Lompat ke isi utama
Hastu Wijaya, perempuan Tuli yang kembangkan aplikasi android

Hastu Wijayasri, Developer Tuli Pertama Indonesia

Solider.id, Yogyakarta - Hastu Wijayasri   lahir pada tahun 1998 di Yogyakarta. Perempuan yang akrab di sapa Hastu ini masih mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta. Ia mendapatkan kesempatan belajar di San Francisco, California, Amerika Serikat atas undangan Google pada kegiatan Google IO (Input Output) selama lima hari pada tanggal 6-11 Mei 2019. Acara tersebut merupakan perkumpulan para developer dari berbagai belahan dunia sekaligus Google memperkenalkan produk-produk barunya. “Google semacam promosi juga tentang produk-produk barunya dan perkembangan teknologi mereka bagikan kepada semua peserta yang hadir. Peserta yang hadir atas undangan Google kepada mereka yang memiliki pengalaman membuat proyek seperti aplikasi tertentu”, ungkap Hastu menggunakan bahasa isyarat.

Perempuan Tuli berusia 21 tahun ini aktif berkegiatan di komunitas DSC (Developer Students Club) yang ada di kampusnya. Dari komunitas inilah Hastu banyak belajar mengenai pemrograman serta pembuatan aplikasi dan web bersama dengan mahasiswa lainnya. Informasi terbaru mengenai Google maupun kegiatan-kegiatannya juga ia dapatkan melalui komunitas ini.

“Awalnya saya tidak tertarik dengan jurusan teknik informatika karena saya masih awam. Atas dukungan ibu saya, saya coba mempelajarinya, ternyata menyenangkan. Kemudian saya bergabung di komunitas DSC supaya saya bisa mendapat lebih banyak informasi dan tidak kaget saat besok lulus kuliah”, cerita Hastu kepada Solider.id.

Anak ketiga dari 4 bersaudara ini bergabung di komunitas DSC berawal dari ajakan salah seorang temannya yang menghubunginya. Ia kemudian mencoba mengikuti workshop yang diadakan oleh komunias DSC yang saat itu menjelaskan mengenai pemrogaram dan aplikasi Android. Setelah belajar langsung dari mentor DSC, kemudian mentor membagi menjadi tiga kelompok untuk membuat proyek, yakni membuat aplikasi. Karena Hastu merupakan seorang difabel kemudian ia memutuskan untuk membuat aplikasi yang bisa bermanfaat untuk teman-teman difabel lainnya.

“Fokus target saya aplikasi ini bisa digunakan dan bermanfat bagi teman-teman difabel netra di Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN SUKA. Aplikasi ini bisa diakses untuk teman netra yang mau baca buku, jadi ada suara relawan PLD yang direkam kemudian dimasukkan ke aplikasi. Nama aplikasi ini Sukacare”, jelas perempuan penggemar warna ungu ini.

Sebelum ia diterima di UIN Sunan Kalijaga, ia sebenarnya memiliki keinginan untuk mengambil jurusan desain komunikasi visual. Tapi ibunya menyarankan Hastu mengambil jurusan teknik informatika yang bisa dipakai untuk masa depan. “Awalnya saya tidak mengerti dan takut salah jurusan tapi saya mencoba mendalaminya terlebih dahulu supaya bisa cocok dan mampu beradaptasi selama satu tahun lebih. Baru di semester 2 saya bergabung di komunitas DSC supaya saya bisa menemukan potensi saya dimana dan saya pikir ada banyak hal yang bisa dipelajari di luar jam kuliah”, terang mahasiswi angkatan 2017 ini.

Dengan semangat yang terus membara, perempuan yang memiliki cita-cita menjadi pengusaha dan developer ini ingin mengajak teman-teman Tuli lainnya belajar bersama mendalami IT. Ia ingin kelak bisa memiliki kerjasama tim dengan teman-teman Tuli. “Saat ini masih sangat jarang Tuli di Indonesia yang mendalami teknik informatika dan belum ada yang menjadi developer. Akan sangat menarik kalau ada Tuli yang belajar pemrograman atau menjadi developer supaya kita bisa saling bertukar pikiran”, ujar Hastu.

Selain membuat aplikasi Sukacare dan berkesempatan hadir di acara Google di Amerika Serikat, pengalaman lain yang membuat Hastu terkesan ialah pada Desember 2018 ia diundang untuk berbagi pengalaman oleh Google Indonesia di Jakarta karena tim Google Indonesia mendapat informasi bahwa Hastu adalah Tuli pertama di Indonesia yang bergabung di komunitas DSC dan membuat aplikasi untuk difabel netra.

“Yang membuat saya termotivasi adalah nasihat dari dosen saya. Saya teringat pada kata-kata yang pernah disampaikan beliau bahwa orang yang belajar IT (information technology) ibarat burung di dalam sangkar. Ketika burung itu keluar dari sangkar maka berarti burung itu menyerah jadi sampai saat sekarang kita sebagai mahasiswa ibarat burung masih di dalam sangkar karena tidak mau menyerah. Awalnya memang terasa berat apalagi banyak teman yang lebih pintar dan saya merasa minder. Tapi justru itu kesempatn bagi saya untuk memberanikan diri belajar dari mereka”, ungkap Hastu optimis.

Pencapaian putri dari Bapak Sidik Murtadi dan Ibu Sri Kusrini ini tak lantas membuatnya berhenti belajar. Dalam perjalanannya menimba ilmu di pergurun tinggi, Hastu kerap menemui hambatan. “Meski di kampus sudah ada relawan yang mendampingi proses perkuliahan, namun saya masih menemui hambatan karena tidak semua mata kuliah saya didampingi relawan, baik juru bahasa isyarat maupun notulen. Apalagi materinya cukup sulit, banyak istilah yang saya tidak pahami jadi saya harus rajin mencari tahu arti istilah itu. Untuk berkomunikasi dengan teman-teman sekelas atau dengan dosen juga masih terbatas tapi hambatan tersebut tidak menjadikan saya menyerah untuk bersemangat mendalami ilmu IT”, pungkas Hastu.[]  

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.