Lompat ke isi utama
Ilustrasi difabel netra sedang merangkum materi dengan Braille

Akses Pendidikan Formal Penting Bagi Difabel, Program Kejar Paket jadi Solusi Hambatan Batasan Usia

Solidr.id, Surakarta - Program kejar paket merupakan alternatif untuk mengejar ketertinggalan memperoleh pendidikan bagi difabel. Dikutip dari CNN Indonesia, data survei sosial ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukkan bahwa sekitar 1,6 juta difabel di Indonesia masih kurang terjamin haknya untuk memperoleh pendidikan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengetahuan pihak keluarga, kendala ekonomi, terbatasnya jumlah SLB dan belum meratanya pendidikan inklusif di Indonesia.

Menjadi insan yang berpendidikan sangatlah penting bagi setiap orang termasuk juga masyarakat difabel. Anggapan bahwa sekolah hanyalah ajang berburu selembar kertas ijazah mestinya segera diluruskan. Bersekolah merupakan jalan membekali diri dengan pengetahuan tanpa batas demi meningkatkan kualitas hidup. Jika direnungkan, betapa berlipat keterbatasan yang dimiliki difabel apabila tidak diberi kesempatan untuk bersekolah. Ilmu-ilmu yang didapatkan di sekolah sebagai pendukung  difabel untuk mencapai kesejahteraan hidup. Sebagai contoh, ketika difabel berilmu, mereka dapat bekerja, berkolaborasi dengan masyarakat nondifabel serta mampu mendidik anak-anaknya kelak agar berkepribadian baik dan berwawasan luas.

Belajar tidak mengenal batasan apapun. Begitu pula bagi difabel yang terlambat bersekolah maupun usia yang tidak muda lagi. Standar usia maksimal yang ditentukan oleh institusi pendidikan kerap kali menghalangi difabel usia dewasa untuk masuk ke sekolah regular. Solusi dari persoalan ini adalah dengan mengikuti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau program kejar paket.

Program kejar paket tersebut terdiri dari Kejar Paket A setara SD/MI, Kejar Paket B setara SMP/MTs dan Kejar Paket C setara SMA/SMK/sederajat. Ijazah yang didapat merupakan ijazah resmi negara yang diakui setara dengan ijazah sekolah formal. Oleh karena itu, ijazah ini bisa digunakan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau bekerja di sektor formal.

Landasan Hukum Program Kejar Paket

Program kejar paket pun mempunyai landasan hukum yang diatur oleh negara utamanya pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Dasar kebijakan kejar paket berikutnya yaitu UUD 1945 Pasal 28B Ayat 1 “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia”.

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan pula dengan Pasal 13 ayat (1) Jalur Pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

Pasal 26; ayat (1,2,6): turut menegaskan tentang pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat; 2) Pendidikan non formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional; 6) Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional penilaian. Setiap peserta didik yang lulus ujian program Paket A, Paket B, Paket C mempunyai hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijasah SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA untuk mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi. Berdasarkan keterangan pada pasal tersebut, pada dasarnya pendidikan nonformal disetarakan statusnya dengan pendidikan formal.

Peraturan yang menjelaskan lebih lanjut mengenai Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah menegaskan beberapa poin penting berikut: Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: a) Pendidikan Dasar, yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. b) Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Teknis Mengikuti Program Kejar Paket

Salah satu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terbesar yang mengelola Program Kejar Paket ini adalah Ristek Nusantara Jaya. Lembaga ini memberikan pelayanan secara online maupun offline yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Secara garis besar, persyaratan mendaftar program kejar paket di Indonesia hampir serupa. Dilansir dari website PKBM Nusantara Jaya, berikut persyaratan dan teknis pelaksanaan kejar paket yang bisa diikuti juga oleh masyarakat difabel.

Pada umumnya, kejar paket tidak membatasi usia pesertanya atau dengan kata lain bebas usia. Calon peserta dapat mengisi Formulir Pendaftaran di tempat pendaftaran secara langsung atau mengunduh formulirnya di website resmi lembaga tersebut lalu mengirimkannya kembali melalui surat elektronik. Dokumen yang diperlukan antara lain 5 lembar fotocopy Akte Kelahiran dan ijazah terakhir, foto Ukuran 3x4 (10 lembar) dengan background merah dan mengenakan kemeja putih untuk keperluan ijazah.

Program ini bisa diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia maupun luar negeri. Pihak dari PKBM ini pun menyatakan siap memberikan aksesibilitas pelaksanaan ujian apabila ada difabel yang ingin mengikuti program kejar paket di lembaga mereka.

“Kalau calon peserta tidak dapat hadir di kelas, buku-buku akan dikirimkan ke alamat si pendaftar. Lalu, untuk difabel nanti bisa dilakukan penyesuaian sesuai kebutuhan saat ujian,” jelas pengelola PKBM Nusantara Jaya yang ada di Yogyakarta.

Selain itu, calon peserta diharapkan sudah memiliki kemampuan dasar baca tulis dan berhitung. Kegiatan belajar biasanya dilaksanakan setiap hari Sabtu - Minggu kelas pagi 08.00 -13.00; Siang 13.00 -17.00; Malam 17.00 s/d 22.00. Biayanya pun relatif terjangkau jika dibandingkan dengan biaya pendidikan di sekolah regular.

Dengan demikian, masyarakat difabel yang terlambat sekolah atau belum pernah bersekolah sebelumnya masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan. Dengan kata lain, tidak ada batasan bagi difabel untuk memperkaya diri dengan ilmu untuk hidup yang lebih layak.

 

reporter: Agus Sri

editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.