Lompat ke isi utama
 Foto Disc Jockey netra, DJ Qoqo Qayma

Yuda dan Andis, Dari Blind DJ dan Kolektor Burung Bernyanyi

Solider.id, Surakarta - Mainstreaming isu difabilitas dapat dilakukan dengan beragam cara yang menyenangkan. Salah satunya yaitu dengan produktif berkreasi. Sekalipun aktivis difabel tak henti menyerukan eksistensi difabel, peran aktif difabel itu sendiri sangat diperlukan. Selama regenerasi manusia terus terjadi, selama itu pula isu difabilitas harus terus digaungkan.

Di era millennial ini, difabel pun didorong untuk tampil dengan potensi dan prestasi yang dimiliki. Dengan begitu, diharapkan masyarakat Indonesia dapat memiliki perspektif baru tentang difabel. Paradigma difabel yang identik dengan objek charity atau bahkan kemunculannya dengan berita-berita ketidakberdayaan bisa mulai dialihkan dengan hal yang positif. Upaya tersebut telah dilakukan oleh Yuda Bima dan Andis Dwi Ariama. Kedua difabel netra asal Jawa Tengah ini aktif berkarya  demi mengubah sudut pandang khalayak umum.

Yuda Bima atau Blind DJ Qoqo Qayma

Yuda Bima, difabel netra asal Kabupaten Wonogiri terus bereksplorasi dengan hobi dan profesinya sebagai Disc Jockey (DJ) walaupun dengan hambatan penglihatan. Laki-laki yang mengalami peradangan syaraf mata tahun 2016 ini mengaku kedifabilitasannya tidak membatasinya untuk mengajak orang terus berbahagia. Umumnya, berkarier sebagai DJ bukanlah suatu profesi incaran kebanyakan masyarakat Indonesia. Status ini cenderung dipandang negatif oleh beberapa kalangan. Yuda menyangkal kalau seorang DJ lekat dengan dunia malam yang serba buruk. Ia membuktikannya dengan berkolaborasi bersama ISI (Institut Seni Indonesia) Solo untuk menggabungkan Electronic Dance Music (EDM) dengan musik etnik khas Indonesia.

“Saya pernah ikut kompetisi EDM seJawa-Bali bareng ISI Solo yang digelar di ballroom salah satu hotel di Kota Solo. Waktu itu, saya jadi juara favorit atas hasil karya yang menurut saya cukup menantang,” tutur Yuda.  

Sejak awal kariernya di tahun 2009, Yuda selalu menanamkan prinsip tidak mudah patah semangat, rajin latihan, bangun rasa ingin tahu yang tinggi dan berani bertanya kalau ada kesulitan. Prinsip-prinsip itu tetap ia pegang hingga saat ini menjadi difabel netra. Meski permainan musiknya sedikit melambat, pria dengan nama panggung DJ Qoqo Qayma ini mengaku kini kepekaannya dalam bermusik lebih terasah, khususnya indera pendengaran dan perabaannya.

Pria kelahiran 1983 ini kini lebih dikenal dengan panggilan Blind Dj. Keahliannya bergelut dengan Turntables Vinyl ia juga jadikan sebagai panggung memperkenalkan kedifabilitasan bukan akhir untuk berkarya. Keberadaannya sebagai DJ difabel di tengah-tengah tamu-tamu dari berbagai kalangan ia jadikan ajang memotivasi orang agar tidak mudah menyerah. Sebagian besar penikmat musik EDM ciptaannya adalah orang-orang yang mencari hiburan dari segala permasalahan hidup mereka. Yuda menggunakan profesinya sebagai media unjuk kebolehan sekaligus ajang berbagi semangat hidup melalui pengalamannya sebagai difabel.

Ia bertekad untuk terus berkreasi dan berprestasi dengan memaksimalkan kemampuan yang ia miliki.

“Ke depannya saya mau menggabungkan gamelan Jawa dan EDM untuk diperkenalkan ke luar negeri,” ungkap pria yang akrab disapa DJ Qoqo ini.

