Lompat ke isi utama
ilustrasi World Physical Terapy Day,

World Physical Terapy Day, Pentingnya Terapi bagi Difabel

Solider.id, Bandung – Istilah terapi sudah sangat dikenali masyarakat difabel. Secara umum, untuk beberapa jenis kedifabelan terapi merupakan sebuah proses pengobatan yang wajib dilakukan. Hal ini dilakukan agar mencegah rasa kaku atau mencegah memperparah dari kondisi sebelumnya.

Fisioterapi merupakan sebuah proses merehabilitasi seseorang agar terhindar dari cacat fisik melalui serangkaian pencegahan, diagnosis, serta penanganan untuk menangani gangguan fisik pada tubuh akibat cedera atau penyakit. Tujuannya untuk mengembalikan fungsi tubuh setelah terkena penyakit atau cedera. Jika pun permanen dengan fisioterapi dapat mengurangi dampaknya.

Masyarakat difabel yang membutuhkan layanan fisioterapi secara berkala dan rutin seperti Cerebral Palsy (CP), suatu kelainan kongenital pada gerak, otot, atau postur. Sindrom Guillain Barre (GBS), kondisi saat sistem kekebalan tubuh menyerang syaraf dipicu oleh bakteri akut atau infeksi virus. Dan difabel lainnya yang memilihi hambatan pada gerak menjadi kaku.

Sejak perkembangannya, fisioterapi banyak dirasakan sangat bermanfaat selain oleh masyarakat difabel, juga oleh para lanjut usia. Pada  tanggal 8 September dipilih sebagai Physical Terapy Day untuk menandai didirikannya World Confederation for Physical Therapy (WCPT) pada tahun 1951 silam.

Menurut Rizab Firmansyah Amd. Ft, S Ft, masyarakat awam masih jarang yang mengetahui peringatan hari fisioterapi tersebut. Namun, bagi profesi fisioterafis merupakan sebuah bentuk penghormatan terhadap jasa profesi fisioterapi sedunia.

Dari banyaknya menangani terapi pada masyarakat difabel, Rizab menuturkan, CP dan GBS termasuk jenis kedifabelan yang membutuhkan layanan terapi secara rutin dan berkala. Mengembalikan fungsi gerak, atau meminimalisir rasa kaku menjadi prioritas dalam melakukan terapinya.

Untuk melakukan sebuah tahapan terapi, masyarakat difabel tentu mesti mengalokasikan waktu luangnya. Selain itu, membahas sisi biaya, terapi membutuhkan biaya yang tidak dapat dikatakan ringan. Durasi per-jam atau sistem paket pertemuan biasanya memerlukan dana yang cukup besar dari ratusan ribu hingga jutaan.

Menyadari mahalnya biaya terapi, Rizab sering kali melakukan praktik layanan terapi tanpa pungutan biaya, selain tergabung dalam rehabilitasi berbasis masyarakat (RBM) kota Cimahi. Terlebih, kepada masyarakat difabel yang kerap menggunakan jasa layanan terapinya. Ia pun sering berbagi tips atau cara sederhana untuk menerapis secara pribadi pada pasiennya agar dapat mandiri. Membagi informasi melalui workshop, dan lainnya. Tentu dengan terus berkonsultasi terkait tahapan perkembangannya. Gerakan-gerakan ringan layaknya olah raga sangat membantu memperlambat rasa kaku.

Mahalnya biaya terapi untuk difabel Cerebral Palsy (CP) pun dituturkan orang tua Sarwendah. Khusus untuk melakukan terapi, setiap bulannya mereka menyisihkan anggaran khusus yang wajib ada. Nominal satu hingga dua juta rupiah, belum termasuk biaya transportasi dan lainnya.

“Terapi merupakan keharusan. Sebab, jangankan berhenti terapi, terlambat atau terlewatkan dalam satu bulan saja misalnya, rasa kaku dan badan yang menjadi terasa berat pun terjadi,” jelasnya.

Diakui masyarakat difabel pengguna layanan terapi, para terapis memiliki peranan penting dalam turut menghambat rasa sakit, kaku dan membantu kelenturan gerak mereka.

Dalam rangka Physical Terapy Day, Rizab berharap semoga para fisioterapis Indonesia senantiasa selalu bisa memberikan yang terbaik dalam pelayanan terhadap masyarakat yang membutuhkan terapi. “Kami fisioterapi Indonesia siap bergerak, bermanfaat dan bermartabat. Salam fisioterapi,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.