Lompat ke isi utama
suasana penandatanganan Mou Ciqal

CIQAL dan Polres Sleman Kerjasama Tangani Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Difabel

Solider.id, Yogyakarta. Center for Improving Qualified Activitities in Life of People with Disability (CIQAL) berjejaring dengan Kepolisian Resort (Polres) Sleman, bekerjasama dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak difabel, khususnya kekerasan sosial. Yakni, kekerasan sebagai akibat perbuatan seseorang atau sekelompok orang lain terhadap perempuan dan anak difabel. Bentuk kerja sama dituangkan dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MOU), yang telah ditandatangani pada 27 Agustus 2019.

Bertempat di Savita Inn, Kamis (12/9/2019) MOU disosialisasikan kepada  jajaran kepolisian serta dinas dan instansi terkait di wilayah Kabupaten Sleman. Hadir di antaranya Kapolres, Kapolsek, perwakilan dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB), Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Rifka Annisa, lembaga bantuan hukum, serta wartawan.

Usai sosialisasi, dilanjutkan sharing pengalaman terkait penanganan kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak difabel di wilayah Kabupaten Sleman. Berbagai kendala dan upaya penanganan dipaparkan dan didiskusikan. Penanganan kasus terhadap korban tuli menjadi kendala terbesar yang terjadi pada semua unit pemberi layanan bantuan hukum. Kendala berikutnya terjadi saat penanganan kasus dengan korban difabel intelektual, selanjutnya difabel netra.

Diskusi menghangat dengan catatan pendamping lapangan, atas apa yang telah dilakukan oleh jajaran kepolisian. Beberapa catatan dipaparkan. Di antaranya bahwa sudah saatnya polisi, penyedia layanan bantuan hukum, serta penegak hukum lainnya berperspektif difabel dalam penanganan kasus terhadap korban difabel.

“Selama ini karena korban adalah difabel (tuli, netra, intelektual) kesaksiannya tidak dipercaya. Korban difabel intelektual, pernyataannya berubah-ubah, sehingga diangap tidak cakap bersaksi. Korban difabel netra karena tidak dapat melihat pelaku, kesaksiannya tidak dipercaya. Demikian pula dengan yang terjadi pada korban difabel tuli. Ketidak tahuan petugas menangkap informasi korban tuli, maka penyidikan tidak dilanjutkan,” paparan Boni terkait pendampingan di lapangan. 

Berbagai kendala yang terjadi tersebut melatarbelakangi dilakukan kerja sama dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak difabel, antara CIQAL dan Polres Sleman. Dengan tujuan penanganan kasus kekerasan yang menimpa korban perempuan dan anak difabel dapat diselesaikan dengan proporsional dan profesional. Menghadirkan pendamping kepada setiap korban difabel, menjadi salah satu perspektif yang dibangun dan dilakukan. Mengganti ketentuan bahwa pendamping harus bersertifikat dengan surat tugas saja, menjadi point selanjutnya.

Jangan takut melapor

Kepada Solider, Kapolres Sleman Suhardi mengaku sangat terbantu dengan adanya MOU tersebut. “Sangat terbantu sekali dengan adanya MOU. Terutama pada saat kita menerima laporan adanya disabilitas korban kekerasan seksual. Mulai dari penerimaan laporan sampai proses penyidikan. Apabila kita melaukan penyidikan dengan korban atau saksi disabilitas kita keseulitan jika tidak dibantu CIQAL,” ujarnya.

“Dengan adanya MOU antara CIQAL dan Polres Sleman mudah-mudahan dapat membantu para difabel apabila menghadapi suatu permasalahan terkait pidana maupun perkara-perkara lain. Jangan takut melapor!” himbauan Kapolres.

Sedangkan Direktur CIQAL Nuning Suryatiningsih menyatakan, akan menindaklajuti kegiatan dengan berjejaring dengan lembaga layanan bantuan hukum di Yogyakarta. Contohnya SIGAB, SAPDA, dan lain sebagainya. Nuning juga berharap dengan adanya MOU ini aparat penegak hukum (APH) dalam hal ini jajaran Polres Sleman menjadi aware (sadar) terhadap semua kasus yang dialami difabel, siapapun nanti yang akan mendampingi.

Pencegahan dini

Lebih dari itu, “Dengan adanya MOU, selain difabel berani melapor juga bisa melakukan pencegahan dini dan paham tentang kekerasan. Mencolek saja, ini termasuk kekerasan sosial loh. Pendidikan seksual dan kesehatan reproduki harus diberikan sejak dini. Hal ini bukan tabu. Karena dengan tahu sejak dini, maka difabel tahu juga cara menjadi bagian vital dari tubuhnya,” ujar Nuning.

Sedangkan Koordinator Program MAMPU CIQAL Ibnu Sukoco mengharapkan, semakin banyak Polsek yang terlibat, maka Unit PPA masing-masing Polsek mampu menanganani kasus di tingkat kecamatan.  Apabila punya kendala atau masalah tentang korban baik dari segi bahasa, komunikas, atau proses memintai penjelasan, secara teknis kami siap untuk bekerja sama. Baik dari segi teknis pendampingan, maupun pendampingan secara personal.

“Tidak karena korban difabel intelektual gak bisa diproses. Ragam disabilitas apapun ketika mereka menjadi korban kekerasan, penyidik harus merespon dengan SOP yang sudah ada. MOU ini dibuat untuk menyelesaikan permasalahan, mengikat di tindak penyidikan untuk paham dan komitmen menyelesaiakn kasus,” tegasnya. []

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.