Andis Dwi Ariama, Difabel Netra Kolektor Burung Penyanyi

Tidak kalah produktif dari Yuda, ekonomi kreatif yang saat ini sedang gencar digalakkan justru sudah dipelajari oleh Andis Dwi Ariama sejak ia masih melihat. Difabel netra asal Salatiga ini bertekad untuk mampu menjadi karyawan sekaligus bos untuk usahanya sendiri. Andis yang mengalami pelepasan retina dari 2010 lalu, terus mendorong dirinya untuk mandiri dalam kondisi apapun.

Sewaktu masih melihat, Andis sempat mengelola bengkel motor bersama beberapa pegawainya. Lalu, ketika indera penglihatannya hilang, dia tidak lantas hilang semangat untuk berjuang.

Setelah selesai mengikuti rehabilitasi di panti difabel netra Solo, laki-laki yang juga seorang atlet atletik ini membuka panti pijat di rumahnya. Namun, baginya ia masih ada sisa waktu banyak disela-sela menunggu pasien pijat datang.

“Dulu saya berpikir, kira-kira usaha lain apa ya yang bisa dilakukan di rumah secara mandiri?” kisahnya mengenang.

Selanjutnya, Andis mencoba bertukar pikiran dengan rekan-rekannya. Kemudian, tercetuslah gagasan untuk memelihara burung kicau. Burung-burung yang ia koleksi bukan peliharaan biasa, melainkan burung dengan nilai jual yang cukup fantastis.

“Kalau hanya hadiah lomba sebenarnya tidak terlalu besar, tapi kalau burungnya sudah menang dan memiliki trophy nilai jualnya bisa sampai puluhan juta,” tuturnya.

Uang yang ia peroleh dari koleksinya itu tak akan sebanding dengan upaya kerasnya merawat semua koleksi burungnya secara mandiri. Andis hafal burung apa saja yang ia miliki seperti Murai Batu, Kacer, Cucak Hijau, Kenari, Cendet dan masih banyak lagi.

Dia menuturkan kalau tiap burung memerlukan perawatan yang berbeda. Ada yang tidak bisa dimandikan lama, ada yang harus dijemur waktu pagi dan makanannya pun berlainan seperti pisang, tomat, ulat hong kong dan biji-bijian.

Bak seorang dokter hewan, Andis juga sudah mempersiapkan kotak obat khusus untuk burung-burung yang ia pelihara. Cara dia mengamati peliharaanya itu sakit atau tidak melalui tingkah, nafsu makan serta dari tekstur kotoranya. Andis tidak sedikit pun merasa jijik harus menyentuh kotoran burung-burung itu. Baginya, sebagai pengganti penglihatan ya harus diraba.

Andis menggunakan media Internet untuk mengetahui jadwal-jadwal lomba burung yang digelar di area sekitarnya. Karena ketekunannya melatih koleksinya, beberapa burung yang Andis pelihara telah memiliki piagam sebagai burung dengan kicauan terindah. Biasanya, ia melatih burung-burung penyanyi itu dengan burung masteran, misal burung Pelatuk Bawang.

Andis biasanya menjual burung-burung itu kepada pasien pijatnya atau kolektor yang datang ke rumahnya. Ia juga mempromosikan koleksinya itu melalui sosial media.

Hobi Andis tidak hanya mampu mendatangkan jutaan rupiah, tapi juga memberikan contoh nyata kepada orang-orang di sekitarnya bahwa difabel pun tetap bisa produktif dengan caranya sendiri. Ketika ditanya Solider apakah semua itu tidak merepotkan, ia hanya menjawab semua itu kembali pada niat dan kemauan. Setidaknya, Andis mampu mencukupi kebutuhannya sendiri dan meringankan kebutuhan kedua orangtuanya. Tidak hanya itu, ketelatenannya melatih burung kicau membuatnya diberi kepercayaan rekan-rekannya untuk melatih sekaligus menjualkan burung-burung yang jago bernyanyi itu.

 

Reporter: Agus Sri

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.