdepan, yang terunggul, dan yang terbaik. “Harapan yang dimohonkan dengan kesungguhan hati dan keyakinan yang kuat secara mendalam untuk melakukan yang terbaik. ‘Mengapa kamu menjadi Tuli? Mengapa kamu tidak normal?’ Jangan bertanya begitu, kawan. Jangan menyalahkan atas kondisi yang aku alami. Sayangnya aku tidak tahu jawabannya. Allah yang lebih mengerti. Allah Maha mengetahui segalanya”, imbuh alumni Jurusan Psikologi Universitas Gadjah Mada ini.

Dalam video singkat yang berdurasi 3 menit 36 detik itu Galuh menganalogikan ketika ia melepas kacamatanya dan alat bantu dengarnya, maka dunianya semakin sunyi dan penglihatannya kabur, ia merasa semakin tertinggal jauh dan terputuslah aksesnya dengan dunia luar. “Aku hidup dalam kesunyian yang begitu mencekam. Allah menciptakan diriku Tuli sebagai bukti cinta-Nya kepadaku dan Allah memilihku menjadi Tuli bukan yang lainnya, kau tahu mengapa? Agar aku terus yakin dan percaya bahwa Allah akan selalu terus membersamaiku sepanjang proses dalam menjalani ujian hidup sehingga pada akhirnya Allah membuka rahasia-Nya melalui bahasa isyarat, bahasa isyarat membuka akses jalan bagiku untuk mengenali-Nya secara luas”, jelas Galuh menggunakan bahasa isyarat.

‘Dan janganlah kau bersedih sesungguhnya Allah bersamamu…’, Q.S. At-Taubah (9:40). Ayat inilah yang menjadi alasan bagi Galuh tetap bangkit meski di titik terendah dalam hidupnya. Ia bersyukur bahwa kesunyiannya bukan halangan untuk terus berkarya yang terbaik bagi sesama. Menjadi sunyi pun bukan halangan baginya untuk mengenali-Nya.

Semangat itulah yang menjadikan Galuh bertekad mendirikan homeschooling dengan metode pembalajaran bilingual pertama di Indonesia pada tahun 2013. Pola pendidikan yang diajarkan di The Little Hijabi Homeschooling adalah mendidik anak-anak sesuai fitrah-Nya dan mendidik mereka dalam keislaman secara kaffah. Fakta yang Galuh lihat pada orang Tuli, banyak sekali dari mereka yang rendah diri, hatinya hampa, frustasi, tertekan, gelisah, tantrum, kehilangan makna diri, tidak tahu tujuan hidup, hingga ingin mengakhiri hidup. Homeschooling yang berlokasi di Bekasi ini hadir karena Galuh tak ingin generasi Tuli penerusnya memiliki kepribadian yang demikian.

“Alasan hadirnya The Little Hijabi adalah tidak tercapainya pendidikan yang hakiki bagi anak-anak Tuli dikarenakan pembelajaran yang tidak sesuai dengan fitrah tumbuh kembang anak-anak Tuli. Di antaranya ialah tentang pengabaian pentingnya bahasa isyarat dalam proses pendidikan anak Tuli serta yang terutama ialah pengabaian tauhid dan nilai-nilai keislaman dalam orientasi atau arah tujuan pendidikan anak Tuli”, terang Galuh.

Ibu satu anak yang menamatkan studi jenjang S2 nya di La Trobe University, Australia, ini menambahkan bahwa The Little Hijabi adalah sebuah tempat belajar di mana peranan orang tua lebih dominan terhadap proses pembelajaran anak-anak Tuli untuk membantu menemukan makna diri anak dan fitrah-Nya. The Little Hijabi Homeschooling menempatkan bahasa isyarat sebagai kekuatan pembelajaran yang digulirkan diantara anak-anak Tuli dan berkebutuhan khusus lainnya, sebagai salah satu faktor terpenting dalam membangun fondasi kecakapan komunikasi yang juga sangat penting untuk membangun kecakapan belajar secara umum.

 

“The Little Hijabi Homeschooling menempatkan bahasa isyarat sebagai pintu ekspresi, pintu informasi, pintu ilmu khazanah bagi dunia Tuli. Bahasa isyarat insya Allah ialah jalan termudah yang dapat membantu anak Tuli berinteraksi dengan dunianya, di tahap paling awal, sejak usia yang sangat dini, di jenjang pendidikan dasar”, pungkas Galuh.[]

 

Reporter:   Ramadhany Rahmi

Editor  :   Ajiwan Arief

The subscriber's email address.